review buku


Judul buku     : Di Bawah Bendera Asing: Liberalisasi Industri Migas di Indonesiadi bawah bendera asing

Penulis            : M Kholid Syeirazi

Tebal               : xxi + 328 halaman

Harga              : Rp 83.000

Penerbit          : Pustaka LP3ES Indonesia

Tahun Terbit  : 2009

Jika kampanye pemilihan presiden yang baru saja usai telah sukses memopulerkan kata neoliberalisme dan ranah perdebatannya yang bersifat konseptual, maka buku ini sukses menghadirkan neoliberalisme dalam wilayah yang lebih konkret dengan memotret secara gamblang bagaimana ia beroperasi melalui UU Migas No 22 Tahun 2001, bagaimana konfigurasi kesejarahannya, siapa-siapa saja aktor yang terlibat di dalamnya, dan pada akhirnya kerugian seperti apa yang ditimbulkan bagi sebuah bangsa dan rakyat secara keseluruhan.

Sektor migas adalah sektor yang aneh. Pengalaman bangsa-bangsa Amerika Latin seperti dicatat oleh Eduardo Galeano dalam Open Veins of Latin America: Five Centuries of the Pillage of a Continent (1997) menunjukkan hal tersebut. Harga minyak dimanipulasi sedemikian rupa dalam skala internasional agar tetap dapat mempertahankan pajak yang murah, sementara industri hilir semakin mahal hitungannya. Dalam bisnis ini, negara-negara kaya sebagai importir minyak mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan negara-negara miskin di Amerika Latin sebagai produsen. Perbandingannya hampir tidak masuk akal, 10 berbanding 1. Artinya, untuk setiap 11 dollar AS, negara produsen hanya mendapatkan total 1 dollar AS saja untuk pajak dan biaya ekstraksi, sementara negara maju yang menjadi pusat perusahaan-perusahaan raksasa menikmati 10 dollar AS yang lainnya melalui bisnis transportasi, pengilangan, pemurnian, penyimpanan, dan distribusi.

(more…)

Pada 19 April 2009 yang lalu harian KOMPAS pada halaman 1 memuat foto Presiden Venezuela, Hugo Chavez, mau berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, di Forum Negara-Negara Amerika yang berlangsung di Trinidad dan Tobago. Chavez adalah simbol kebangkitan faham neososialisme di Amerika Latin pada dekade belakangan ini. Obama adalah pemimpin baru AS yang menjanjikan akan menampilkan wajah yang lebih ramah bagi dunia. Foto tersebut semakin terasa simbolis karena terlihat bahasa tubuh Chavez yang hangat bersahabat, tangan terjulur siap bersalaman, tetapi dengan tatapan menggugat yang langsung menghujam ke arah mata Obama. Sementara itu, Obama terlihat gamang menatap ke arah buku yang berjudul Las venas abiertas de America Latina, yang dalam kesempatan itu diberikan Chavez kepada Obama (foto 1).

Foto yang dipajang dimana2 ketika obama dan chavez salaman. dicopy dari KOMPAS

Foto yang dipajang dimana2 ketika obama dan chavez salaman. dicopy dari KOMPAS

Ada dua kemungkinan mengapa Obama menunduk melihat ke arah buku itu. Pertama, mungkin saja Obama belum mengetahui dan sangat tertarik dengan buku yang akan diberikan oleh Chavez tersebut kepadanya, atau kedua, bisa jadi Obama sudah mengetahui buku tersebut sebelumnya, dan karenanya ia tak kuasa menatap mata Chavez secara langsung. Tampaknya yang paling memungkinkan adalah pilihan kedua, sebab tidak masuk akal rasanya orang sekelas Obama tidak tahu keberadaan salah satu buku yang paling berpengaruh di kawasan Amerika Latin tersebut. Apa sebenarnya isi buku itu?

Las venas abiertas de America Latina yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Open Veins of Latin America: Five Centuries of the Pillage of a Continent (Menguak Tabir-tabir Amerika Latin: Lima Abad Perampasan Sebuah Benua), adalah buku pertama jurnalis Uruguay, Eduardo Galeano. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1971 dalam bahasa aslinya, dan kemudian pada tahun 1998 diterbitkan dalam Bahasa Inggris dengan kata pengantar singkat dari sastrawati Chile, Isabel Allende.

(more…)

Tak banyak orang yang percaya kalau dikatakan bahwa menyimpan kenangan pahit jauh lebih menyakitkan daripada kena peluru panas sekalipun. Sekali orang kena peluru panas, kemungkinan besar ia akan mati, hingga hilang perih pedih. Sekali orang didera kenangan pahit, seumur hidup ia akan dikuntit.   

Atau pun mungkin, sebenarnya bukan karena orang tidak percaya, tetapi lebih karena orang-orang tidak banyak yang menaruh perhatian pada bagaimana kenangan beroperasi dalam kepala kita dan mempengaruhi semua tindakan kita. Tidak seperti uang yang habis kalau dibelanjakan, tetapi kenangan adalah abadi. Meski tidak ada wujudnya, tetapi kenangan tak pernah habis. Bisa jadi, pada waktu-waktu tertentu kita melupakan sebuah kenangan, tetapi tidak ada jaminan bahwa di saat yang lain kenangan yang telah kita lupakan itu tidak akan muncul lagi menguntit setiap detik kehidupan kita. Alih-alih terlupakan, sebuah kenangan, bisa jadi, meski sudah lama tak berkelebat dalam ingatan kita, suatu ketika akan muncul jauh lebih jelas, jauh lebih detil. Meski begitu, seperti peluru yang juga tak kuat menembus lapis baja, kenangan pahit pun bukan tak memiliki peredamnya, barangkali ia luluh oleh ketulusan.

Cover dicopy dari amazone.com

Cover dicopy dari amazone.com

Membicangkan kenangan mungkin adalah pintu yang paling pas untuk mempelajari novel The Shadow of the Wind (TSW) karangan penulis Spanyol, Carlos Ruiz Safón. TSW adalah sebuah buku yang sangat kompleks, tetapi mengalir. Alur yang dibangun sangat rumit dan beranak-pinak, “bahkan subplot pun memiliki subplot,’ komentar Stephen King.  Selain kemampuan menyusun plot yang beranak-pinak dan eksplorasi terhadap kenangan yang menjadi tema sentral novel ini seperti yang akan kita lihat nanti, hal lain yang sangat layak dihormat dari Safón adalah kemampuan teknis menulisnya yang tidak membosankan. 

 

 

Safón selalu saja punya cara untuk tidak membuat pembacanya bosan. Ketika ia mengintrodusir seorang tokoh Bea ke dalam cerita misalnya, Safón menggunakan variasi yang sangat genius.  “Thomas had a sister, Beatriz,” demikian Safón mulai memperkenalkan Bea sebagai adik Thomas, salah seorang tokoh lain yang sudah diceritakan sebelumnya. Masih dalam alinea yang sama, ia kemudian melanjutkan, “Bea Aguilar was the very image of her mother and the apple of her father’s eye.” Setelah mendeskripsikan penampilan fisik Bea, meliputi rambutnya yang kemerahan, matanya yang biru kehijauan, dan lain-lain, Safón kemudian menutup pengenalan Bea ini dengan kalimat, “Bea had a boyfriend…,”. Cara memperkenalkan ini sangat variatif. Tanpa mengatakan bahwa tokoh baru yang dikenalkannya memiliki nama kecil Beatriz, nama lengkapnya Bea Aguilar dan akrab dipanggil Bea, Safón berhasil menyampaikan kepada pembacanya bahwa Bea adalah nama panggilan dari Bea Aguilar yang memiliki nama kecil Beatriz.  Variasi-variasi seperti ini banyak bertaburan pada sepanjang novel ini. Termasuk variasi dalam membuat plot yang beranak-pinak tanpa terjebak kerumitan yang membingungkan pembaca. Safón selalu saja menemukan media yang pas untuk menggelontorkan semua subplotnya, kadang-kadang melalui penceritaan langsung, kadang-kadang melalui surat satu orang tokoh ke tokoh yang lain dalam cerita, kadang-kadang melalui percakapan antar tokoh, dan bahkan dengan media dokumen.

(more…)

Penulis : Émile Zola

24

 

Tahun Terbit : Maret 2002

 

Penerbit : Jendela (Yogyakarta)

Tebal : 448+xvi

 

Kategori : Kesusastraan

 

 

Karya sang realis Prancis ini bercerita tentang kehidupan para buruh kasar di sebuah pertambangan batubara di Prancis. Dari novel ini kita dapat mengetahui dengan detil kehidupan yang dialami oleh para buruh kasar pertambangan. Pengalaman kehabisan roti, bekerja di dalam lubang-lubang bawah tanah yang gelap dan kekurangan zat arang dengan badan yang hampir dapat dipastikan telah menjadi hitam semuanya akibat berlumuran batubara, beserta bahaya longsornya lubang dan banjir yang setiap saat selalu mengintai menagih nayawa mereka. Di lain pihak, peta politik antarnegara menyebabkan para pemilik modal tak tahu harus menjual kemana stok batubara mereka. Ini berarti kesengsaraan yang semakin menyayat bagi para buruh kasar, dan pada akhirnya mereka berteriak-teriak kelaparan: “Roti! Roti!! Roti!!!” bagi Zola, mereka sebenarnya bukan hanya berteriak tentang roti, tetapi lebih jauh dari itu, mereka meneriakkan revolusi.

Next Page »