Sastra dan Kebutuhan Terhadap Orang Gila   1 comment

Dari 12 cerita pendek (cerpen) dalam antologi Shinigami, cerpen berjudul Langit Kecil karya Fitriyani adalah cerpen yang paling berkesan bagi saya. Dengan menyatakan cerpen ini “paling berkesan” bukan berarti secara otomatis saya menyatakan cerpen-cerpen yang lain tidak berkualitas. Logika “otomatis” seperti itu tidak berlaku dalam dunia kepengarangan. Kesan pembaca adalah satu hal, kualitas cerpen adalah hal yang lain. Kesan pembaca sangat tergantung pada pengalaman subyektif seorang pembaca. Sedangkan kualitas cerpen ditentukan oleh banyak hal yang lain, sebut saja beberapa misalnya, efisiensi pemilihan kata dan kalimat serta rasa yang ditimbulkannya, kemenerusan dan kerapatan logika cerita, dan bagaimana sang pengarang mendisain arsiektural cerpennya. Saat ini saya menyukai cerpen karangan Fitriyani, bisa saja di lain waktu saya tak suka cerpen lain karya pengarang satu ini. Tak masalah. Setiap cerpen memiliki takdirnya sendiri. Di atas itu, tidak semua karya menjadi masterpiece bahkan bagi para pengarang sekelas Pram, F. Scott Fitzgerald, Raymond Carver, atau bahkan Anton Chekov sekalipun.

Cerpen Langit Kecil menjadi istimewa bagi saya terutama karena perbedaan perspektif yang dibangun berupa sudut pandang tokoh idiot yang menjadi pilihan pengarang dalam menyampaikan ceritanya. Kepada perbedaan perspektif yang diambil inilah, ditambah berbagai elemen kreatif lainnya, tulisan ini akan fokus dan dipersembahkan.

Langit Kecil menceritakan seorang tokoh aku bernama Gadis yang sampai usianya yang 17 tahun hidup disekap dalam ruangan tanpa atap berukuran 4×4 meter. Sejak kecil Gadis hanya mengenal Ibunya. Dunia dikenalnya melalui cerita sang Ibu. Hingga suatu ketika seorang lelaki datang memberitakan bahwa ada langit yang lebih indah dibandingkan dengan langit di ruangan 4×4 meter. Si Gadis gundah. Penasaran. Pada bagian akhir diceritakan bahwa ruangan tempat si Gadis disekap diruntuhkan oleh lelaki pembawa kabar itu. Dan melalui omongan orang lain, diketahui bahwa si Gadis disekap ibunya karena ia idiot.

Dari segi teknik, bagi saya membaca Langit Kecil terasa menyenangkan. Kata demi kata relatif efisien tanpa mengalami defisit estetika. Kadang-kadang ada cerpen yang terlalu banyak mengumbar ornamen. Padahal, “kalau sebuah pistol disebutkan dalam sebuah cerpen,” demikan Anton Chekov dalam sebuah kesempatan, “maka ia harus ditembakkan.” Maksud yang saya tangkap dari apa yang disampaikan Chekov tersebut adalah, bahwa sebuah cerpen, karena ia pendek, haruslah didisain agar efisien dalam penggunaan kata, tanpa menepikan keinginan si pengarang dalam menyampaikan detil cerita yang ia dedahkan.

Dalam pengalaman saya membaca cerpen, apa yang disampaikan Chekov tersebut benar-benar saya rasakan artinya. Kadang-kadang dalam membaca sebuah cerpen di surat kabar, saya tidak sabar membacanya sampai habis karena cerpen tersebut terlalu bertele-tele dan tidak langsung menyampaikan ceritanya secara padat. Terlalu banyak ornamen itu tadilah, sehingga struktur utama menjadi kabur, atau minimal menjadi sulit dipahami.

Dan tentu saja, pengalaman “tidak menyelesaikan membaca sebuah cerpen” dari seorang pembaca, adalah kecelakaan yang sangat fatal akibatnya baik bagi seorang pengarang, pun bagi pembaca. Karena, bagaimana kita berharap akan timbul reaksi di pihak saya  (sebagai pembaca), kalau membaca cerpen saja saya tidak sanggup menyelesaikannya? Dengan kata lain, cerpen tersebut telah gagal menjalankan fungsinya sebagai medium komunikasi bagi seorang pengarang dengan pembacanya. Karena sementara itu, saya sendiri masih percaya dengan apa yang dikatakan oleh pengarang Uruguay, Eduardo Galeano, bahwa “salah satu alasan pengarang untuk menulis adalah untuk menjalin komunikasi dengan orang lain”. Meskipun tidak menutup kemungkinan debat bahwa sayalah sebagai pembaca yang gagal menyelesaikan tugasnya.

Problematik memang. Di satu sisi, karena saya—seperti halnya kebanyakan pembaca—bukanlah kritikus sastra yang kadang-kadang meskipun tidak senang dengan sebuah cerpen tetapi menahan diri untuk menyelesaikan membacanya karena kepentingan untuk mengetahui perkembangan kreativitas seorang pengarang. Saya hanyalah seorang pembaca yang mencari kesenangan dari lembaran-lembaran sebuah cerita pendek. Dan tampaknya, pembaca yang seperti saya jauh lebih banyak daripada pembaca cerpen yang memang seorang kritikus sastra yang kritis dan mampu menahan diri tadi. Di sisi lain, dalam keadaan yang begitu, dengan keterbatasan ruang dan ketaksabaran pembaca, seorang pengarang cerpen dituntut untuk berkarya dan berkomunikasi dengan pembacanya melalui medium cerpen yang telah menjadi pilhannya. Sembari, kalau memungkinkan, mengutip Haruki Murakami, “pengarang mendapatkan kesenangan dari proses menulis cerpen”.

Dari segi cerita cerpen Langit Kecil menjadi menarik karena disampaikan melalui sudut pandang orang yang disekap. Bagi si Gadis tak ada yang aneh dengan langitnya yang 4×4 meter sebelum ada orang lain yang datang kepadanya. Langitnya sangat indah. Melebihi apapun. Hingga semua buyar ketika ada lelaki yang datang dan mengatakan bahwa langitnya tidak indah dan ada langit yang lebih indah di luar sana. Pendek kata, sebelum kedatangan lelaki itu yang memberikan ‘label’ tidak indah pada langit si Gadis, sebenarnya hidup si Gadis lancar-lancar tanpa masalah.

Kejadian seperti itu, ketika orang datang dan mengatakan sesuatu, sangat lazim terjadi. Bahkan dalam lanskap yang lebih luas hal itu terjadi dalam ilmu pengetahuan, dimana ada orang yang menyatakan sesuatu, melakukan ‘pelabelan’ atas kondisi yang sedang berjalan, dan ada pihak yang dinyatakan atau ‘dilabeli’. Pelabelan seperti ini menjadi masalah sejak Edward Said memberitahu kita bagaimana para orientalis bekerja. Pada awalnya adalah pelabelan dan kategorisasi, selanjutnya adalah penaklukan dan penguasaan.

Pembanding yang sangat bagus dapat kita temukan pada sebuah novel karya Jamaica Kincaid berjudul A Small Place yang mengambil setting di Antigua. Dalam A Small Place diceritakan persoalan warga asli Antigua yang didatangi oleh kolonial Inggris. Sebelum kedatangan Kolonial, orang-orang di Antigua hidup dengan tenang (seperti halnya si Gadis dengan ruang 4×4-nya). Lancar-lancar tanpa masalah. Akan tetapi setelah Kolonial datang, maka mereka menjalankan beberapa proyek imperialisme yang kadang berkedok “pemberadaban”. Pemberadaban versi mereka pada intinya adalah, karena orang-orang Antigua  ‘belum beradab’ maka mereka harus dibuat menjadi ‘lebih beradab’ seperti Inggris. Maka dibangunlah perpustakaan, rumah sakit, dan sekolah. Kita tahu bahwa perpustakaan, rumah sakit dan sekolah adalah surga bagi para orientalis. Sebenarnya tidak ada masalah di Antigua sebelum Inggris datang. Akan tetapi setelah Inggris datang dengan misi “pemberadabannya”, maka berbagai masalah kemudian mengemuka, sebut saja impor tradisi koruptif, individualis dan serakah yang diidap oleh perdaban Barat yang telah melahirkan imperialisme dan kolonialisme.

Langit Kecil, dalam pembacaan yang begitu, kurang lebih sama saja. Lelaki yang datang merasa bahwa langit kecil si Gadis kurang indah, karenanya ia harus menunjukkan langit di luar sana yang lebih indah. Dengan kata lain, si lelaki mengambil peran sebagai orang yang menunjukkan jalan ke arah “langit yang lebih indah di luar sana”. Padahal, pada bagian penutup cerita, pembaca diberi tahu bahwa kemudian si Gadis berhadapan dengan permasalahan yang lebih besar karena harus menerima kenyataan bahwa menurut “bisik-bisik orang banyak“ ia seorang yang idiot. Suatu hal yang tak pernah menjadi masalah baginya selama 17 tahun di bawah langit 4×4 meternya.

Tidak mudah membangun cerita melalui perspektif orang yang disekap dalam ruang tanpa atap 4×4 meter. Dari cerita yang dibangun, pembaca jadi sadar bahwa seseorang seperti Gadis yang melalui “bisik-bisik orang banyak” dinyatakan sebagai orang yang idiot, ternyata memiliki pemaknaan sendiri terhadapa dunianya. Baginya dunia sekapan 4×4 meter tanpa atap adalah dunia yang indah, meskipun oleh orang lain itu justru dianggap sebagai masalah. Ia memiliki pemahaman sendiri tentang dunianya.

Langit Kecil mengingatkan saya pada sebuah film berjudul Shutter Island yang diangkat dari sebuah novel karangan Dennis Lehane. Shutter Island bercerita bahwa  orang yang dikatakan gila secara medis juga memiliki pemahaman sendiri terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Bagi tokoh utama dalam film Shutter Island, terapi yang dijalankan padanya adalah sebuah proyek cuci otak yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terlibat dalam kerja-kerja intelijen. Sementara bagi orang-orang di sekelilingnya, mereka sedang melakukan usaha penyembuhan. Dua narasi ini sama-sama hidup dan sama-sama memiliki rasional masing-masing.

Dalam kasus-kasus personal, implikasi dari adanya perbedaan cara pandang, yang kemudian diikuti oleh pelabelan seperti kasus si Gadis dalam Langit Kecil atau kasus terapi dalam film Shutter Island, hanya pada wilayah personal dan mengakibatkan seseorang harus menjalani terapi. Yang penting kita cermati di sini adalah logika. Logika pelabelan adalah cara kerja dominasi yang pada akhirnya menimbulkan multilapis peminggiran. Saya tidak mau mengatakan bahwa menjadi orang gila adalah hal yang membanggakan, akan tetapi kadang-kadang kita membutuhkan perspektif orang gila agar dapat melihat sesuatu dengan lebih menyeluruh. Yang ingin saya lakukan dari awal adalah, mengajak pembaca untuk melihat implikasi pelabelan seperti di atas dalam wilayah sosial yang lebih luas.

Contoh paling gampang adalah bagaimana proyek pemberadaban dilakukan di kalangan pesastra Afrika seperti yang berkali-kali dikeluhkan oleh Ngugi wa Thiong’o. Ngugi sangat menyesali pelabelan negara-negara di Afrika sebagai “negara penutur Bahasa Perancis” atau “negara penutur Bahasa Inggris” sebagai warisan zaman kolonial. Karena bersamaan dengan adanya pelabelan tersebut, menggelayut pula logika, dominasi, serta berbagai proyek pemberadaban yang pada akhirnya menyebabkan lenyapnya berbagai macam khasanah ke-Afrikaan yang terbawa dalam tradisi sastra lisan (oral literature atau orature) Afrika.

Contoh yang disampaikan Ngugi adalah kasus pada tahun 1962. Pada tahun itu berlangsung pertemuan para penulis Afrika di Universitas Makrere, Uganda. Pertemuan itu mereka beri tajuk A Conference of African Writers of English Expression. Pertemuan ini dibatasi bagi mereka yang menulis dalam Bahasa Inggris. Ngugi yang pada saat itu baru menulis dua cerpen dalam Bahasa Inggris dan dipublikasikan pada jurnal pelajar, Penpoint, berhak menjadi peserta pertemuan tersebut, sementara Shabaan Robert, salah seorang penyair besar Afrika yang sudah menulis banyak sekali syair dalam Bahasa Kiswahili, atau Chif Fagunwa penulis besar Nigeria yang menulis dalam Bahasa Yoruba, dengan sendirinya tidak berhak mengikuti pertemuan. Di sini kita melihat bahwa Bahasa Inggris sudah berubah menjadi Bahasa satu-satunya (The Language) dan mememangkan kontestasi di ruang publik. Sementara bahasa-bahasa lokal Afrika terpinggirkan sehingga para penulisnya tak berhak ikut konferensi.

Apa akibatnya? Di Kenya, seperti yang dicatat oleh Ngugi dalam buku Decolonising the Mind dan Moving the Centre, pelabelan negara penutur Bahasa Inggris juga diikuti oleh penjejalan berbagai mata pelajaran yang disampaikan dalam Bahasa Inggris ke dalam kurikulum resmi mulai dari pendidikan dasar sampai tinggi. Dampak yang paling memiliki signifikansi material salah satunya adalah ketakmampauan generasi muda mengakses berbagai macam cara pengobatan tradisional yang terawetkan dengan baik dalam tradisi orature. Dengan lenyapnya tradisi itu, maka mereka menjadi tergantung pada pengobatan modern á la Barat yang tentu saja mewajibkan mereka harus mengeluarkan sejumlah uang untuk mengaksesnya. Ini adalah salah satu kerugian yang sangat besar bukan hanya di pihak bangsa-bangsa Afrika yang kemudian mengalami ketergantungan terhadap obat-obatan modern, tetapi juga secara keseluruhan bagi akumulasi pengetahuan global.

Dengan kerangka yang demikanlah saya melihat pentingnya cerpen dengan perspektif tokoh yang idiot seperti Langit Kecil. Karena yang kita butuhkan adalah membalik arus dengan cara menghadirkan narasi dari kalangan yang selama ini menjadi obyek deskripsi: narasi orang gila terhadap orang normal; narasi bangsa bekas jajahan kepada bekas penjajahnya; hingga pada akhirnya narasi sub-altern terhadap kalangan dominan. Di wilayah ini sastra adalah panglima, karena ia hadir sebagai medium yang paling tepat untuk melakukannya.

Hanya saja, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Langit Kecil dan pengarangnya, dengan cara membaca seperti di atas rasanya cerpen Langit Kecil masihlah seperti puzzle yang belum selesai disusun. Terutama karena pada akhir cerita tokoh Aku dipersepsikan ‘kalah’ dengan buyarnya langit kecil dalam ruang berukuran 4×4 meter. Tokoh aku tidak sempat melakukan ‘perlawanan’ yang sebenarnya dapat dilakukan dengan cara membangun cerita bagaimana ‘dunia yang indah di luar sana’ milik orang normal dalam pengamatan si Gadis yang idiot.

Dalam hal ini Langit Kecil masih kalah dengan Half of the Yellow Sun karya Chimamanda Ngozi Adichie yang secara sinis memotret kehidupan kalangan atas dan kulit putih melalui penuturan seorang anak kampung dari pedalaman Nigeria pada masa perang sipil Biafra. Atau bahkan kalah sangat jauh dibandingkan dengan The Comfort of Madness karya Paul Sayer yang secara liris mengejek para pekerja rumah sakit dan orang-orang normal di sekelilingnya melalui penceritaan sang tokoh yang gila.

Pada akhirnya, saya tak punya alternatif untuk menutup tulisan ini kecuali dengan mengucapkan terima kasih kepada orang gila yang melalui karya sastra memberitahu kita bahwa kita membutuhkannya bukan saja karena ia dapat membalik arus deskripsi dan melawan logika mainstream seperti di atas, lebih jauh kita butuh itu karena jangan-jangan memang kita hidup dalam sebuah zaman yang gila dimana logika normal tidak akan pernah mampu memberikan jawaban yang solutif bagi semua yang tengah terjadi.

***

Tulisan ini dipresentasikan pertama kali pada launching antologi cerpen Shinigami di Taman Budaya Jawa Tengah, 25 Juni 2010; dan dimuat di Buletin Pawon Sastra Solo, Nomer 31/Tahun III/2010.

Posted Desember 4, 2011 by annelis in Sastra

One response to Sastra dan Kebutuhan Terhadap Orang Gila

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Sepakat. Ajarin nulis bahasa Indonesia yang banyak, Bos…Hehe…Carver, hmmm, Said, hmmm. Jadi minder :P

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s