Akhirnya, setelah lama tertunda, saya memulai juga menulis pengantar untuk kumpulan cerita pendek (cerpen) berbahasa Mandailing ini. Ada sebanyak 58 cerpen karya 6 orang pengarang Mandailing yang mereka beri nama Folklore Mandailing Kontemporer. Saya sendiri, memutuskan menulis pengantar ini dalam Bahasa Indonesia karena dua alasan. Pertama, secara personal, saya merasa lebih nyaman menulis dalam Bahasa Indonesia, lingkungan yang telah membesarkan tradisi literer saya. Kedua, tampaknya ke depan buku ini bukan hanya akan menjadi buku cerita, dibaca, tertawa dan selesai, tetapi juga akan menjadi salah satu teks rujukan bagi orang di luar Mandailing yang ingin memahami Mandailing, seperti yang akan kita lihat nanti. Dan pengantar ini akan menemukan fungsinya: menjadi penghubung bagi orang luar yang ingin belajar tentang Mandailing melalui buku ini.
Lantas, apa guna menulis cerita dalam Bahasa Mandailing ketika dunia menuju ke satu arah diringkus oleh teknologi informasi dan komunikasi di satu sisi, dan dijembatani oleh Bahasa Inggris di sisi yang lain? Justru di situlah relevansi utama buku ini. Ia memiliki dua fungsi, ke dalam dan keluar sekaligus. Ke dalam ia akan berguna bagi orang seperti saya, yang mencoba mengenal Mandailing lebih jauh melalui karya sastra. Tentu saja bukan sebagai wahana konservasi budaya yang secara gagap sering terjebak pada nostalgia dan cara pandang eksotisme khas orientalis, tetapi lebih kepada sebuah palka pencapaian. Konsekuensi lebih jauh adalah kita, para pembaca, terhindar dari arus penyeragaman budaya yang secara masif dan menyedihkan menempatkan etnisitas dalam wilayah yang tak proporsional—untuk tidak menyebutkan marjinal. Ke luar, ia akan berguna sebagai salah satu titian bagi orang yang mencoba memahami Mandailing.
Membaca ke-58 cerpen ini adalah sebuah perjalanan untuk mengenal Mandailing lebih dekat. Meskipun saya dilahirkan dan dibesarkan di Tanah Mandailing, akan tetapi, saya percaya—dan memang begitu—bahwa masih banyak detil-detil budaya Mandailing yang belum saya ketahui. Tidak saya ketahui bukan berarti saya tidak mengenalinya, karena ketika salah satu cerpen dalam buku ini menyebutkan sesuatu yang baru bagi saya, saya langsung merasa akrab dengan hal tersebut. Saya percaya ini bisa terjadi karena apa yang tertera dalam buku ini adalah orisinil Mandailing, dengan demikian, tanpa proses perkenalan pun, saya langsung bisa mengerti dan berseru, “aha…ini dia nih”. Saya tak perlu repot-repot memahaminya, karena apa yang diperbincangkan dalam buku ini sudah ada tersedia dalam referensi budaya personal saya.
Sementara itu, sastra, meskipun merupakan hasil imajinasi, pada dasarnya adalah abstraksi dari realitas yang ada. Seorang pengarang memungut kecil demi kecil pengalamannya, diolah, dan kemudian disulam dalam bentuk karya di hadapan pembaca. Dalam proses memunguti dan menyulam itu, tentu saja ada proses penyortiran dan inovasi. Ada kalanya sebuah fakta yang pernah terjadi dalam kehidupan nyata yang, dengan berbagai alasan tertentu misalnya kelogisan alur cerita (atau justru ketidaksabaran pengarang membangun alur?), tidak dimasukkan ke dalam sebuah karya. Proses yang ini kita sebut penyortiran. Sebaliknya, sekali waktu seorang pengarang, laiknya engineer, melakukan inovasi. Bisa jadi inovasi secara total dari akar kejadian pengalaman pengarang yang ada dalam realitas menghasilkan sesuatu yang sama sekali baru, atau juga inovasi sebagian dengan masih menyisakan realitas yang terlacak akarnya di dunia nyata dalam hasil akhir mereka berupa karya.
Dari sudut pandang seperti itulah cerpen-cerpen ini menemukan relevansinya dalam perbincangan identitas kemandailingan. Sebagian besar cerpen-cerpen ini tidak membicarakan cerita besar, atau proyeksi-proyeksi budaya ke depan tentang kemandailingan. Cerpen-cerpen dalam buku ini kebanyakan adalah realita sehari-hari kehidupan masyarakat Mandailing seperti yang dapat kita temukan dalam cerpen berjudul Tarbakok karya Irsan Rangkuti. Meskipun tentu saja ada juga cerita yang ditulis (tampaknya) dengan tendensi tertentu yang lebih khusus seperti cerpen-cerpen Edi Nasution, Tagor Lubis dan Diaru Nasution. Edi Nasution memasukkan fundamen-fundamen kebudayaan Mandailing dalam cerita-ceritanya, tentu saja sesuai dengan yang ia fahami. Hal ini misalnya dapat dibaca dalam cerpen Alame na Mosok, Marangka Maranggi, Lian…Palu Gordang i!!!, dan Alak Mandala Holing. Sementara itu, Tagor Lubis dalam Bayo Panjala dan Diaru Nasution dalam Suratan ni Dongan Mangomo menekankan semangat orang tua di Mandailing dalam menyekolahkan anak-anak mereka.
Secara keseluruhan, dalam catatan saya, ada beberapa tema yang selalu hadir dan berulang dalam banyak cerpen dalam buku ini. Pertama dari segi isi, adalah tema humor yang menyelinap pada hampir setiap karya. Kedua, lopo (warung) hadir sebagai setting ruang tempat terjadinya cerita, dan ketiga tema Bulan Puasa yang menjadi setting waktu terjadinya drama-drama sosial dalam cerita-cerita ini. Dari ketiga repetisi itulah saya akan mencoba melakukan rekonstruksi terhadap identitas kemandailingan yang hidup dan mengalir di tengah-tengah masyarakat Mandailing.
Humor Mandailing adalah humor yang khas yang tampaknya tidak akan dapat dinikmati oleh orang di luar Mandailing, atau syarat minimal untuk menikmatinya adalah orang yang bergelut lama dan hidup di tengah-tengah tradisi Mandailing. Untuk itu saya ambil contoh salah satu cerpen yang ditulis oleh Jasinaloan dengan judul Maradu Beteng Muntut. Saya memilih untuk tidak menerjemahkan ataupun menceritakan ulang isi cerpen tersebut ke dalam Bahasa Indonesia. Karena ketika saya mencoba untuk melakukan hal itu, ada rasa malu di dalam diri saya melakukannya. Biarlah audiens Mandailing saja yang dapat menikmatinya. Mungkin untuk ukuran-ukuran standar orang di luar Mandailing, apa yang diceritakan dalam cerpen tersebut tidaklah lucu. Mungkin, andaikata ada orang yang memahaminya, cerpen tersebut akan dikatakan jorok. Akan tetapi bagi saya, justru cerpen tersebut sangat lucu. Ketika saya membacanya, saya langsung terbahak-bahak sendiri.
Itulah dunia Mandailing. Dunia yang, ketika informasi sudah mengintrusi lapis terdalam dari hampir semua peradaban yang ada di seluruh dunia dan melakukan penyeragaman di sana, masih tetap eksis dengan cita rasanya yang sangat kental, minimal dalam cerita. Bagi orang lain mungkin suasana yang dibangun dan humor yang didedahkan agak naif. Akan tetapi sepertinya justru di dalam kenaifan itulah identitasnya. Para tokoh yang ditampilkan dalam cerita hidup dalam dunia mereka yang, meskipun naif, gembira. Mereka membangun dunia mereka sendiri dari rangkaian humor yang khas dalam dunia yang sederhana, bisa jadi di pos kampling, di teras rumah, atau pun di lopo.
Ya, lopo. Bagi laki-laki Mandailing lopo adalah salah satu simpul hidupnya. Banyak drama sosial yang mengambil lopo sebagai panggungnya. Di lopo, semua perkembangan yang terjadi dalam satuan unit terkecil masyarakat Mandailing di tingkatan keluarga, dapat dimonitor. Ada orang sakit, bisa langsung diketahui. Ada kejadian apa, semuanya dapat langsung diketahui. Lopo seperti lonceng yang berdentang dan memberikan informasi tentang sesuatu bagi orang yang mendengarkannya. Dan barangsiapa yang “madao tu mun lonceng” maka alamat ia tak akan mendapatkan informasi terbaru. Dalam analogi dengan dunia modern, mungkin lopo paralel dengan disk, tempat menyimpan data.
Begitu merasuknya filosofi lopo ini dalam kedirian para pengarang hingga bukan hanya setting ruang dalam cerita mereka yang mengambil lopo sebagai panggungnya, tetapi juga dalam beberapa kasus, teknik bercerita yang mereka adopsipun tak dapat dipisahkan dari filosofi bercerita di lopo. Di lopo-lopo di Mandailing, akan sangat gampang kita temukan para laki-laki duduk, minum kopi, main catur, main domino batu, atau bercerita. Dalam bercerita biasanya, salah seorang mengambil peran sebagai pencerita dan yang lain sebagai pendengar. Biasanya pencerita adalah orang tertentu. Sering ia adalah orang tua. Atau kalau belum tua maka pencerita adalah seseorang yang memiliki kemampuan bercerita yang hampir setara film, menggambarkan dengan detil dan hidup konten ceritanya. Intinya, menjadi seorang pencerita di lopo di Mandailing adalah profesi yang sulit. Tidak sembarang orang dapat melakukannya. Bisa saja seorang Mandailing memiliki pendidikan tinggi, punya harta banyak dan jabatan yang bagus dalam pekerjaannya, tetapi di lopo Mandailing ia hanyalah nothing, terutama karena ia tidak memiliki modal sosial yang menjadi prasyarat untuk menjadi seorang pencerita.
Untuk kasus ini dapat kita lihat dari cerpen berjudul Alak Mandala Holing. Diceritakan dalam cerpen itu seorang tokoh bernama Ranto, orang asli Mandailing yang sudah mengenyam pendidikan di Eropa, dan ketika cerita itu berlangsung, ia sudah menduduki jabatan yang enak di salah satu maskapai penerbangan ternama di dunia. Akan tetapi, seolah menafikan semua capaian personalnya, di lopo ia hanyalah pendengar yang tidak tahu ini dan itu, terutama ketika berbicara dalam bab kemandailingan.
Model pencerita dan pendengar ala lopo inilah yang diadopsi oleh Holiken Nasution dalam beberapa cerpennya. Secara teknikal, cara ini memang salah satu teknik terbaik dalam sastra yang pernah ditemukan para pengarang untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam kepalanya. Tentu saja teknik ini tidak mudah, bagi orang yang tidak terbiasa dengan tradisi pencerita dan pendengar, menulis dalam bentuk ini agak susah. Karena ketika kita membaca cerpen dengan teknik seperti itu, sebenarnya kita dibawa ke dalam alam cerita bertingkat. Di tingkat pertama adalah kita membaca cerita, dan menerus ke tingkat kedua karena apa yang kita baca adalah cerita tentang cerita. Dengan kata lain, menulis dengan teknik ini membutuhkan kemampuan imajinasi yang kuat. Kalau berfikir dengan rumusan matematis, mungkin energi yang dibutuhkan dua kali dibandingkan dengan kalau bercerita satu tingkat.
Selain dunia yang gembira dan lopo, hal terakhir yang mengalami pengulangan dalam cerpen-cerpen di buku ini adalah setting waktu Bulan Puasa. Terlepas dari tendensi pengarang, terutama Holiken Nasution, yang sepertinya ingin menonjolkan nuansa tradisi Mandailing yang syarat dengan nilai-nilai keislaman, maka tak bisa juga kita pungkiri—dan tak perlu—bahwa memang tradisi Islam tampaknya sudah melebur dengan tradisi Mandailing.
Perkawinan tradisi Islam dengan Mandailing telah melahirkan “genre kemandailingan” yang lain dalam cerpen yang berjudul Baen Panaet Api di Saba, yaitu humor ala Mandailing yang khas dengan setting waktu Bulan Puasa. Diceritakan sang tokoh bernama Jaborbor yang berprofesi sebagai paragat bargot soni marsaba ja na markobun. Suatu hari di Bulan Puasa ia mau berangkat ke sawah dengan membawa adangan berisi nasi bekalnya. Menurut Jaborbor ia mau ke sawah untuk menyangkul, tetapi sebenarnya ia ke sawah karena malu makan di rumahnya. Sewaktu ia mau berangkat, ia sadar bahwa ia tidak membawa korek api. Sementara kita tahu bahwa bagi seorang perokok, makan tanpa ditutup dengan rokok ibarat buang air besar tanpa cebok.
Singkat cerita, tokoh kita ini pun singgah di salah satu lopo yang ada di kampung itu untuk membeli korek api dengan alasan ia butuh korek api untuk menyalakan api di sawahnya. Ketika orang-orang di lopo bertanya apa isi adangan-nya, si Jaborbor menjawab bahwa adangan itu berisi tali ijuk. Sial baginya, adangan yang diletakkan di salah satu kursi di dalam lopo itu tumpah beserta segenap isinya di hadapan orang banyak. Dengan demikian terbongkarlah rahasia Jaborbor, bahwa ia tidak puasa. Jaborbor sendiri, sekalipun panik menghadapi situasi tersebut tidak berarti ia kehilangan akal, masih sempat berkelit bahwa nasi yang tumpah itu adalah nasi buat makanan anjingnya di sawah. Dan tokoh-tokoh dalam ceritapun sepertinya mentolerir “kesialan” Jaborbor yang tidak puasa dengan cara menertawainya, bahkan tanpa penceritaan lebih lanjut saya sendiri ketika membacanya juga tertawa. Hal semacam itu sering terjadi di Mandailing.
Dan memang dalam kasus-kasus tertentu tidak diperlukan pencerita atau cerita tentang apa yang terjadi, tetapi semua orang sudah mengetahuinya. Demikian juga dengan buku ini, ada banyak hal tentang Mandailing yang berada di dalamnya, apa yang saya tangkap hanyalah sebagian kecil saja. Saya sendiri tidak berpretensi untuk membahasnya secara menyeluruh dalam kesempatan ini, melainkan menyerahkan sepenuhnya kepada otoritas pembaca untuk menikmati, menyimpulkan, dan kalau perlu menilai sendiri. Karena, sekali lagi, ada masanya kita tidak perlu menuliskan sesuatu, karena sesuatu itu akan bercerita mewakili dirinya sendiri. Terakhir, tak ada jalan lain mengunci tulisan ini kecuali mengucapkan selamat membaca, karena rasa-rasanya saya sendiri mulai tak kuat menghadapi godaan untuk berkhayal bahwa suatu ketika kumpulan cerpen ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Bia dei luai?
Yogyakarta, 31 Desember 2009
***
Tulisan ini dibuat untuk pengantar antologi cerpen ber-Bahasa Mandailing yang sampai sekarang belum terbit2.


apakah sekarang sudah terbit bang??? pengen punya juga…