Jakarta – Pada hari Rabu, tanggal 7 Oktober 2009 melalui SMS beredar kabar di kalangan penduduk beberapa desa di Kecamatan Porong bahwa akan terjadi sebuah gempa bumi yang getarannya akan sampai di Porong. Beberapa orang warga langsung panik karena memikirkan kampung mereka akan tenggelam oleh lumpur. Murid di beberapa sekolah dipulangkan lebih cepat dari biasanya.

Besar kemungkinan peredaran SMS tersebut dipicu oleh pesan Gubernur Jawa Timur (Jatim), Soekarwo, beberapa hari sebelumnya untuk meningkatkan kewaspadaan warga terhadap bencana gempa bumi. Tulisan ini akan membahas isu tersebut dari sudut pandang ilmu kebumian. Meliputi kemungkinan terjadinya gempa bumi dan kondisi Jatim, terutama Porong, untuk mengetahui dampaknya.

Kalau kita mengacu ke sejarah maka Provinsi Jatim termasuk salah satu daerah yang rawan bencana gempa bumi. Selama dua abad terakhir telah terjadi belasan gempa bumi di daerah Jatim. Salah satu yang paling diingat adalah gempa bumi pada tahun 1994 yang diikuti oleh tsunami Banyuwangi.

Secara geologi Provinsi Jatim dan Pulau Jawa merupakan bagian dari Lempeng Benua Eurasia yang secara terus-menerus didesak oleh Kerak Samudra Australia yang bergerak ke utara. Pertemuan kedua lempeng ini membentuk zona penunjaman di sebelah selatan Pulau Jawa. Dengan demikian, dalam prespektif geodinamika, posisi ujung timur Pulau Jawa ini juga sangat rawan dengan gempa bumi.

Dalam wilayah yang lebih kecil fakta geologi lain yang tak kalah penting adalah keberadaan patahan. Meskipun dalam konteks perdebatan pemicu terjadinya semburan lumpur panas Lapindo ada ahli yang menyatakan bahwa keberadaan Patahan Watukosek yang melintasi Porong belum konklusif.

Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa di lapangan ada beberapa bukti kelurusan morfologi yang memaksa orang yang belajar geologi untuk menarik kesimpulan bahwa ada patahan di sana. Bukti eksistensi Patahan Watukosek ini misalnya dapat dilihat dari adanya Escarpment Watukosek dan liukan pada Kali Porong pada titik di mana Patahan Watukosek berpotongan dengan Kali Porong.

Apa yang akan terjadi di Porong kalau ada gempa bumi dengan magnitude yang cukup signifikan? Susah untuk membayangkannya. Tetapi, setidaknya ada empat faktor yang harus kita pikirkan sehubungan dengan lokasi semburan lumpur yang rawan gempa.

Pertama, kekuatan tanggul penampung lumpur. Setiap hari sekira 100.000 m3 lumpur disemburkan dari dalam bumi. Material tersebut ditampung dalam tanggul dengan panjang total sekira 23 km dan luas area sekira 800 hektar. Setiap orang rasanya sudah menyadari betapa dahsyatnya bencana yang akan menimpa desa-desa di seputaran tanggul kalau suatu ketika tanggul jebol.

Kedua, masalah semburan baru. Selain semburan baru di Desa Siring Barat pada bulan Juli 2009, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim Institut Teknologi Surabaya (ITS) pada bulan Mei 2008, terdapat sebanyak 43 titik yang aktif mengeluarkan gas methane dan sebanyak 46 titik tidak aktif. Banyaknya titik yang mengeluarkan gas mehtane ini berarti bahwa struktur batuan bawah tanah dan soil di sekitar tanggul sudah remuk.

Gempa bumi dengan magnitude signifikan dipastikan akan semakin meremukkan kondisi batuan dan soil, yang artinya, peluang untuk munculnya semburan baru semakin besar. Semakin berbahaya karena gas methane, selain karena dalam konsentrasi di atas ambang batas berbahaya bagi sistem pernafasan, juga mudah terbakar.

Ketiga, penurunan permukaan tanah atau amblesan. Amblesan adalah kompensasi yang terjadi karena adanya material yang dikeluarkan dari dalam bumi. Di Desa Siring Barat terdapat amblesan di tengah jalan dan rumah-rumah yang yang doyong. Gempa bumi dengan magnitude signifikan akan membuat tanah yang sudah ambles semakin berbahaya.

Selain itu, di Porong banyak sekali pipa air minum dan pipa minyak (dan gas). Baru-baru ini pipa air di Desa Siring Barat pecah sehingga airnya mengalir ke jalan raya Porong. Demikian juga pipa air di Desa Juwetkenongo (sebelah selatan-barat tanggul) tampaknya pecah juga pada hari Selasa (6 Oktober 2009).

Keempat, struktur bangunan yang sudah retak. Menurut riset ITS pada bulan Mei tahun 2008 itu, secara total terdapat 465 rumah di tiga desa (Siring Barat, Jatirejo Barat, dan 3 RT di Desa Mindi) yang sudah rusak. Kerusakan meliputi retak di dinding dan lantai serta kerusakan di atap. Sangat susah membayangkan apa yang akan terjadi dengan rumah-rumah yang sudah retak-retak ini apabila digoncang oleh gempa bumi dengan magnitude yang cukup signifikan. Karena, rumah yang bagus saja tumbang oleh gempa bumi.

Lantas, apa yang dapat dilakukan mengingat para memperkirakan bahwa umur semburan lumpur panas mencapai antara 23 sampai 35 tahun (Mazzini dkk., 2007; Istadi dkk., 2008). Permasalahan menjadi jauh lebih serius karena bencana gempa bumi dan semburan lumpur panas Lapindo tidak lagi berdiri sendiri tetapi tergabung menjadi satu. Imbauan dan peringatan saja kepada warga tidak cukup. Masyarakat Porong perlu disiapkan lebih lanjut untuk menghadapi semua kemungkinan.

Dari aspek teknis kebumian yang dapat dilakukan antara lain monitoring terhadap aktivitas Patahan Watukosek dan membuat model bawah permukaan yang dinamis di daerah Porong dan sekitarnya. Khusus untuk poin terakhir terutama karena akar masalah bencana semburan lumpur panas Lapindo terdapat di bawah permukaan aspek-aspek di atas permukaan seperti permasalahan tanggul jebol dan jual beli aset warga hanyalah dampak dari apa yang terjadi di bawah permukaan tanah.

Bosman Batubara

Penulis adalah Alumnus Jurusan Teknik Geologi FT-UGM, tinggal di Porong, bersama Lafadl Initiatives menjalankan program pemberdayaan ekonomi bagi perempuan korban aliran lumpur panas Lapindo.

tulisan ini dimuat di detik.com:

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/10/20/172019/1225159/471/antisipasi-terhadap-gempa-bumi-di-porong-jawa-timur?882205470