Perempuan dan laki-laki sering dimaknai sebagai sebuah dualitas. Sebagai dualitas, kedua agen; perempuan dan laki-laki; sering berada dalam posisi yang berhadap-hadapan, dengan laki-laki sebagai pihak yang dominan. Ataupun kalau tidak berhadapan, dalam pelbagai kejadian di tengah-tengah masyarakat, perempuan sering berada dalam posisi yang tak diuntungkan dibandingkan dengan laki-laki. Perdebatan tentang pemimpin perempuan di kalangan Islam misalnya, atau tidak bolehnya perempuan mengimami laki-laki dalam melakukan sembahyang, hanyalah salah dua contoh saja bagaimana lemahnya posisi perempuan dalam masyarakat Islam.
Secara kualitatif barangkali belum tentu seorang laki-laki lebih unggul dari perempuan dalam sebuah bidang, atau bahkan bisa jadi sebaliknya, perempuanlah yang lebih hebat dari laki-laki. Tetapi cara pandang dalam masyarakat yang sudah mengakar bahwa perempuan adalah makhluk yang lebih rendah derajatnya dari laki-laki menyebabkan tertutupnya pelbagai kesempatan bagi kaum perempuan.
Dari kedua contoh perdebatan tentang pemimpin dalam Islam di atas, ditambah dengan pelbagai hadis-hadis yang bias laki-laki (misoginis), bolehlah kita sebut bahwa Islam adalah agama laki-laki. Secara historis—atau mungkin mistis—pendapat bahwa perempuan adalah mahkluk yang lemah, dan karenanya harus dilindungi oleh laki-laki, mendapatkan pembenaran dari keyakinan bahwa perempuan pertama, Hawa, diciptakan dari tulang rusuk lelaki pertama, Adam. Tulang rusuk, sesuatu yang tempatnya di bawah ketiak.
Lantas. Benarkah demikian adanya? Benarkah perempuan adalah makhluk yang lemah, harus dilindungi? Nir-perlawanan? Atau jangan-jangan tidak seperti itu, justru karena kelihaian mereka, perempuan punya cara sendiri dalam melakukan perlawanan yang tidak mudah untuk dideteksi? Banyak cara untuk menjawabnya. Satu diantaranya dengan cara menelusuri seperti apa perempuan dicitrakan dalam karya sastra. Ada tiga novel yang menarik untuk diceramti sehubungan dengan hal ini. Novel pertama berjudul Perempuan Keumala (PK), karangan Endang Moerdopo yang diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 2008. Novel kedua berjudul Bidadari Paderi (BP) karangan Saiful A. Imam, diterbitkan oleh Penerbit Republika pada tahun 2007, dan ketiga, berjudul Tuan Guru (TG) karangan Salman Farisi, diterbitkan oleh Genta Press pada tahun 2007.
Ketiga novel ini menjadi menarik karena pertimbangan perkembangan Agama Islam di daerah-daerah yang terdapat dalam masing-masing novel tersebut. PK mengambil setting lokasi di Aceh, sebuah daerah yang kita tahu menjadi tempat-tempat awal terjadinya drama perkembangan Islam di nusantara dan sekarang ini merupakan sebuah daerah yang memberlakukan perda syariah. BP mengambil setting di tanah Minangkabau, daerah yang menjadi basis terbentuknya salah satu lasykar Islam bersenjata, Paderi, yang pernah bercita-cita menaklukkan Sumatra bagian utara, Semenanjung Malaysia hingga Filipina di bawah panji-panji Islam. TG mengambil setting di Pulau Lombok, di tengah-tengah masyarakat Sasak.
Novel berjudul Perempuan Keumala (PK), karangan Endang Moerdopo yang diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 2008, ternyata menampilkan sosok perempuan yang lain. Sosok seorang Laksamana Keumalahayati yang sama sekali jauh dari kesan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah. PK adalah sebuah novel berdasarkan riset sejarah selama kurang lebih dua tahun. Merupakan novel biografis Laksaman Keumalahayati, yang mungkin hingga sekarang merupakan satu-satunya lakasaman perempuan yang pernah ada.
Cerita dibuka dari perspektif seorang aktivis perempuan bernama Hira, yang terlibat dalam pekerjaan bersama sebuah organisasi non-pemerintah pasca Tsunami yang melanda Aceh pada penghujung tahun 2004. Hira adalah seorang Perempuan modern dari luar Aceh. Ia merokok. Ia juga berani mengambil inisiatif menyium pacarnya. Hira sangat terobsesi dengan tokoh Laksamana Keumalahayati. Dia menyiarahi kuburannya dan mendatangi benteng yang pernah dipergunakan oleh sang Laksamana dengan pasukannya. Dengan sangat sedih, Hira meratapi kuburan Laksamana Keumalahayati dan benteng Inong Balee peninggalannya yang tidak terurus.
Suatu ketika Hira mengalami sakit yang parah. Perempuan itu pingsan di ruang kerjanya, kemunginan besar karena terlalu capek bekerja, hingga ia harus dirawat di ICU. Dengan teknik bercerita yang sangat bagus, penulis menggunakan alam imajinasi Hira yang sedang sakit untuk menjadi pintu masuk baginya bercerita tentang Keumalahayati pada bagian-bagian selanjutnya dari novel ini. Perempuan seperti remaja Keumalahayati, tak berbeda dengan lelaki, pada masa Kerajaan Darud Donya Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Baginda Sultan Mansur Syah, ternyata juga berlatih militer di pusat pelatihan militer Ma’had Baitul Maqdis di Kutaraja, yang siswi/a nya adalah anak para pejabat dan orang kaya dari seluruh penjuru kerajaan. Perempuan Aceh belajar menunggang kuda, memainkan keris (saat itu namanya belum rencong), dan juga mempelajari seluk-beluk pelayaran.
Remaja Keumalahayati adalah keturunan Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah, salah seorang Lakasamana Darut Donya Aceh Darussalam. Ia memasuki pusat pelatihan Ma’had Baitul Maqdis sebagai taruna kelas rendah. Kecantikannya yang betapa, telah membuat para taruna laki-laki jatuh hati ketika melihatnya pertama kali. Selain itu, Keumalahayati adalah seorang siswi yang sangat berbakat, ia sangat ahli dalam pelbagai keterampilan yang diajarkan kepada para taruna di pusat pelatihan milier itu. Singkat cerita ia kemudian baku-cinta dengan salah seorang taruna lelaki, Mahmuddin bin Said Al Latief, yang kemudian menjadi suaminya.
Setelah menikah, Keumalahayati menjalaninya seperti perempuan apa adanya. Menjadi Ibu rumah tangga yang tinggal di rumah ketika sang suami bertempur. Titik balik terjadi ketika sang suami mati di medan pertempuran dalam rangka menyelamatkan Baginda Sultan. Baginda yang mengetahui bahwa Keumalahayati adalah bekas salah seorang taruna terbaik di pusat pelatihan Ma’had Baitul Maqdis, mengangkatnya menjadi Laksamana yang bertanggungjawab terhadap kemanan Selat Malaka.
Banyak kalangan yang iri hati dengan pengangkatan ini. Terutama para taruna laki-laki yang merasa Keumalahayati, janda itu, tidak bisa berbuat apa-apa demi keamanan Selat. Salah seorang Taruna yang iri hati itu kemudian mengirimkan mantra Tapak Tuan kepada Keumalahayati. Terkena kutukan mantra Tapak Tuan, Keumalahayati sempat mengalami disorientasi dan melalaikan tugas-tugas kerjaan. Setiap hari ia meratapi kematian suaminya. Hingga suatu ketika ia tersadar dari kutukan mantra Tapak Tuan tersebut. Dan begitu ia terlepas dari kutukan mantra Tapak Tuan, maka dengan segera ia membentuk lasykar wanita yang terdiri dari para janda yang suaminya meninggal di medan Perang. Lasykar itu mereka namakan Armada Inong Balee (pasukan janda). Meski pasukan ini sempat direcoki oleh pelbagai perhiasan dan pernak-pernik perempuan, seperti jilbab, anting dan gelang kaki, yang harus mereka kenakan sekalipun ketika bertempur, pada akhirnya pemimpin Armada inilah, Laksamana Keumalahayati, yang berhasil membunuh Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang menemukan jalur rempah-rempah ke Nusantara.
Ketika itu sedang berlangsung pesta di atas kapal Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman dan saudaranya Frederick. Pesta ini sebenarnya adalah akal bulus de Houtman bersaudara. Menyadari betapa kuatnya pengaruh orang-orang kaya di Kerajaan Darud Donya Aceh Darussalam, maka de Houtman bersaudara dengan disponsori oleh Sultan Muda, anak Baginda yang berkhianat, mengadakan pesta di atas kapal. Dalam pesta tersebut diundanglah orang-orang kaya dari seluruh penjuru kerajaan. Mereka disuguhi makanan-makanan enak, musik serta tari-tarian Eropa, yang bagi para orang kaya itu, tentu saja adalah sesuatu yang baru dan menarik. Tanpa mereka sadari de Houtman bersaudara telah menyiapkan racun yang mematikan dalam hidangan penutup mereka.
Laksamana Keumalahayati yang mengetahui skenario ini tidak tinggal diam. Ia mendatangi kapal tempat pesta dan memaksa salah seorang penari Belanda untuk meminum minuman yang mengandung racun. Sang penari mati membujur. Dalam sekejap kapal pesta berubah menjadi medan perang. Dalam sebuah pertempuran satu lawan satu, de Houtman, yang sebenarnya secara fisik lebih kuat dari Keumalahayati, lebih tertarik memeluk paksa sang Laksamana dari belakangan dan mencium—secara paksa pula—tengkuknya yang putih. Kejantanannya berdenyut ketika dalam posisi rapat dengan janda cantik itu. Lengah terhadap musuh akibat birahi yang terbakar, de Houtman baru sadar setelah tiba-tiba Keumalahayati mencabut belati dan menikam perutnya. Ternyata kelemahan pelaut Belanda itu justru terletak pada kejantanannya.
Lebih jauh, dari PK kita dapat melihat gambar yang terlupakan, bahwa realitas Islam misalnya, bukanlah sebuah realitas yang sudah jadi, tetapi ia adalah realitas yang menjadi dan terus-menerus mengalir dalam ruang-waktunya. Kita tahu bahwa beberapa tahun belakangan ini di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) telah ditegakkan Syari’ah Islam. Sebuah formalisasi syariah Islam yang menampilkan perempuan Aceh dalam jilbabnya yang kelihatan besar. Semantara dalam PK, susah menemukan perempuan Aceh dengan jilbab besar, karena mereka pada waktu itu hanyalah pakai kerudung.
Kalau pada PK, perempuan mampu membentuk armada yang tangguh, maka pada BP, perempuan dicitrakan sebagai makhluk yang paradoks. Di satu sisi ia adalah makhluk yang tak ditanyakan pendapatnya, bahkan tentang rencana pernikahannya sekalipun, seperti yang tertangkap dari karakter Nilam, seorang perempuan Minangkabau dalam novel ini. Tetapi di sisi yang lain, perempuan juga merupakan makhluk yang ikut berperan kunci bersama Pasukan Paderi dalam perang melawan Belanda.
Derasnya intrusi ajaran Islam yang masuk ke dalam masyarakat Minangkabau dan perspektif penulisnya yang Islami, membuat adat Minangkabau yang matrilinial terasa menjadi hambar dalam novel ini. Ketegangan antara kaum Paderi dan kaum adat hanya timbul sayup-sayup dalam novel yang secara berani menyantumkan tahun-tahun kejadian ini. Perempuan Minangkabau ditampilkan tidak berbeda dengan perempuan dari suku-suku lain yang bergaris keturunan lelaki. Perempuan Minangkabau menjelma menjadi perempuan yang tersubordinasi oleh laki-laki.
Rafiah misalnya, salah satu karakter perempuan yang lain dalam novel ini, harus mengeluarkan segala upaya untuk mendapatkan izin dari Jauhar, sang suami, hingga akhirnya diizinkan untuk ikut berperan kunci dalam peperangan antara kaum Paderi melawan tentara Belanda. Rafiah, bersama perempuan-perempuan yang lain, mendapat peran klasik perempuan di medan perang: juru rawat.
Dengan demikian, karakter-karakter perempuan Minangkabau dalam novel ini, seperti Nilam dan Rafiah, berhadapan dengan masing-masing dua lapis dunia laki-laki dan Islam sekaligus. Pertama dunia laki-laki dan Islam dalam kehidupan asli mereka, dan kedua dunia laki-laki dan Islam yang terepresentasikan melalui penulis novel dan perspektif yang dipakainya.
Di Lombok, para perempuan pesantren menjadikan sex sebagai medium perlawanan terhadap dominasi Islam (yang sangat laki-laki) dan laki-laki itu sendiri. Merasa tak mampu menolak takdir mereka yang dititahkan oleh Tuan Guru, para santri perempuan di Lombok memilih melakukan sex pra-nikah secara diam-diam. Sekilas, perlawanan santri perempuan di Lombok, mirip dengan perlawanan Scottian para buruh tani di Malaysia: susah dideteksi tetapi dampaknya besar.
Tuan guru adalah pusat dunia di Pulau Lombok. Orang (jamaah) akan bergembira kalau bisa menyumbangkan uang yang banyak dalam pengajian yang diadakan oleh tuan guru, meskipun mereka harus terlilit hutang untuk sumbangan itu. Keberadaan tuang guru begitu pentingnya, hingga semua orang harus menyium tangannya, tidak ada yang boleh bahkan sekedar bertanya ketika mengikuti pengajiannya, semuanya harus mendengarkan dengan takzim. Para orang tua bahkan bangga ketika tuan guru yang sudah tua meminang anak mereka untuk jadi istrinya yang entah ke berapa. Bahkan lebih dari itu, di Pulau Lombok, tuan guru juga berhak menentukan nasib orang lain dengan cara memilihkan pasangan yang menurutnya terbaik bagi santri-santrinya.
Demikian. Najwa dan Nailal adalah dua orang santri yang mengalami disunting oleh Tuan Guru pesantren tempat mereka belajar. Meski kedua santri perempuan ini sudah memiliki pacar pada saat mereka disunting oleh Tuan Guru dan Tuan Guru Sendiri pun sudah punya entah berapa istri, tapi menafikan kecintaan mereka yang betapa terhadap pacarnya, keinginan Tuan Guru adalah hal yang tak bisa ditolak, hampir sama seperti takdir. Singkat kata menikahlah Tuan Guru dengan kedua gadis perawan itu—tentu saja tidak dalam waktu yang bersamaan.
Dalam perjalanannya, ternyata pernikahan mereka hanyalah kelihatan harmonis dari luar karena masing-masing pihak menjaga agar jangan sampai ketakbetahan dalam pernikahan itu diketahui oleh orang lain, tentu saja, demi menjaga nama baik dan kharisma Tuan Guru. Pada akhirnya, lembaga perkawinan berubah menjadi penjara. Najwa tak bisa lagi menahankan lagi. Kehendak melawan yang sangat kuat membara dalam darah mudanya. Dan, tidak seperti Keumalahati atau Rafiah yang melakukan perlawanan melalui pertempuran, maka Najwa melakukan perlawanan dengan medium yang lebih sublim: sex.
Sex, yang oleh banyak orang dipercaya merupakan ungkapan cinta, ternyata dalam TG berubah menjadi medium perlawanan. Kebencian yang sangat terhadap suaminya sendiri, Tuan Guru, menjadi bara yang dikipasi oleh cinta remajanya yang tak kesampaian. Maka dalam suatu malam yang gelap, bercintalah Najwa dengan salah seorang santri Tuan Guru yang merupakan pacarnya ketika ia masih remaja. Keributan dalam rumah tangga menjadi pemicu bagi Najwa untuk bercinta dengan mantan pacarnya, hubungan sex di luar nikah, yang bagi kalangan santri, tentu saja adalah sesuatu yang haram.
Demikian juga dengan Nailal, karakter lain yang mengalami hal yang sama, tak sanggup menolak takdirnya yang diingini oleh Tuan Guru untuk menjadi istri muda, maka sebelum menikah ia secara agresif mengajak pacarnya melakukan hubungan sex sebelum nikah. Perlawanan bagi Najwa dan Nailal adalah mengikuti kehendak Tuan Guru untuk menjadi istri muda, tetapi secara diam-diam menerabas hukum-hukum agama yang sudah mereka yakini sejak kecil, terlibat “percintaan haram” dengan (mantan) pacar mereka.
Begitulah. Ternyata kaum perempuan bukanlah makhluk yang menerima begitu saja semua perlakuan dan dominasi terhadap mereka. Mereka adalah kaum yang aktif melakukan siasat dan perlawanan, tentu saja, dengan caranya sendiri-sendiri. Terlepas dari skala siasat dan perlawanan yang mereka lakukan berbeda-beda, ada yang dalam skala besar dan ada yang dalam skala kecil, tetapi tampaknya sejarah tidak terlalu memberikan tempat bagi perlawanan-perlawanan itu. Namun intinya bukanlah masalah besar ataupun kecil, karena sesuatu yang kecil sekalipun seperti jasad renik mikroorganisme, dapat berakumulasi dan menyusun karang teguh yang menghempaskan kapal besar.
Dalam versi yang sudah diedit, tulisan ini pernah di muat di Jurnal Srinthil: v.17, p. 158—164
July 15, 2009 at 11:14
penutupnya ga dimuat ya di jurnal srinthil
btw, cepet balik lho bok ….
July 26, 2009 at 11:14
intinya adalah bercintalah dahulu dengan pacar-pacar anda sebelum mereka menjadi mantan. Hehehehe…
July 26, 2009 at 11:14
eits, mas aku tidak bilang kayak gitu lho mas…
July 29, 2009 at 11:14
ya bener gitu byenkz, lebih to the point gitu lhoch
July 29, 2009 at 11:14
aih, kapok d gw