Cover dicopy dari: http://www.naomiklein.org/main

Cover dicopy dari: http://www.naomiklein.org/main

Setelah bencana tsunami besar yang menimpa kawasan barat laut Pulau Sumatera dan beberapa negara lain di kawasan Laut Andaman pada penghujung tahun 2004 yang lalu, kajian ekonomi politik dikejutkan dengan kehadiran sebuah buku yang sangat deterministik pada tahun 2007 dalam bidang kajian kapitalisme dan globalisasi. The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism (SD), demikian judul buku yang ditulis oleh Naomi Klein tersebut. SD adalah buku ketiga Naomi Klein. Sebelumnya penulis Kanada ini sudah menulis dua buku tentang globalisasi, yaitu Fences and Windows pada tahun 2002, dan No Logo yang terbit pada tahun 2000.

Beberapa bab dalam SD adalah penajaman dan pendalaman dari esei-esei independen Naomi yang ditulis dalam pelbagai media internasional seperti The New York Times, The Globe an Mail dan The Nation. Esei-esei independen yang merupakan refleksi Naomi sebagai aktivis “anti globalisasi” garis depan itu kemudian secara utuh dapat kita baca dalam dalam buku Fences and Windows. Dalam SD esei-esei tersebut mengalami penajaman dalam segi analisis dan pengayaan secara data statistikal dan referensial. Misalnya esei yang berjudul “Democracy in Shackle: Who benefits from free trade?” yang ditulis pada bulan Juni tahun 2001 menyinggung sekilas kudeta yang dilakukan oleh Jenderal Suharto terhadap Presiden Sukarno pada tahun 1965 dan kudeta terhadap Salvador Allende pada tahun 1971 oleh Jenderal Augusto Pinochet, dalam SD dipertajam lebih detil sampai ke wilayah bagaimana pemerintahan militer yang baru terbentuk di kedua negara ditumpangi oleh para ekonom pro pasar: Mafia Berkeley di Indonesia dan Chicago Boys di Chile.

Cover dicopy dari: http://www.naomiklein.org/main

Cover dicopy dari: http://www.naomiklein.org/main

SD adalah sebuah buku yang menampilkan cara pandang baru terhadap ekonomi neoliberal. Diskusi-diskusi sebelumnya tentang ekspansi kapitalisme pada abad ke-20 dan awal abad ke-21 lebih sering menekankan sifat kapitalisme yang “lembut” dan merambah ke semua penjuru di seluruh dunia dengan medium yang lebih persuasif seperti teknologi informasi (mobile phone misalnya), busana, ataupun kampanye budaya seperti film dan makanan. Sementara itu ternyata, melalui studi yang mencakup rentang waktu yang panjang dan dimensi geografis yang hampir mencakup seluruh dunia, Naomi menunjukkan pada kita bahwa ekspansi kapitalisme juga ternyata mengambil bentuk kekerasan seperti dukungan terhadap kudeta untuk mendongkel pemerintah yang berkuasa, pemaksaan kebijakan neoliberal, lebih ekstrim melalui perang, dan yang barangkali agak susah untuk membayangkannya saja, melalui rekonstruksi pasca-bencana, bahkan apabila perlu maka bencana (perang) bisa diciptakan seperti yang terjadi di Irak. Singkat kata, bagi kapitalisme apapun yang terjadi di atas dunia ini adalah peluang.

Dalam SD, Naomi berhasil melihat kaitan antara penyiksaan di penjara dengan teori ekonomi. Yang pertama adalah sebuah upaya yang dilakukan untuk memperoleh informasi dari pesakitan. Pada masa perang dingin, sering mata-mata tidak mau memberikan informasi yang dimilikinya begitu saja bagi pihak musuh. Dalam usaha mereka untuk mendapatkan pengakuan dari mata-mata Soviet, maka para tentara Amerika Serikat biasanya melakukan penyiksaan sedemikian rupa yang menyebabkan tawanan mengalami disorientasi sehingga ia mau menceritakan informasi yang dimilikinya, ia bekerja pada siapa dan, pada akhirnya setelah mengalami disorientasi akibat penyiksaan yang sangat hebat, sang tawanan dicuci otaknya, dibuat seperti terlahir kembali, dan siap diisi apapun sesuai dengan keinginan sang penyiksa, persis seperti batu sabak polos yang siap ditulisi. Banyak cara untuk menulis di atas “batu sabak polos” ini, seperti memperdengarkan kaset-kaset yang berisi sesuatu yang ingin dijejalkan oleh penyiksa kepada tersiksa.

Para ekonom neoliberal dari Departemen Ekonomi Universitas Chicago, Amerika Serikat percaya bahwa untuk membangkitkan ekonomi sebuah negara, perlu dilakukan terapi yang membuat sistem ekonomi negara tersebut mengalami kejutan, dan sesudah itu baru ditata ulang agar dapat menjadi lebih rasional. Lebih tepat sebenarnya, agar bisa menjadi seperti yang mereka kehendaki.

Dalam kerangka inilah SD menemukan relevansinya. Dalam kasus Indonesia, kita dapat mengambil contoh bagaimana CIA membantu Jenderal Soeharto hingga sampai di tampuk kekuasaan. Soeharto memegang daftar “orang-orang yang harus dibunuh”: sebuah daftar orang berbahaya versi CIA. Berbekal daftar itulah Jenderal Soeharto mengganyang ratusan ribu orang di tahun 1965. Sampai sekarang tampaknya belum ada kata sepakat tentang jumlah pasti angka korban pada persitiwa tahun 1965, catatan beberapa peneliti bervariasi, mulai dari angka terkecil sekira 200.000 jiwa hingga yang terbesar dengan estimasi sekira 2 juta korban telah jatuh pada peristiwa berdarah di tahun 60-an itu.

Kenaikan Soeharto ke tampuk kekuasaan diikuti oleh Mafia Berkeley yang menggelayut di kursi Sang Jenderal. Dalam prosesnya, internalisasi nilai-nilai ekonomi pasar terhadap sang Jenderal dilakukan bukan hanya melalui rapat-rapat di dalam kabinet, tetapi dilanjutkan dengan kuliah di rumah, di mana Sang Jenderal mendengarkan kaset-kaset yang berisi pelajaran ekonomi yang sudah disiapkan oleh ekonom lulusan Berkeley.

Di Chile pada awal 70-an CIA terlibat dalam penggulingan presiden marxist pertama di dunia yang terpilih secara demokratis, Salvador Allende. Jenderal Augusto Pinochet naik ke tampuk kekuasaan, dan dengan dibantu oleh Geng Chicago Boys—sekelompok intelektual Chile yang sudah belajar ekonomi neoliberal di Chicago University—mulai melaksanakan ekonomi neoliberal dengan saklak. Pada awal pemerintahan Pinochet, segera dilakukan pelbagai kebijakan neoliberal yang intinya adalah; privatisasi, deregulasi dan penurunan subsidi pemerintah untuk pelayanan publik.

Pada tahun 1975 Pinochet dan Chicago Boys-nya memotong dana untuk pelayanan publik sebesar 27 % dalam sekali tepuk. Aksi itu diikuti oleh serentetan aksi yang sama sehingga total pada tahun 1980, dana untuk sektor itu hanya tinggal setengah saja apabila dibandingkan dengan masa pemerintahan Allende, (hal. 82). Pinochet juga melakukan pemotongan terhadap anggaran kesehatan dan pendidikan dan memprivatisasi perusahaan milik negara. Pada zaman itu hampir sebanyak 500 BUMN Chile diprivatisasi.

Cara kerja seperti ini bukan hanya terjadi di Chile, tetapi juga di Brasil. Jenderal Humberto Castello Branco mengambil alih kekuasaan pada tahun 1964 dari tangan Joáo Goulart yang memiliki kebijakan pro rakyat miskin. Dan Chicago Boys-lah yang menyusun rencana untuk membuat Brasil terbuka seluas-luasnya bagi investasi asing. Di Bolivia pada tahun 1985. Bahkan yang lebih memprihatinkan di Afrika Selatan pada tahun 90-an, di mana gerakan apartheid dibajak oleh gerakan neoliberal. Total antara tahun 1997 sampai dengan 2004 sebanyak 18 BUMN Afsel telah diprivatisasi dan hampir setengah dari uang hasil penjualan ini hanya dipakai untuk membayar hutang negara, (hal. 212).

Modus yang lain adalah perang. Keberadaan senjata pemusnah massal adalah alasan utama serangan terhadap Irak beberapa tahun yang lalu, akan tetapi sampai sekarang tuduhan itu tidak terbukti. Sebelum invasi, ekonomi Irak adalah ekonomi yang sehat dengan sokongan industri minyak dan sekira 200 BUMN. Setelah invasi, keduaratus BUMN tersebut telah melakukan rasionalisasi dan pada akhirnya diprivatisasi—untuk tidak mengatakan dilelang—di mana sebagian besar jatuh ke tangan perusahaan Amerika, (hal. 345). Tanpa pilihan rakyat Irak terjerembab dalam kubangan kemiskinan, tingkat pengangguran mencapai 76 %, malnutrisi dan kelaparan mewabah di mana-mana, dan Irak sepenuhnya tidak bisa berdiri di atas kaki mereka sendiri lagi dan bergantung pada belas kasihan lembaga kemanusiaan internasional.

Kasus-kasus dampak buruk akibat “bencana kapitalisme” yang menimpa penduduk di negara-negara di atas adalah satu sisi. Di sisi lain, kita akan melihat bagaimana “kapitalisme bencana” bekerja dengan menggunakan bencana alam sebagai pintu masuk. Masih dengan analogi penyiksaan dan terapi kejut, maka bagi para ekonom neoliberal bencana alam adalah sebuah terapi kejut. Penduduk yang terkena bencana tak ubahnya sebagai perahu yang terombang-ambing di lautan luas karena jangkarnya telah putus. Labil. Dan kapitalisme mengambil keuntungan.

Jauh sebelum tsunami, pemerintah Kepulauan Maldives sudah mencari-cari lahan untuk memenuhi permintaan pasar akan tempat plesir mewah di negara tersebut. Pemerintah mencoba mendekati penduduk secara persuasif untuk pindah ke daerah yang tidak diminati oleh turis. Tentu saja bukan pekerjaan yang mudah, bahkan bagi sebuah rezim yang sangat represif sekalipun, untuk memindahkan ribuan penduduk dari tanah kelahiran mereka. Penduduk Malidives rata-rata adalah nelayan miskin yang tinggal pada sepanjang pantai. Tsunami pada penghujung tahun 2004 telah menimbulkan kerusakan yang sangat parah bagi kehidupan mereka.

Segera setelah bencana, maka pemerintah Kepulauan Maldives mengumumkan bahwa lokasi pantai sudah tidak aman untuk ditinggali. Penduduk, tanpa kecuali, harus pindah ke lokasi yang lebih aman. Di balik argumen keamanan tersebut ternyata ada maksudnya. Satu tahun setelah tsunami, pemerintah menyewakan sebanyak 35 pulau yang sebelumnya dinyatakan tidak aman kepada para pengembang di bidang bisnis pariwisata. Sementara itu di tempat perpindahan yang baru, di daerah yang dikatakan lebih aman oleh pemerintah, angka pengangguran meningkat dengan sangat pesat dan diiringi pula pelbagai bentuk kekerasan antara pendatang baru dengan penduduk setempat yang sudah lebih dahulu bermukim di sana, (hal. 399—401). Kasus yang sama juga menimpa komunitas nelayan survivor tsunami di Thailand dan Sri Lanka. Ya, memang bagi kapitalisme apapun yang terjadi di atas dunia ini adalah peluang.