Pada 19 April 2009 yang lalu harian KOMPAS pada halaman 1 memuat foto Presiden Venezuela, Hugo Chavez, mau berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, di Forum Negara-Negara Amerika yang berlangsung di Trinidad dan Tobago. Chavez adalah simbol kebangkitan faham neososialisme di Amerika Latin pada dekade belakangan ini. Obama adalah pemimpin baru AS yang menjanjikan akan menampilkan wajah yang lebih ramah bagi dunia. Foto tersebut semakin terasa simbolis karena terlihat bahasa tubuh Chavez yang hangat bersahabat, tangan terjulur siap bersalaman, tetapi dengan tatapan menggugat yang langsung menghujam ke arah mata Obama. Sementara itu, Obama terlihat gamang menatap ke arah buku yang berjudul Las venas abiertas de America Latina, yang dalam kesempatan itu diberikan Chavez kepada Obama (foto 1).

Foto yang dipajang dimana2 ketika obama dan chavez salaman. dicopy dari KOMPAS
Ada dua kemungkinan mengapa Obama menunduk melihat ke arah buku itu. Pertama, mungkin saja Obama belum mengetahui dan sangat tertarik dengan buku yang akan diberikan oleh Chavez tersebut kepadanya, atau kedua, bisa jadi Obama sudah mengetahui buku tersebut sebelumnya, dan karenanya ia tak kuasa menatap mata Chavez secara langsung. Tampaknya yang paling memungkinkan adalah pilihan kedua, sebab tidak masuk akal rasanya orang sekelas Obama tidak tahu keberadaan salah satu buku yang paling berpengaruh di kawasan Amerika Latin tersebut. Apa sebenarnya isi buku itu?
Las venas abiertas de America Latina yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Open Veins of Latin America: Five Centuries of the Pillage of a Continent (Menguak Tabir-tabir Amerika Latin: Lima Abad Perampasan Sebuah Benua), adalah buku pertama jurnalis Uruguay, Eduardo Galeano. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1971 dalam bahasa aslinya, dan kemudian pada tahun 1998 diterbitkan dalam Bahasa Inggris dengan kata pengantar singkat dari sastrawati Chile, Isabel Allende.
Ketika pertama kali mendengar judul Bahasa Inggris buku ini, hal pertama yang terlintas dalam benak saya adalah emas. Memang dalam nomenklatur kedokteran vein berarti nadi. Akan tetapi dalam nomenklatur geologi, vein berarti batuan urat. Batuan urat ini menjadi sasaran para geolog karena biasanya ia membawa emas di dalam dirinya. Jadi, hanya dengan membaca judul buku itu saja pikiran saya sudah langsung didatangi imajinasi tentang Amerika Latin sebagai urat emas terbuka yang dijarah selama lima abad.
Open Veins of Latin America tampaknya ditulis dengan cinta oleh Galeano. Hal ini terasa dari kekayaan buku ini yang menyakup fakta-fakta, angka statistik, metafora yang bertaburan khas para penulis Amerika latin bahkan ketika ia menuliskan suatu peristiwa yang memilukan seklaipun, lengkap dengan rekaman emosi dan situasi yang melatarbelakangi semua data yang terdokumentasikan secara baik itu.
Dalam pengantar Bahasa Inggris yang ditulis dengan riang gembira oleh Isabel, dia bercerita pengalaman personalnya tentang buku ini. Pada tahun 1970-an, Chile berada di bawah pemerintahan Salvador Allende, seorang Marxist pertama di dunia yang menjadi pemimpin sebuah negara melalui pemilu yang demokratis. Pada saat itu terjadi sebuah kudeta terhadap Allende. Kudeta ini disokong sepenuhnya oleh AS. Karena AS tidak ingin ada lagi pemerintahan sosialis di “halaman belakang” mereka. Cukuplah satu Kuba di Amerika Latin. Isabel muda sebagai pengungsi akibat kudeta ini hanya membawa beberapa potong pakaian dan dua buah buku bersamanya, salah satunya adalah buku bersampul kuning, Open Veins of Latin America, (foto 2).

cover dicopy dari amazone.com
Open Veins of Latin America berisi sejarah penjajahan dan penjarahan besar-besaran di Amerika Latin oleh para penjajah sejak abad ke-15. Pada mulanya Amerika Latin adalah tempat yang makmur dengan penduduk yang memiliki ekspresi seni adiluhung. Seperti dicatat oleh Galeano, misalnya di kota Potosi (berlokasi di Bolivia yang sekarang) dulunya adalah kota yang sangat besar dan megah, bangunan-bangunan mereka bertahtakan perak belaka, kehidupan begitu semarak di kota itu, siang malam dipenuhi keriangan, dan kota tenggelam dalam pesta dan cinta khas Amerika Latin. Berdasarkan sensus pada tahun 1573 kota itu memiliki penduduk sebanyak 120.000 jiwa. Ini berarti pada saat itu populasi Potosi kurang lebih sama dengan populasi London, melebihi Sevilla, Madrid, Roma, bahkan Paris, atau lebih ekstrim, pada saat yang bersamaan nama Boston belum ditemukan orang. Dan semuanya berubah ketika conquestador datang.
Sejak penemuan benua ini oleh Columbus pada akhir abad ke-15, ekspedisi demi ekspedisi silih berganti menuju Amerika Latin. Hal yang menjadi sasaran utama orang-orang Portugis dan Spanyol tentu saja adalah emas dan perak yang melimpah ruah dan keadaan alam yang indah. Ketika pertama kali berlabuh di atol San Salvador, Columbus langsung jatuh hati pada laut Karibia yang transparan, lanskap hijau yang membentang sejauh mata memandang, udara yang lembut dan bersih, burung-burng ajaib dan para anak muda dengan muka indah tertatah.
Orang Indian seperti bangsawan Montezuma yang tersohor, sebenarnya terpengaruhi oleh kepercayaan lokal mereka bahwa conquestador yang datang adalah reinkarnasi dari Quetzalcoatl, Dewa mereka yang agung. Mereka ketakutan dengan tubuh-tubuh yang tinggi dan rambut pirang sebagian conquestador, dan juga jenggot-jenggot mereka yang panjang. Hal ini memperkuat dugaan para sejarawan bahwa sebenarnya jauh sebelum Columbus menginjakkan kakinya di Amerika Latin, telah ada orang Eropa yang sampai di sana sebelum itu, pada siapa para Indian mengidentifikasi Quetzalcoatl. Itulah awal conquestador menancapkan taring mereka pada kerongkongan Amerika Latin, dan belakangan diikuti oleh AS.
Berton-ton perak dan emas diangkut dari Amerika Latin ke Eropa. Pada pertengahan abad ke-17, dengan Potosi sebagai pusat tambang perak, lebih dari 99% komoditas ekspor dari “Amerika-Spanyol” ini adalah perak. Pada antara tahun 1503 sampai dengan 1660 saja tercatat sebanyak 185.000 kilogram emas dan 16 juta kilogram perak tiba di pelabuhan Sanlukar dan Barrameda, Spanyol. Dan tentu saja catatan klerek tentang metal yang dihasilkan oleh Amerika Latin ini bukanlah angka faktual mengingat, seperti diungkapkan Galeano, banyak kapal pembawa emas dan perak dari Amerika Latin yang berlayar ke Philipina, China dan Spanyol sendiri yang tidak tercatat.
Selain datang dan menjarah hasil bumi, para penakluk dari Eropa ini juga membawa serta bibit-bibit penyakit bersama mereka. Bakteri dan virus adalah senjata yang paling efektif untuk memusnahkan penduduk lokal. Seketika orang-orang Eropa mendarat di Amerika Latin, seketika itu pula berjangkit wabah penyakit, seperti tetanus, trakoma, tipus, kusta, demam dan batuk. Rupanya para Indian tidak memiliki antibodi terhadap virus dan bakteri yang dibawa serta oleh para penakluk dari Eropa itu. Antropolg Brasil, Darcy Ribeiro, memperkirakan bahwa lebih dari separuh penduduk lokal, baik itu Indian di Amerika atau Aborigin di Australia dan Oseania, terserang wabah penyakit dan mati pada kontak pertama mereka dengan orang kulit putih.
Conquestador juga membunuh penduduk lokal laiknya babi yang buta. Sebut saja Pedro de Alvarado yang menaklukkan Guatemala dengan membunuh begitu banyak Indian sehingga darah menganak sungai. Secara total sejak “penemuan” benua ini, Spaniard telah memusnahkan penduduk lokal sekira 95% pada satu setengah abad pertama pendudukan mereka dengan berbagai cara seperti perang, perbudakan dan penularan penyakit. Karena itu tak diragukan lagi bahwa genosid adalah salah satu strategi Spanyol dalam melakukan penaklukan.
Pada abad belakangan AS hadir melalui perusahaan-perusahaan minyaknya yang beroperasi di Amerika Latin seperti Standard Oil of New Jersey (sekarang Exxon). Harga minyak dimanipulasi sedemikian rupa dalam skala internasional agar tetap dapat mempertahankan pajak yang murah, sementara industri hilir semakin mahal hitungannya. Dalam bisnis minyak ini, negara-negara kaya sebagai importir minyak mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan yang diperoleh negara-negara miskin sebagai produsen. Perbandingannya hampir tidak masuk akal, 10 berbanding 1.
Untuk setiap 11 dollar AS, negara produsen hanya mendapatkan total 1 dollar AS untuk pajak dan biaya ekstraksi, sementara negara maju yang menjadi pusat perusahaan-perusahaan raksasa menikmati 10 dollar AS yang lainnya melalui bisnis transportasi, pengilangan, pemrosesan dan distribusi.
Dalam menjalankan bisnisnya AS tak ragu-ragu melakukan operasi intelijen apabila mendapatkan perlawanan dari pengusa lokal seperti Salvador Allende.
Naomi Klein (The Shock Doctirne, 2007) menyatat bahwa kudeta yang dilakukan terhadap Salvador Allende didukung habis-habisan oleh Amerika Serikat. Ditandai dengan pemberian beasiswa besar-besaran bagi mahasiswa Chile untuk belajar ekonomi di Departemen Ekonomi, Universitas Chicago, pusat aliran ekonomi neoliberal dengan salah satu staf pengajarnya ialah Milton Friedman. Alumni departemen ini kemudian akrab dikenal dengan “Chicago Boys”.
Geng Chicago Boys inilah kemudian yang mengelilingi diktator Jenderal Augusto Pinochet (pengganti Allende) dalam menjalankan ekonomi neoliberal di Chile. Segera setelah Pinochet naik tahta, maka Chile menjadi laboratorium pertama eksperimen semua teori ekonomi neoliberal Friedman yang ditandai dengan tiga resep utama: privatisasi, deregulasi dan pemotongan anggaran untuk pelayanan publik.
Cara kerja seperti ini bukan hanya terjadi di Chile, tetapi juga di Brasil. Jenderal Humberto Castello Branco mengambil alih kekuasaan pada tahun 1964 dari tangan Joáo Goulart yang memiliki kebijakan pro rakyat miskin. Dan Chicago Boys-lah yang menyusun rencana untuk membuat Brasil terbuka seluas-luasnya bagi investasi asing.
Mengingat berat beban sejarah yang betapa, maka wajar bila Obama tidak sanggup menatap mata Chavez ketika mereka mau bersalaman seperti yang terlihat pada foto yang hampir pasti akan menjadi legenda itu. Dan buku Open Veins of Latin America ini tampaknya, setelah seperempat abad lebih sejak ia diterbitkan pertama kali, akan kembali mengantarkan Galeano berkomunikasi dan berkomunike dengan pembacanya, persis seperti apa yang ia tuliskan dalam bukunya yang lain Days and Nights of Love and War, “One writes out of a need to communicate and to commune with others.” Hanya saja kemungkinan besar kali ini ia datang menemui pembaca yang secara numerik akan jauh lebih besar dari sebelumnya.
May 9, 2009 at 11:14
apiiikkk, sayangnya salah “or” hehehe