Tak banyak orang yang percaya kalau dikatakan bahwa menyimpan kenangan pahit jauh lebih menyakitkan daripada kena peluru panas sekalipun. Sekali orang kena peluru panas, kemungkinan besar ia akan mati, hingga hilang perih pedih. Sekali orang didera kenangan pahit, seumur hidup ia akan dikuntit.   

Atau pun mungkin, sebenarnya bukan karena orang tidak percaya, tetapi lebih karena orang-orang tidak banyak yang menaruh perhatian pada bagaimana kenangan beroperasi dalam kepala kita dan mempengaruhi semua tindakan kita. Tidak seperti uang yang habis kalau dibelanjakan, tetapi kenangan adalah abadi. Meski tidak ada wujudnya, tetapi kenangan tak pernah habis. Bisa jadi, pada waktu-waktu tertentu kita melupakan sebuah kenangan, tetapi tidak ada jaminan bahwa di saat yang lain kenangan yang telah kita lupakan itu tidak akan muncul lagi menguntit setiap detik kehidupan kita. Alih-alih terlupakan, sebuah kenangan, bisa jadi, meski sudah lama tak berkelebat dalam ingatan kita, suatu ketika akan muncul jauh lebih jelas, jauh lebih detil. Meski begitu, seperti peluru yang juga tak kuat menembus lapis baja, kenangan pahit pun bukan tak memiliki peredamnya, barangkali ia luluh oleh ketulusan.

Cover dicopy dari amazone.com

Cover dicopy dari amazone.com

Membicangkan kenangan mungkin adalah pintu yang paling pas untuk mempelajari novel The Shadow of the Wind (TSW) karangan penulis Spanyol, Carlos Ruiz Safón. TSW adalah sebuah buku yang sangat kompleks, tetapi mengalir. Alur yang dibangun sangat rumit dan beranak-pinak, “bahkan subplot pun memiliki subplot,’ komentar Stephen King.  Selain kemampuan menyusun plot yang beranak-pinak dan eksplorasi terhadap kenangan yang menjadi tema sentral novel ini seperti yang akan kita lihat nanti, hal lain yang sangat layak dihormat dari Safón adalah kemampuan teknis menulisnya yang tidak membosankan. 

 

 

Safón selalu saja punya cara untuk tidak membuat pembacanya bosan. Ketika ia mengintrodusir seorang tokoh Bea ke dalam cerita misalnya, Safón menggunakan variasi yang sangat genius.  “Thomas had a sister, Beatriz,” demikian Safón mulai memperkenalkan Bea sebagai adik Thomas, salah seorang tokoh lain yang sudah diceritakan sebelumnya. Masih dalam alinea yang sama, ia kemudian melanjutkan, “Bea Aguilar was the very image of her mother and the apple of her father’s eye.” Setelah mendeskripsikan penampilan fisik Bea, meliputi rambutnya yang kemerahan, matanya yang biru kehijauan, dan lain-lain, Safón kemudian menutup pengenalan Bea ini dengan kalimat, “Bea had a boyfriend…,”. Cara memperkenalkan ini sangat variatif. Tanpa mengatakan bahwa tokoh baru yang dikenalkannya memiliki nama kecil Beatriz, nama lengkapnya Bea Aguilar dan akrab dipanggil Bea, Safón berhasil menyampaikan kepada pembacanya bahwa Bea adalah nama panggilan dari Bea Aguilar yang memiliki nama kecil Beatriz.  Variasi-variasi seperti ini banyak bertaburan pada sepanjang novel ini. Termasuk variasi dalam membuat plot yang beranak-pinak tanpa terjebak kerumitan yang membingungkan pembaca. Safón selalu saja menemukan media yang pas untuk menggelontorkan semua subplotnya, kadang-kadang melalui penceritaan langsung, kadang-kadang melalui surat satu orang tokoh ke tokoh yang lain dalam cerita, kadang-kadang melalui percakapan antar tokoh, dan bahkan dengan media dokumen.

The Shadow of the Wind bercerita tentang sebuah buku dengan judul yang sama. Kisah mengambil setting pada waktu belum ada e-mail dan komunikasi jarak jauh belumlah selancar sekarang. Diawali dengan penemuan buku itu oleh Daniel, anak seorang penjual buku bekas di Barcelona, Spanyol. Dalam novel ini buku diposisikan tak ubahnya seperti takdir, memiliki ketentuan sendiri. Kalaulah sebuah buku sudah ditakdirkan menjadi milik anda, maka orang lain tidak akan pernah mampu menemukannya. Atau dalam artian yang lebih luas, apabila sebuah buku sudah ditakdirkan menjadi jodoh seseorang, maka orang lain tidak akan pernah mampu menemukan banyak rahasia yang tersimpan dalam buku tersebut.

Permasalahan buku dan takdir ini sangat dipegang teguh oleh Daniel. Begitu ia menemukan buku TSW, maka ia memperlakukannya dengan sepenuh ketulusan hati. Bahkan ketika ditawar oleh seorang kolektor buku dengan harga yang sebenarnya tak wajar, si bocah bergeming, ia tak mau menjual buku tersebut. Ia membaca buku tersebut dengan sangat serius. Buku itu begitu menginspirasi si bocah, hingga akhirnya ia tenggelam ke dalam kisah buku tersebut, dan menelusuri akarnya di dunia nyata.

Sejatinya, buku TSW yang ditemukan Daniel, bukanlah sembarang buku. TSW adalah sebuah buku yang langka karena beberapa waktu sebelumnya semua kopian buku yang sama telah dirazia dan  dibakar oleh seseorang tak dikenal. Tak ada seorangpun yang tahu siapa yang merazia semua kopian buku TSW.

Melalui beberapa momen dalam hidupnya, akhirnya Daniel berhasil mengikuit kisah buku tersebut yang sama sekali belum diketahui oleh orang lain. Hampir semua orang yang ada di Barcelona dan menaruh perhatian yang dalam pada dunia perbukuan, sepakat bahwa pengarang TSW, Julian Carax, telah mati dalam sebuah duel dengan seorang polisi yang selalu mengejar-ngejarnya karena dendam masa kecil, Inspektur Fransisco Javier Fumero.

Di sinilah kita melihat bagaimana kenangan pahit beroperasi dalam diri inspektur Fumero. Fumero kecil adalah seorang yang miskin. Ayahnya seorang tukang sapu di sebuah sekolah kelas atas di Barcelona. Menimbang jasa-jasa Ayahnya kepada sekolah tersebut, maka pihak sekolah memperbolehkan Fumero kecil untuk bersekolah di sana bersama kaum jetset Barcelona. Pada saat yang sama, Julian Carax, sang pengarang TSW dalam cerita Safón, juga bersekolah di sekolah yang sama.  Selain Carax dan Fumero, juga ada Miquel dan Jorge Aldaya.

Miquel adalah anak seorang hartawan Barcelona, demikian juga Jorge. Miquel dan Carax adalah sabahat abadi. Terutama setelah Miquel kelak mendedikasikan bukan hanya semua harta warisan dari orang tuanya untuk menopang kehidupan Carax, tetapi juga nyawanya sendiri. Hal ini dilakukan karena ia begitu terkagum-kagum dengan kegeniusan Carax dalam menulis. Sementara Carax sendiri, sebenarnya adalah “anak” seorang tukang topi, bukan dari golongan yang berada. Meski pembaca dibuat bertanya-tanya mengapa Carax diangkat oleh Senorá Aldaya (ayah Jorge), untuk menjadi anaknya, tetapi pada bagian pertengahan Safón membongkar misteri itu dengan menampilkan cerita bahwa ternyata Ibu Carax yang cantik menjalin hubungan rahasia dengan Aldaya, sehingga sebenarnya Carax bukanlah anak “Ayahnya” yang tukang topi, melainkan anak Senorá Aldaya.

Fumero kecil adalah bocah nomer dua setelah teman-temannya. Dalam permainan, dalam pelajaran, bahkan ketika berhadapan dengan perempuan, Fumero adalah nomer dua. Posisi nomer dua ini dengan sendirinya diam-diam menyulut api dendam dalam dada  Fumero. Sulutan itu semakin menyala ketika ia mengetahui bahwa Carax adalah anak angkat Senorá Aldaya. Nyala semakin membesar ketika Carax terlibat percintaan dengan Penelope, adik Jorge, karena sebenarnya diam-diam Fumero juga menaruh hati kepada gadis yang sama.

Plot bertambah rumit dengan hadirnya percintaan remaja Carax dan Penelope. Di satu sisi, percintaan ini selalu saja menjadi bensin bagi dendam Fumero, di sisi lain, percintaan itu adalah terlarang dari perspektif Senorá Aldaya, karena kedua remaja tersebut sebenarnya adalah darah dagingnya sendiri, sesuatu yang baru diketahui Carax belakangan di masa tuanya. 

Dengan kenangan masa kecil yang pahit, hampir seluruh hidup Fumero habis dalam obsesinya terhadap Penelope dan dendamnya terhadap Carax. Hingga pada suatu hari, setelah mereka sama-sama dewasa, kedua orang ini terlibat duel. Banyak orang menduga bahwa Carax telah mati dalam duel itu. Tetapi sebenarnya yang mati adalah Miquel. Karena pada saat genting ia hadir menjadi tameng bagi sahabatnya, Carax. Adapun Carax, setelah kejadian itu ia menjadi buronan, terutama karena ia bermusuhan dengan seorang Inspektur Fumero. Carax kemudian melarikan diri ke Paris, di kota mana bakat menulisnya semakin tumbuh. Karena  Paris, seperti yang dipaparkan Safón, adalah satu-satunya kota di dunia dimana orang yang hendak mati karena kelaparan pun masih memikirkan seni.

Penelope sendiri, gadis yang menjadi rebutan itu, dalam kondisi menanggung kerinduannya yang betapa kepada Carax, mati dalam sekapan Senorá Aldaya.

Semua kisah itu sampai ke telinga Daniel kecil setelah ia melakukan penelitian kesana kemari tentang tokoh-tokoh yang ada dalam buku TSW. Daniel mendatangi banyak tokoh yang terlibat dengan kisah itu. Ia mendatangi Nuriel, seorang wartawati, pacar Miquel. Wartawati Nuriel sempat mendatangi Carax di Paris untuk mewawancarainya, di mana sang wartawati sendiri kemudian jatuh cinta kepada sang pengarang.

Carax menghabiskan banyak usianya dengan menulis novel-novel di Paris. Termasuk TSW yang ditemukan oleh Daniel, yang isinya kira-kira merupakan kisah kehidupan masa kecil sang pengarang, termasuk teman-temannya sendiri seperti Fumero, Miquel, Jorge, dan tentu saja sang kekasih, Penelope. Hingga suatu ketika ia tak kuasa lagi menahan kerinduannya kepada Penelope dan Barcelona.

Ketika ia sampai di Barcelona, ia menyadari bahwa hidupnya sudah diambang kehancuran terutama karena mengetahui Penelope telah lenyap bersama lenyapnya keluarga Aldaya yang menurut orang-orang telah pindah ke suatu tempat di Amerika Latin.

Menghadapi kondisi ini, Carax tak kuasa bertahan terhadap siksaan kenangan akan Penelope yang selalu menderanya setiap saat. Kenangan itu memburunya kemana pun ia pergi. Semakin menjadi-jadi karena kenangan itu sudah terlanjur ia tuliskan dalam sebuah novel, TSW.

Carax bertekad memusnahkan semua hal yang bisa membuatnya mengingat kekasihnya itu, termasuk TSW. Maka mulailah Carax memusnahkan semua kopian TSW. Malam-malam ia menyisir satu-persatu toko buku yang ada di Barcelona, menyuri TSW dari sana dan membakarnya. Memecahkan kaca jendela perpustakaan yang masih menyimpan kopian buku karyanya sendiri itu,  menyurinya dari sana, dan membakarnya. Bahkan lebih jauh, seperti pencuri ia mau mengendap-endap masuk ke rumah siapapun apabila ia tahu bahwa rumah tersebut menyimpan salah satu kopian buku TSW. Hingga pada suatu saat ia sudah memusnahkan hampir semua kopian buku tersebut, kecuali yang ada pada Daniel.

Mengingat Daniel hanyalah seorang anak beranjak remaja, sebenarnya bukanlah hal yang susah bagi Carax untuk menyuri buku itu dari sang anak. Apalagi Carax sendiri sudah bertransformasi dari seorang penulis yang genius menjadi lebih mirip detektif sakit jiwa yang mengumpulkan semua informasi tentang buku karyanya sendiri dalam rangka memusnahkannya. Dalam melakukan semua pekerjaannya, Carax, penulis genius yang sangat terbiasa dengan detil-detil itu, tidak pernah meninggalkan secuil jejakpun untuk dilacak orang.

Akan tetapi, ia mentok menghadapi Daniel. Hati Carax tersentuh ketika berhadapan dengan ketulusan Daniel. Batinnya terenyuh ketika melihat Daniel dengan sungguh-sungguh memiliki buku TSW. Ia tahu secara detil bagaimana Daniel bergeming dalam mempertahankan buku itu sekalipun ditawar dengan harga selangit oleh seorang kolektor.

Selain itu Carax juga seolah-olah melihat penjelmaan kekasih remajanya, Penelope, dalam diri kekasih Daniel, Bea. Semua hal itu kemudian membuat Carax urung memusnahkan kopian terakhir buku TSW. Alih-alih memusnahkan buku itu, ia malah membuka dirinya untuk dikenal lebih jauh oleh Daniel, sesuatu yang sudah lama diimpikan Daniel. Mereka kemudian menjadi sahabat. Carax mendukung habis-habisan hubungan Daniel dengan Bea.

Dalam sebuah kesempatan ketika Daniel sakit, pada saat tak seorangpun tahu, Carax masuk secara diam-diam ke dalam ruangan Daniel. Ia tersenyum dan mewariskan pulpen Victor Hugo kepada Daniel. Mutiara terakhir barangkali yang ingin dikatakan Safón kepada pembacanya adalah bahwa kenangan pahit dan dendam, pada akhirnya luluh juga oleh ketulusan. Meski tampaknya Safón lupa bahwa kenangan yang luluh pun tak obahnya seperti luka lama, sewaktu-waktu bisa berdarah kembali. (kutulis dalam sebuah momen yang mengecewakan tentang Barcelona—bb).