kompetiblogbadge-neo1Beberapa malam yang lalu, setelah capek membacai tulisan para blogger di kompetiblog, saya menonton film Naga Bonar Jadi 2. Entah karena capek atau memang sudah benar-benar ngantuk, hanya sesaat setelah selesai menonton film itu, saya merebahkan diri dan mulai memejamkan mata. Dalam posisi antara itu, antara terjaga dan tertidur, tiba-tiba saya merasa bahwa hp yang saya letakkan di samping bantal begetar. Dengan mata masih terpejam tangan saya meraba-raba mencari hp itu. Dan masih tanpa membuka mata, saya langsung mengangkat telfon. Halo. Selamat malam. Saya Bosman, ada yang bisa saya bantukah? Hohoho…maap Bang Bosman, saya menelfon malam-malam. Saya Naga Bonar. Begitulah sahutan orang yang menelfon malam-malam itu.

Meski diliputi banyak pertanyaan, di satu sisi misalnya saya masih sempat berfikir sekilas; Lho Naga Bonar kok bisa nelfon? Bukannya dia itu hanyalah tokoh fiktif belaka? Bagaimana dia bisa nelfon? Jangan-jangan??? Tetapi, entah memang karena berada dalam alam antara ataukah karena daya pikat yang ada dalam suara itu, saya malah tidak menanyakannya kepada si penelfon yang ngaku-ngaku Naga Bonar itu, saya malah langsung saja menjawab;

+Oh, Jenderal Naga Bonar. Ada apa gerangan Jenderal malam-malam nelfon begini? Adakah yang bisa saya bantu untuk Jenderal? Oh ya, Jenderal, saya baru saja nonton film Naga Bonar jadi 2 lho…

-Hahahaha…. Terima kasih Bang Bosman sudah nonton pilem itu. Itu pilem memang bagus untuk ditonton anak muda, biar tak hilang jiwa nasionalismenyalah. Bang Bosman tau kan sekarang jiwa nasionalisme para generasi muda kita memang semakin menipis.  

=Upsss… apa-apaan ini Jenderal satu ini? Kok malah kayak menyepelekan para pemuda zaman sekarang?   Apa dia tak tau kalau aku ini juga termasuk generasi muda? Apa sih maksud Jenderal Ular Sawah (ups…. Naga) ini? Tetapi, karena koordinasi antara otak dan mulut saya yang masih belum padu akibat berada di alam antara itu, saya tidak punya kemampuan untuk mendebat Jenderal satu ini. Saya hanya diam, hingga sesaat kemudian saya dengarkan lagi suaranya yang khas itu mengguntur di seberang sana;

-Jangan tersinggung pula kalau kubilang begitu, Anggap aja itu sebuah kritik yang membangun.

=Busyet deh. Kok dia bisa tau jalan pikiranku?

+Iyalah Jenderal, meski sempat agak bertanya-tanya tadi dengan ucapan Jenderal, tetapi memang apa yang Jenderal katakan itu rasa-rasanya benar belaka. Susah memang di zaman sekarang mencari anak muda yang memiliki semangat patriotisme seperti Jendera Naga ini. Jadi sebenarnya ada apa Jenderal malam-malam menelfon saya ini? 

-Gini Bang. Aku udah baca blog Abang tentang kompetisi blog itu, saya juga sangat tertarik Bang.

=Lho? Naga Bonar kok mau ikut kompetisi blog? Apa-apaan pula ini? Tetapi tentu saja, sebagai orang baik, alih-alih menanyakan itu serta-merta, saya malahan menjawab secara baik-baik saja pertanyaan Jenderal satu ini.

+Oh iya Jenderal, lomba itu sangat bagus, membuat generasi muda kreatif. Mungkin zaman sekarang nasionalisme itu memang bukan berperang lagi Jenderal, tetapi sudah berubah menjadi adu kreativitas, atau lain kata, medan perangnya telah berubah. Dari perang gerilya menjadi perang pemikiran dan adu kreativitas.

naga2

Jenderal Naga di YouTobe

=Nah lo. Gua ganti libas lu sekarang!!! 

 -Iya iya iya. Sependapatlah aku sama kau Bang. Kupikir memang begitulah seharusnya anak muda sekarang ini.

+Tapi apa Jenderal mau ikut lomba yang hadiahnya mengikuti course di Negeri Belanda, lawan Jenderal berperang dulu?

-Itu tak masalahlah bagiku. Kan Abang sendiri tadi yang bilang zaman sudah berubah. Akupun tentu saja ingin berubah, mau menyesuaikan diri sama semangat zaman dan gaya anak muda sekarang. Lagipula pengen juga aku ke Belanda menuntut ilmu.

=Bah!! Tambah ngawur aja Jenderal satu ini. Mana pengen sekolah lagi segala macam?

+Lho, Jenderal kan udah Jenderal? Mengapa sekolah lagi? Bukannya ilmu yang Jenderal peroleh dari lapangan jauh lebih bagus karena praktik langsung daripada di bangku kuliahan yang hanya teori saja?

-Nah itulah. Memang betul itu yang kau bilang itu. Tetapi kan aku juga butuh ijazah di zaman sekarang ini. Aku juga butuh plesir dan jalan-jalan di negeri Tulip itu. Lagipula, kalau di pertempuran dulu aku kan cuma belajar strategi gerilya. Sekarang sudah tak ada perang, ilmu itu tak laku lagi. Jadi biar tak lekang dimakan zaman aku juga harus mengembangkan diri. Aku mau belajar jugalah soal bangunan aer. Kata orang Belanda jagonya bangunan aer kan? Biar tak ketinggalanlah aku sama generasi kau ini. Dan biar kita bangun bendungan banyak-banyak di Bukit Barisan sana.  

+Wah wah wah… bagus sekali keinginan Jenderal itu. Progresif. Bangunan aer bangunan aer, itu artinya Jenderal mau ngambil jurusan Teknik Sipil, persisnya Hidrologi.

-Ya, maksudku itulah. Nah, itu makanya aku mau ikut kompetiblog dulu biar mulai perlahan-lahan prosesnya.

+Bukan hanya itu Jenderal. Jenderal tau kalo Belanda itu juga salah satu negara paling terdepan dalam riset perubahan iklim?

-Wah, kalo yang ini belum taulah aku.

+Nah, secara Negeri Belanda itu sangat rendah kalau diukur dari permukaan air laut, maka mereka sangat takut kalau Negeri mereka tenggelam akibat kenaikan muka air laut. Jadi mereka juga gencar riset di bidang itu Jenderal.

-Waduh-waduh, jauh sekali aku tertinggal informasi ini.

+Bukan hanya itu lho Jenderal. Masih ada lagi. Belanda juga jago di bidang managemen informasi kebumian. Jadi kalau Jenderal mau belajar natural resources management misalnya, ke Belandalah tempatnya Jenderal. Negara kita kan sepertinya paling tidak becus mengelola sumberdaya alamnya Jenderal.  

-Oh iya iya. Banyak sekali yang harus kupelajari di Belanda sana.

+Tapi, apa keluarga Jenderal mendukung rencana Jenderal ini?

-Hah! Kalo soal itu kan tinggak bilang saja sama Mak. Itu kan hanya masalah komunikasi saja. Pasti perempuan itu bisa terimalah. Masak dia tak mau melihat anaknya maju? Tak mungkin kan?

+Iya iya Jenderal betul itu. Jadi masalahnya apa Jenderal? Kudengar semua sudah mendukung. Keinginan kuat? Jenderal sudah pasti punyalah, Naga Bonar gitu lho! Emak pasti mendukung. Apa lagi kurangnya? Saya curiga jangan-jangan matahari pun berputar mengelilingi Jenderal sekarang untuk mendukung Jenderal mengikuti kompetisi blog ini. 

-Ini lagi tak ada matahari Bang. Ini kan malam.

+Ya iyalah. Maksudku kalau lagi sianglah Jenderal.

-Hahaha… Abang ini bisa aja. Masalahnya aku belum tau caranya gimana Bang.

+Oalah… jadi dari tadi ngomong mutar sana mutar sini cuma pengen tau gimana caranya ikut kompetisi itu?

-Iyalah pula Bang. Tak  mungkinlah aku main tembak langsung. Macam gerilya pula nanti kalau aku tembak langsung. Diplomasi dikit-dikitlah.

+Betul juga itu. Caranya gampang Jenderal. Jenderal sudah punya blog kan?

-Aeh…, kalo itu sudah dari dulu kita.

+Nah, kalau sudah, Jenderal tinggal klik aja bagde oranye kompetiblog yang ada di blog-ku itu. Nanti Jenderal tinggal telusuri caranya dari situ. Gampang kok.

-Iyalah Bang, saya coba-coba nanti. Tapi nanti kalau ada masalah kutelfon lagi ya Bang.

+Bolehlah kalo itu Jenderal, tapi jangan malam-malam ginilah, nanti awak salah-salah kasi informasi pula kan?

-Okelah Bang. Tengkyu ya.

+Sama-sama Jenderal. Selamat bertempur. Mmmm…maksudku selamat ngeblog.

Meski masih tak habis pikir dengan semuanya, tetapi saya sudah tak memiliki kesadaran lagi untuk memikirkannya. Sebelum blas jatuh tertidur dan melupakan semuanya, seingat saya, saya masih sempat bergumam: “kompetiblog, kompetiblog. Naga Bonar aja pengen….”   

Kategori: wartawan