kompetiblogbadge-neoBeberapa hari yang lalu, setelah mendapatkan informasi tentang kompetisi blog ini saya iseng-iseng menelfon Emak. Selain karena ingin melepas kangen, saya juga ingin memohon do’a restu dari beliau itulah. Karena saya sendiri masih percaya bahwa do’a Emak adalah salah satu do’a yang paling manjur di atas dunia ini. Kadang-kadang, tentang do’a Emak ini, di dalam kepala saya sering muncul pengandaian. Kalaulah do’a itu kita andaikan sebagai sebuah alat transportasi, maka do’a Emak ini adalah pesawat jet, alias luar biasa cepat dalam mengantarkan orang sampai ke tujuannya. Bandingkan misalnya dengan do’a seorang teman yang sering saya bayangkan seperti taxi, atau doa kakak yang sering saya bayangkan sebagai pesawat Boing.   Intinya, untuk terjun dalam kompetiblog ini saya merasa butuh pesawat jet, alih-alih sekedar taxi ataupun pesawat Boing, agar cepat sampai di tujuan. Dengan kata lain, agar dapat memenangkannya. Sayang sekali percakapan dengan Emak di telfon itu berlangsung dalam Bahasa Mandailing, sehingga saya terpaksa menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia agar bisa dimengerti oleh halayak yang lebih luas. Tentu saja dengan permak sana permak sini.  

Pertama-tama, tentu saja baku-sapa tentang kabar dengan Emak. Sehatnya kau? Sehat. Emak? Syukurlah kami semua di sini dalam keadaan sehat juga. Setelah itu, tanpa menunda-nunda waktu saya segera menjelaskan tujuan saya pada Emak;

+Mak, saya mau ke Belanda Mak

-Haah…? Belanda? Penjajah itu ya???

=Waduh, respon Emak benar-benar diluar dugaanku. Benar-benar perempuan satu ini selalu diluar dugaan. Tak tertebak. Apa akal?

+Dulu memang penjajah Mak, tetapi sekarang kan zaman sudah berubah.

=Aku mencoba menerangkan sekenanya pada Emak, sebenarnya cenderung asal jawab saja, daripada diam.

-Sekali penjajah tetap penjajah.

=Aih…, kembali aku dibuat bingung. Perempuan satu ini memang sangat keras kepala. Tapi bukan anaknya donk kalo enggak kenal wataknya. Mungkin kalau kami sebaya dulu, aku enggak akan pernah berani mendekatinya. Salut untuk Bapakku yang bisa “menyuri” hati Emak. Harus ada strategi tertentu kalau berbicara dengannya. Minimal dia akan bisa menerima kalau ada sisi yang menguntungkan dari sesuatu.

+Tenang dulu Mak. Gini, pemerintah Belanda itu sekarang banyak memberikan beasiswa bagi putri/a terbaik Indonesia, semuanya dibiayai Mak. Nah baik kan mereka?

-Hmm… baru kudengar sekarang ini.

+Makanya, gaul Mak. Salah satunya adalah kompetiblog, yaitu kompetisi blog.

-blak blek blok, apa itu?

=Aih.., tambah susah. Bagaimana menjelaskan blog pada Emakku sayang yang sudah tua ini? Jangankan blog atau menyentuhkan jemarinya di keyboard, dulu, ketika melihat aku pegang laptop sajapun, dari bahasa tubuhnya aku tahu bahwa sepertinya dia langsung merasa bahwa apa yang kupegang berada diluar jangkauan pemikirannya. Mungkin dengan ngomong komputer dia akan dapat menerima, atau minimal enggak tanya lebih jauh.

+Blog itu, adanya di dalam internet Mak. Internet itu, adanya di dalam komputer.

-Ooo.. iyalah kalo begitu. Terus siapa yang membayar ongkosmu ke sana? Mak jelas tak bisa, sudah habis uang membayari keperluanmu sampai selesai kuliah.

=Aha… benar kan dugaanku? Omongan tentang blog dan komputer langsung berhenti? Tapi, cepat sekali dia menemukan dan memindahkan topik pembicaraan, sehingga ketidaknyamanannya terhadap benda-benda modern seperti komputer langsung tidak mendapatkan ruang untuk dieksplorasi lebih jauh. Perempuan satu ini memang…

+Olo…olo…, tentang itu Mak enggak usah khawatir. Panitia menanggung ongkos bagi peserta yang memenangkan perlombaan itu.

-Terus? Ongkos pulang? Jangan-jangan nanti sampai di sana kau tak pulang-pulang pula? Seperti Willem Iskander itu, akhirnya kawin pula dia dengan orang Belanda. Mau begitu jugakah kau? Ah, mau kubilang apa sama tetangga-tetangga nanti kalau kau kawin sama perempuan Belanda?   

 +Aih…, Emak ini. Kan ongkosnya pulang pergi Mak.

-Oh iya iya iya. Tapi…

+Tapi apa Mak?

-Apa kau bisa Bahasa Belanda? Dulu waktu kuliah kan kau cuma kursus Bahasa Inggeris? Nah menyesal kau sekarang kan? Dulu kubilang setiap hari agar kau belajar Bahasa Belanda dari mendiang Opungmu, tapi kau tak pernah mau. Sekarang menyesal kau kan? Tak bisa kau Bahasa Belanda. Coba kalau kau belajar Bahasa Belanda dari mendiang Opungmu, sudah mantap Bahasa Belanda-mu sekarang. Mendiang Opungmu itu…, Bah! Bahasa Belandanya hebat sekali. Sampai di waktu tuanya dia agak susah membedakan, sering berbicara dalam Bahasa Belanda pada kita yang tak bisa. Masih ingat kau kan? Apa kubilang dulu? Belajar kau Bahasa Belanda!

=Alamak! Emak ini kok jadi ngomongin mendiang Opung? Bukan ngomongin tentang aku? Tapi enggak apa-apalah. Strategi kedua menghadapi perempuan ini harus diikuti dulu, nanti pelan-pelan baru dialihkan topik pembicaraannya, atau dia sendiri pasti akan balik lagi nanti.

-Kau tau, mendiang Opungmu itu dulu sebenarnya berhubungan baik dengan orang Belanda. Dia membeli kemenyan dari orang-orang kita dan menjualnya pada orang Belanda. Itu sebabnya dia bisa Bahasa Belanda. Meski pada akhirnya terjadi perang, dan tentu saja mendiang Opungmu harus memihak Republik.

=Iya deh Mak kataku dalam hati. Opuuung Opung. Diam sebentar. Mungkin Emak mengais kembali kenangan masa muda dari memorinya. Tak lama kemudian perempuan itu menyambung lagi;

-Sekarang bagaimana? Tak bisa kau Bahasa Belanda kan?

=Nah benar kan? Dia sendiri balik lagi ke pokok persoalan.

+Tak masalah Mak. Bahasa Belanda tak dibutuhkan untuk kepentingan ini. Lagipula sekarang kalau mau kuliah di Belanda, banyak kok Mak kuliah yang disampaikan dalam Bahasa Inggris.

-Bah? Kau sebenarnya mau apa? Mau kompetisi blak blek itu tadi atau mau kuliah lagi?

+Nah itu dia Mak. Aku mau dua-duanya. Mak kan selalu bilang agar aku sekolah sampai setinggi langit?

-Iya lah kalau itu.

+Nah, pemerintah Belanda itu juga memberikan beasiswa Mak untuk puteri/a Indonesia yang memenuhi syarat-syarat.

-Ooo… Baik juga mereka itu ya?

+Nah, tu kan? Makanya, Mak lihat juga donk apa yang terjadi sekarang, jangan cuma berkutat melihat yang telah sudah. Sekarang itu Mak, banyak yang bukan orang Belanda yang kuliah di sana. Ya orang Indonesia, ya orang Cina, ya orang Jepang, dan lain-lain.  Pokoknya,

=Ups… akhirnya keluar juga kata pamungkas itu “pokoknya”

+dari seluruh dunia Mak. Jadi aku bisa bergaul dengan orang dari seluruh dunia. Seluruh dunia. Rencanaku, kalau aku bisa memenangkan kompetisi blog ini, maka aku akan bisa mendapatkan kesempatan mengikuti kursus pendek selama dua minggu di Belanda sana Mak. Sekaligus untuk memperlancar Bahasa Inggris-ku dan bertemu teman-teman yang baru, serta mengenal Belanda lebih jauh. Nanti setelah itu baru aku daftar beasiswa kuliah ke Belanda. Maksudku, biar kalau diterima kelak enggak terlalu kaget.  

-Ya… ya… ya… Mak ngerti sekarang. Tapi? Kau mau ambil jurusan apa?

+Kalo soal itu nantilah Mak. Gampang itu. Semua jurusan ada di Belanda. Mulai dari A sampe Z Mak.

-Iyalah. Mak percaya saja sama kau. Kau sudah pasti lebih tahulah daripada Makmu ini.

+Nah gitu donk Mak. Sekarang Mak do’akan saja aku biar menang kompetisi blog ini Mak.

-Iya pastilah Mak do’akan kau menang kompetisi blak, eh apa tadi?

+Blog Mak.

-Ya..ya… Mak do’akan kau agar menang kompetisi blok ini.

+Makasih ya Mak…

-Ya, baik-baik kau ya.

+Iya Mak

=Mak, Emak. Emakku sayang.