Masih dari file-file yang lama, saya menemukan sebuah esei yang saya tulis dulu pada akhir tahun 2005 sebagai tanggapan atas cerpen dua orang kawan saya, Nugroho Imam Setiawan dan Evaristus Bayu Pramuthadi. Tulisan ini langsung saya muat tanpa melakukan editing. Selamat menikmati.

***

Membaca Karya Sastra: Mengendus Nafas Zaman

Dalam kumpulan cerpen KATASTROPI terdapat 14 cerita pendek (cerpen), beberapa puisi, dan esei foto karya teman-teman kita sendiri. Aneka tema yang terpatri dalam karya-karya tersebut. Mulai dari lekuk-liku percintaan yang tak pernah berbalas, percintaan laten yang bergayung-sambut namun terperangkap dalam sengkarut konvensi sosial, kegelisahan tanpa alasan, kerinduan untuk mengingat belaian kasih sayang mama sementara diri sudah terlanjur amnesia, pencarian tak kenal ujung, hujan yang turun di segala penjuru selama berbulan-bulan, eksplorasi seni melalui bejana foto, semangat kebangsaan  á la anak muda, kisah pilu penjala ikan yang terpaksa meninggalkan kampungnya, kehidupan yang kontras antara seorang pelacur jalanan dengan pelacur high class, kesunyian di suatu kampung nelayan karena bencana tsunami dan rasa bersalah seorang ahli kelautan karena sekian jilid buku-buku yang dibacanya di perpustakaan menjadi tak berarti, kesetiaan seorang perempuan dalam menemani malam, seseorang yang menjadi makhluk sempurna tak bertelinga karena kenaikan pangkat, dan pelbagai tema lainnya yang mungkin ditangkap oleh pembaca. Tergantung frame seperti apa yang dimiliki oleh pembaca dalam menikmati karya-karya para penulis pemula tersebut.

Dalam tulisan ini akan dieksplorasi dua cerpen yang terdapat dalam KATASTROPI, yaitu cerpen yang berjudul ’Negeri Embun’, karya Evaristus Bayu Pramutadi (EBP), dan ’Juang’, karya Nugroho Imam Setiawan (NIS).  

Ada beberapa alasan tentang pemilihan menganalisis kedua cerpen tersebut. Yang jelas bukan karena kedua cerpen itu lebih baik dari yang lainnya, tetapi, pertama, lebih kepada relevansi substansi cerita yang diangkat oleh kedua cerpen apabila dikontekstualisasikan dengan kondisi kekinian yang kita alami. Hal ini menjadi penting, karena banyak kalangan yang masih setia meyakini, bahwa karya seni—termasuk karya sastra di dalamnya—merupakan medium yang paling ampuh untuk mengenali suatu zaman. Melaui karya sastra, maka kita, pembaca, akan dapat mengimajikan pendapat seseorang (penulis) terhadap suatu hal. Dan karena pada dasarnya seseorang yang berpendapat—dalam hal ini penulis karya sastra—tidak berada dalam suatu ruang yang kosong, tetapi hidup dalam keseharian yang kompleks, dalam interaksi antara manusia yang khas, maka boleh jadi pendapat yang disampaikannya melalui karya sastranya merupakan juga pendapat zaman yang melingkupi hidup sang penulis. Pendeknya, dengan membaca sastra sebagai suatu ’kenyataan hilir’ maka kita mencoba untuk mengimajikan sebuah ’kenyataan hulu’ yang pernah terjadi dalam suatu rentang ruang-waktu pada suatu masyarakat.

Alasan kedua, rasa-rasanya kedua cerpen tersebut secara estetika tidak kalah jauh  dengan pelbagai cerpen yang sering dimuat di media massa yang menjadi konsumsi kita setiap minggu. Mungkin hanya permasalahan waktu saja, kalau kedua penulis itu setia dengan proses, maka dalam tempo yang tidak lama barangkali nama mereka akan menghiasi lembaran-lembaran media massa nasional.

Ketiga, komunitas kita—Jurusan Teknik Geologi FT-UGM angkatan 2000—yang multikulutur, mewajibkan kita untuk selalu bersinggungan dengan segala sesuatu yang bernama Indonesia—yang juga multikultur. Terlepas dari pelbagai sikap terhadap sesuatu yang bernaman Indonesia itu, suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, mengutuki atau memuja-puji, faktual, sampai sekarang kita semua belum dapat melepaskan diri dari sesuatu entitas yang bernama Indonesia itu.

Terakhir, keempat, kedua penulis, yang seperti kita ketahui bersama, adalah dua orang mahasiswa semester akhir—yang satu bahkan sudah alumni—pada suatu Universitas yang konon namanya sering hadir dalam do’a-do’a anak SMU agar kelak dapat mencicipi pengalaman menjadi mahasiswa di Universitas tersebut. Dengan ’membaca’ karya mereka secara serius, bisa jadi kita sedang ’menebak’ isi kepala generasi di zaman kita yang posisinya diimpikan banyak generasi berikutnya. Dan dengan ’menebak’ isi kepala  generasi zaman kita yang posisinya diimpikan generasi berikutnya, bisa jadi kita sedang ’meramalkan’ nasib Republik ini beberapa tempo ke depan. Dengan parade alasan seperti itu, rasa-rasanya tidak ada alasan tandingan untuk menyatakan bahwa kedua cerpen termaksud tidak penting.

Sinopsis

Cerpen pertama, ’Negeri Embun’ disampaikan dalam bahasa yang sangat renyah, alur yang liat dan rapat, serta teknik bercerita yang tidak menggurui. Cerpen ini bercerita tentang seseorang tokoh bernama ’Aku’ yang mengirimkan surat buat kekasihnya bernama Lin. Tokoh cerita, Aku, adalah seorang pengembara yang kemana-mana menaiki kuda. Pada suatau ketika, setelah melalui jalan yang berliku, ’Aku’ sampai di ’Negeri Embun’ yang sudah termasyhur dari mulut-ke mulut. Manakala ia sampai di ’Negeri Embun’, hari sudah menjelang senja. Bersama warna ’lesatan-lesatan cahaya keemasan’ senja yang semakin melemah, ’Aku’-pun menimati malam pertamanya di ’Negeri Embun’.  Gelap pun turun memeluk bumi.

Malamnya diceritakan ’Aku’ menemukan sebuah pondok mungil yang dihuni oleh seorang perempuan yang merawat ayahnya yang sedang sakit-sakitan. Melalui mulut si perempuan inilah, si ’Aku’ mendengar cerita tentang ’Negeri Embun’—negeri si perempuan. Dikatakan oleh si perempuan bahwa semakin lama negerinya semakin tandus, penduduknya berpindahan ke negeri jauh. Semua itu dikarenakan datangnya ‘orang-orang asing’ yang membawa ‘benda-benda aneh’ dan memamerkannya kepada penduduk ‘Negeri Embun’. Satu-persatu kemudian penduduk di Negeri Embun tergiur, dan mulai meninggalkan negerinya. Sementara ‘orang-orang asing’ itu kemudian menguasai ‘Negeri Embun’ sepetak demi sepetak, mengambili kayu-kayunya yang oleh orang asing kemudian dijual dengan harga yang tinggi, membangun rumah-rumah besar dan kota-kota, dan seterusnya.

Hingga suatu ketika batang pohon di ‘Ngeri Embun’ hampir kandas. Hanya tersisa sebatang pohon. Yaitu, ’pohon harapan’ yang dijaga dengan setia oleh sang perempuan. Karena penduduk ’Negeri Embun’—melalui narasi yang disampaikan oleh si perempuan kepada si pengembara, Aku—percaya bahwa ’kehidupan baru bisa lahir dari pohon tersebut.’

Pada penghujung cerita, penulis menyadarkan kembali pembaca, dengan mengingatkan bahwa cerita itu adalah surat yang dikirim oleh si pengembara kepada kekasihnya bernama Lin. Pelbagai hal yang tidak masuk akal—yang sebenarnya merupakan lubang logika—, seperti, darimana si perempuan di ’Negeri Embun’ mendapatkan roti untuk menyambung hidupnya, bagaimana ia bertahan hidup di ’Negeri Embun’ yang telah tandus, dan bagaimana cara si perempuan merawat pohon terakhir itu, ditutupi dengan sangat elok oleh penulis dengan menuliskan bahwa dalam surat yang dikirim oleh ’Aku’ kepada Lin, agar Lin jangan menanyakan semua itu. Karena ’Aku’ sendiri tidak mengetahui jawabannya.

Cerpen kedua, berjudul Juang. Setting dimulai dengan keadaan seorang pria yang sedang gelisah karena menunggui istrinya yang sedang melahirkan. Saking gelisahnya, nafas sang tokoh—juga bernama ’Aku’—seperti ’mau putus’, pelbagai posisi duduk sudah dicobanya, semua koran hari itu sudah dibacanya, bahkan entah sudah berapa batang rokok yang sudah dihisapnya, namun semua itu tidak sanggup menenangkan si pria yang sedang menunggu kelahiran buah cintanya dengan orang yang disayanginya itu.

Cerita kemudian berkembang. Melalui pengakuan tokoh ’Aku’, diketahui bahwa ia adalah seorang tentara yang selalu berjuang untuk republik. Sampai-sampai, sebagai wujud kecintaannya kepada republik, sang ayah menamai anaknya dengan ’Juang’. Dengan harapan kelak ia dapat menyusul ayahnya untuk selalu berjuang demi republik.

Mereka sekeluarga tinggal di sebuah desa kecil yang permai (mungkin semacam asrama tentara?), dan hidup bahagia sebagaimana lazimnya pasangan muda yang baru mendapat karunia anak pertama. Suatu hari, di tengah-tengah pelbagai isu yang berseliweran di media massa dan di kalangan mahasiswa, terbetik kabar bahwa negeri mereka—dalam cerita disebut sebagai republik—sedang terlibat polemik dengan negara tetangga. Konflik interest berpangkal pada perebutan dan saling mengklaim di wilayah perbatasan. Dan suasana semakin runyam karena republik si ’Aku’ baru saja kehilangan salah satu pulaunya yang jatuh ke bawah kekuasaan negara tetangga tadi.

Suatu siang, sepulang membelikan oleh-oleh boneka kayu untuk anaknya, sang prajurit pulang ke rumah dengan membawa boneka kayu yang disimpan di dalam kantong celananya. Sesampainya di rumah, sang prajurit mendapati bahwa ia sedang kedatangan tamu, yaitu rekan-rekannya di kesatuan. Singkatnya, ternyata detik itu juga sang prajurit harus bersiap, meninggalkan anak-istrinya, untuk berangkat ke medan perang, karena republik sedang membutuhkan.

Cerita kemudian beberapa bagian diisi oleh monolog sang prajurit yang sudah berada sekian waktu di medan perang guna membela republik, sembari diam-diam menanggungkan kerinduan yang sangat terhadap anak-istrinya di rumah.

Cerita ditutup dengan mengklimakskan segala ketegangan yang sudah dibangun dengan sebuah teknik memberi kejutan di akhir cerita, bahwa segala monolog sang prajurit tentang kepulangannya ke rumah mereka, hanya hadir dalam mimpi (tepatnya mungkin ilusi), karena ternyata sang prajurit sedang dalam keadaan sekarat antara hidup dan mati karena terkena terjangan timah panas. Dalam sekaratnya, sang prajurit terus-menerus mengigau dan memasukkan tangan ke dalam sakunya yang, ternyata kemudian diketahui oleh teman-temannya berisi sebuah boneka kayu. Boneka kayu, hadiah untuk si Juang anak tercinta, yang tidak sempat diberikan.

Membaca kedua cerpen di atas, tidak dapat tidak, imajinasi kita kemudian diajak untuk mengembara kepada suatu hal yang berurusan dengan rasa kebangsaan. Karena kedua cerpen berisi tentang negeri. Cerita pertama menghadirkannya dalam suasana klasik, dengan memakai kata ’Negeri Embun’, sementara cerpen kedua menghadirkannya dalam bentuk ’republik’.

’Negeri Embun’ dan Local Wisdom yang Terabaikan

Melalui cerpen ’Negeri Embun’, kita diajak untuk masuk, menelusup kembali ke dalam perkamen sejarah. Karena aroma yang ditampilkan adalah warna-warna klasik. Pengembara yang berkuda, negeri yang hijau, telaga, kijang-kijang yang merumput dan seterusnya yang, pendek kata tak mungkin kita jumpai di zaman modern seperti sekarang ini.

Besar kemungkinan dalam menulis cerita ini, penulisnya membayangkan sesuatu kejadian jauh pada tahun-tahun sebelum kemerdekaan. Ketika para kolonial datang ke Nusantara (ketika itu sesuatu yang bernama Indonesia belum lahir). Dengan membawa ilmu ’modern’ (baca: Barat) para kolonial kemudian mendirikan sekolah-sekolah di Nusantara. Para kolonial datang ke Nusantara pada awalnya sebagai saudagar rempah-rempah, tetapi lama-kelamaan berkembang menjadi penjajah. Mereka membuka hutan-hutan, membangun perkebunan-perkebunan, dan mendirikan sekolah-sekolah untuk menutupi tenaga administrasi di perkebunan-perkebunan mereka. Banyak sekolah kolonial yang terkenal, sebut saja misalnya sekolah-sekolah angka loro yang tersebar di pelbagai daerah, seperti di sekitar Solo dan Yogyakarta.

Tetapi apa kemudian yang terjadi? Ternyata penjajahan yang bersimaharajalela. Benar bahwa merupakan suatu kebanggaan bagi para ’pribumi’ untuk menjadi pekerja di perkebunan Belanda. Atau yang dalam cerpen ’Negeri Embun’ diungkapkan EBP dengan menuliskannya sebagai:

”Entah mengapa, penduduk Negeri ini tak terlalu peduli soal upah, sepertinya bekerja untuk orang-orang asing itu merupakan suatu kehormatan.”

Senyatanya memang demikianlah yang terjadi zaman dahulu. Dekat dengan Belanda adalah sebuah kehormatan. Karena Belanda adalah simbol kemajuan, simbol peradaban yang lebih adiluhung, artinya siapa saja yang bekerja untuk Belanda, maka dengan sendirinya ia akan ’naik kelas’ dalam strata yang ada pada masyarakat.

Tetapi selain itu, cerita ini juga menyimpan amunisi kritik yang sangat dahsyat terhadap kehadiran ’orang-orang asing’ di ’Negeri Embun’, yang disampaikan oleh penulisnya melalui mulut sang perempuan yang bercerita terhadap sang pengembara:

”Tapi perkebunan mereka tidak seperti perkebuanan kami. Mereka berkebun dengan rakus, segala hal dilakukan untuk mencari keuntungan. Mereka memberi kami upah yang sedikit, dan meminta banyak dari kami.”

Petikan di atas sekaligus merupakan pernyataan secara implisit, bahwa kedatangan ’orang-orang asing’ di ’Negeri Embun’ bukan hanya untuk berkebun dan mengambil kayu-kayu di ’Negeri Embun’, tetapi sekaligus telah mengubah struktur masyarakat yang ada di ’Negeri Embun’. Dari Masyarakat yang ’senang bercocok tanam’ menjadi kuli-kuli perkebunan, dan mulai satu-persatu meninggalkan ’sawah dan ladang’ mereka karena tergiur oleh cerita-cerita yang dibawa oleh ’orang-orang asing’, terutama menjadi kaya di negeri asal ’orang-orang asing itu’.

Dan sepertinya dalam cerita ini, penulis tidak memilih ’sikap normal’ seperti layaknya seorang ilmuwan sejati, mengatakan fakta apa adanya, tetapi ketakutan untuk menentukan sikap. Penulisnya melakukan pemihakan dengan menyatakan secara eksplisit melalui mulut sang perempuan bahwa pada akhirnya perkebunan-pekebunan yang dilaksanakan oleh ’orang-orang asing itu’ tidak bertahan lama:

”Rupanya, tanah kami ini tak tahan dengan kerakusan orang-orang asing itu. Tanah yang subur pun terkuliti. Orang-orang asing itu lalu mulai mencari lahan yang baru, dan menghasilkan tanah yang tandus. Dan semua berjalan seperti semula. Lambat laun, tanah-tanah subur itu habis oleh ketamakan mereka.”

Cerita ditutup dengan kehormatan sang pengembara terhadap sikap sang perempuan yang dengan teguh memegang keyakinannya:

”Yang aku tahu hanyalah, perempuan itu begitu teguh mempercayai harapannya, yang entah kapan bisa ia raih.”

Kalimat penutup ini seolah menjelaskan beberapa pertanyaan yang tak terjawab pada bagian-bagian sebelumnya. Misalnya, tentang teka-teki apa yang membuat si perempuan begitu teguh menjalankan usahanya menjaga pohon terakhir, sementara bagi si pengembara itu tidak dapat dipahami dengan logikanya. Sebuah teknik penyajian yang sangat cerdik: ”menjawab pertanyaan dengan ketidaktahuan.”

Dalam petikan terakhir ini sebenarnya kita diajak oleh penulis cerita ini untuk memasuki sebuah labirin perdebatan dalam ilmu pengetahuan yang sepertinya tidak akan pernah selesai. Yaitu perdebatan anatara dua pihak yang berasal dari bangunan logika yang berbeda. Dalam kasus cerita ’Negeri Embun’ direpresantasikan oleh sang perempuan dan sang pengembara. Sang perempuan menjaga pohon harapannya dengan teguh, sementara sang pengembara tidak pernah mampu memahaminya.

Membacanya, mau tak mau memaksa otak saya—BB—teringat kepada sebuah kisah penduduk nun di Pulau Borneo sana…

Barangkali nama suku Dayak dengan kebiasaan ’Ladang berpindah’-nya sudah tidak asing di telinga kita. Pada tahun 90-an oleh pemerintah Orde Baru—dengan para teknokratnya[1] dari kalangan universitas—, suku ini kemudian dicap sebagai suku yang tidak ramah lingkungan.  Apa lacur?

Ternyata setelah diteliti, kebiasaan perladangan berpindah suku Dayak tidak sejahat yang dikatakan oleh pemerintah Orde Baru. Suku dayak dalam menjalankan pola perladangan berpindahnya memiliki siklus tersendiri yang sangat ramah lingkungan. Terbukti beratus-ratus tahun mereka hidup di Pulau Borneo tanpa pernah menyebabkan bencana-bencana lingkungan seperti hutan gundul dan kebakaran hutan.[2] Tetapi, pemerintah Orde Baru dalam tiga dekade lebih masa ia berkuasa di Republik ini, ternyata menghasilkan deforestasi, pembalakan haram (ilegal logging), dan kebakaran hutan besar-besaran.   Dapat kita lihat bagaimana sebuah logika yang datang dari luar (dalam kasus suku Dayak: Orde Baru, dalam cerpen ’Negeri Embun’: sang pengembara) tidak dapat memahami cara berfikir orang lokal. Para teknokrat Orde Baru, alih-alih memahami, tetapi malah menyebabkan kehancuran pada lingkungan tempat orang Dayak tinggal. Sementara sang pengembara dalam cerpen ’Negeri Embun’ tidak mampu memahami tindakan si perempuan dalam menjaga ’pohon terakhirnya’. Bedanya, kalau Orde Baru melakukan ’kekerasan-kekerasan ilmu pengetahuan’ (epistemic violences) dengan memaksakan kebijakan kepada orang Dayak berdasarkan apa yang dipahami oleh Orde Baru terhadap orang Dayak, maka dalam cerita ’Negeri Embun’ sang pengembara memilih menghormati sikap si perempuan yang menjaga pohon terakhirnya, meski ia tidak pernah tahu (baca: memahami) penyebabnya, dengan cara menceritakannya lewat surat kepada kekasihnya, Lin. Dua pilihan sikap yang sangat berbeda—untuk tidak menyebutnya sebagai bertolak belakang.

’Juang’ dan Per’juang’an yang Tak Pernah Kehabisan Junior

Dalam cerpen Juang, dengan plot yang sangat memukau, berbeda lagi setting ruang-waktu yang kita kenali dari simbol-simbol dan kejadian-kejadian yang ditampilkan oleh penulisnya. Seolah kita diajak untuk kembali ke beberapa saat yang lewat ketika terjadi perebutan (dan saling mengklaim) Blok Ambalat antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Malaysia.

Penulis ’Juang’ memilih bercerita dalam perspektif seorang prajurit: bagian terdepan dalam sebuah peperangan. Kemungkinan besar penceritaan melalui tubuh seorang prajurit ini dilakukan oleh penulisnya karena ingin mengungkapkan kecintaannya kepada Republik ini. Tubuh prajurit dipakai sebagai media/corong belaka. Karena lazim permakluman, bahwa terlalu sulit (baca: malu) bagi seorang mahasiswa untuk mengakui mencintai Indonesia setelah sekian daftar panjang citra jelek Negeri ini. Mulai dari kondisi Indonesia yang sekarat karena tidak dapat melepaskan diri dari gurita hutang internasional, trauma sejarah terhadap kasus-kasus kejahatan HAM di Timtim, Aceh, Papua, dan pelbagai peristiwa lainnya seperti Semanggi, Tanjung Priuk, Lampung dan lain-lain, sampai pada cerita ketidakpernahpedulian pemerintah terhadap nasib kaum-kaum lemah yang termarjinalkan. Baik di desa maupun di kota.

Di desa, sekian juta petani semakin menderita di bawah ketergantungan terhadap pupuk, pestisida, dan pelbagai bahan kimia lainnya sebagai dampak dari kebijakan modernisasi pertanian di tahun 70-an. Sementara di kota, sekian kelompok-kelompok minoritas termarjinalkan. Mulai dari pengamen, pedagang kaki lima (PKL), penghuni pinggir kali (girli), dan pemukiman-pemukiman kumuh lainnya, sebagai akibat pengambilan kebijakan yang ’tidak berpihak’. Dan anehnya, semua itu terjadi di negeri yang melimpah-ruah akan sumberdaya alam. Layak, kalau penulis cerpen ’Juang’ kemudian mengungkapkan kecintaannya, dengan cara lain: meminjam narasi seorang prajurit, karena ia yang mahasiswa, mungkin merasa (terlalu) malu mengungkapkannya secara langsung. Dalam cerpen ’Juang’ hal ini terdeteksi pada kalimat:

”,…[dan] republik ini baru akan sadar setelah merasa kehilangan suatu pulau karena sebelumnya para pejabatnya terlena oleh nikmatnya korupsi yang mereka lakukan dan tidak pernah memperhatikan pulau-pulau naungannya. Itu yang kutahu dari tetangga-tetanggaku sepulang dari merantau untuk menempuh ilmu di kota lain. Mereka adalah mahasiswa yang selalu kritis menyikapi gejolak republik ini dan aku hanyalah seorang tentara yang selalu patuh pada komando atasanku.”[3]   

Jelas terlihat bagaimana narasi seorang prajurit ’dipinjam’ untuk menyampaikan opini seorang mahasiswa—jelas-jelas, penulis cerpen ini sendiri adalah seorang mahasiswa, atau katakanlah sekarang mantan mahasiswa.

Melalui narasi sang prajurit juga dapat kita ketahui bahwa kebenaran pribahasa ’air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga’ terjadi karena sesuatu yang direkayasa. Sesuatu yang memang diusahakan. Sebagai ’proyeksi psikologis’ yang dipantulkan seorang Bapak (dalam cerpen ’Juang’: sang prajurit) kepada anaknya (dalam cerpen ’Juang’ adalah Juang sendiri). Proyeksi psikologis ini diuraikan dengan cara pemberian nama yang sangat sarat makna oleh sang prajurit kepada anaknya:

”,…[Mirna], istriku, dan anakku, Juang. Juang, begitulah kuberi nama anakku. Cukup Juang. Tak kurang tak lebih. Karena kuharap dia akan menyusul bapaknya berjuang untuk negeri ini.”[4]

Petikan di atas mungkin dapat menjelaskan kepada kita mengapa sebuah perjuangan di suatu daerah tertentu tidak pernah (dapat) (di)padam(kan) sepenuhnya. Karena semangat perlawanan, perjuangan dalam suatu daerah, bukan hanya direproduksi dalam sebuah organisasi atau kesatuan, tetapi labih dahsyat, ia direproduksi dalam ruang-ruang keluarga. Dengan kata lain perjuangan adalah sebuah wasiat seorang ayah kepada anaknya. Perjuangan adalah wasiat seorang ’Aku’ (prajurit dalam cerpen ’Juang’) kepada anaknya, Juang, yang diejawantahkan melalui nama.

Mungkin hal ini dapat memberikan pemahaman kepada kita mengapa perlawanan di Naggroe Aceh Darussalam, di Timtim (dahulu), juga di Maluku dan Papua sampai sekarang tidak pernah padam. Seperti yang dituliskan oleh Seno Gumira Aji Darma (SGA) dalam salah satu cerpennya berjudul ’Junior’ dalam antologi cerpen Timor Timur, Saksi Mata: bahwa perjuangan/perlawanan tak—dan tak akan—pernah padam. Dalam cerpen ’Junior’ SGA mengisahkan bahwa pada suatu hari seorang wanita menemukan bayi yang terbungkus dengan kain di halaman rumahnya. Bersama sang bayi di dalam kain pembungkus itu, ditemukan oleh si wanita tadi sebuah tulisan di atas kertas yang sudah kusam:

“Anakku, kamu bernama Junior. Bapakmu juga bernama Junior, Kakekmu juga bernama Junior. Kalau kamu punya anak kelak berilah pula ia nama Junior. Supaya selalu ada junior dalam perjuangan kita.”[5]

Demikianlah, semua lelaki di keluarga itu bernama Junior, agar ’selalu ada junior dalam perjuangan mereka.’ Analog, oleh sang prajurit (dalam cerpen ’Juang’) anaknya diberi nama Juang, agar dia menyusul ayahnya untuk selalu berjuang demi republik ini.

Begitulah. Mereka berdua, para penulis, EBP dan NIS telah menyatakan rasa cintanya kepada negeri ini dengan caranya masing-masing, bagaimana dengan kita?


[1] Harap diperhatikan, teknokrat di sini tidak sama dengan teknolog. Teknolog adalah orang yang menguasai (paham) bidang teknologi, sementara teknokrat adalah para ilmuwan yang bekerja untuk negara (lazim disebut ilmuwan tukang). Jadi teknokrat bisa jadi seorang teknolog, bisa ilmuwan sosial, dan sebagainya.

[2] Tentang ’kearifan lokal’ (local wisdom), atau sering pula disebut ’pengetahuan asli’ (indigenous knowledge) Suku Dayak dalam mengelola lingkungannya, dapat dibaca dalam sebuah buku dengan uraian yang sangat memikat tulisan seorang Antropolog UGM; Lahajir, 2001, Etnoekologi Perladangan Orang Dayak Tunjung Linggang, Galang Press, Yogyakarta.

[3] Petikan dari cerpen ‘Juang’, karya NIS dalam KATASTROPI. Efek tebal (bold) dari penulis—BB.

[4] Efek tebal (bold) dari penulis—BB.

[5] Karena keterbatasan referensial dan waktu, petikan ini hanya mengandalkan ingatan, jadi mungkin secara redaksional tidak terlalu persis, tetapi secara substansial dapat dipertanggungjawabkan. Dipetik dari cerpen berjudul ‘Junior’ karya SGA, dalam antologi cerpen Timtim, Saksi Mata.