Beberapa hari yang lalu saya menerima e-mail dari salah seorang senior di Jurusan Teknik Geologi FT-UGM yang sudah sukses berat, Mas Minarwan. Isinya kira-kira pertanyaan tentang kesan-kesan saya sewaktu menjadi mahasiswa bimbingan Bapak Prof. Ir. Sukandarrumidi M.Sc., Ph.D. Awalnya, ketika pertama kali membaca e-mail Mas Min tersebut, saya agak gagap. Oh Tuhan, itu sudah beberapa tahun yang lalu, saya bahkan sudah jarang mengingat kalau saya ini mahasiswa bimbingan Pak Prof, bagaimana caranya? Memorinya sudah tererosi oleh zaman. Pfuih… Ups!! Sebentar. Jangan putus asa dulu. Ingat-ingat dulu. Dan saya jadi teringat bahwa saya pernah membuat tulisan untuk konsumsi internal milis angkatan 2000 Jurusan Teknik Geologi UGM tentang kesan-kesan saya sewaktu mengambil TA di bawah bimbingan Pak Kandar. Dan berkat adanya fasilitas searcher di Yahoo, saya dengan mudah menemukan e-mail usang tersebut. Kalau manual mungkin saya akan kelabakan, karena dalam inbox saya ada puluhan ribu e-mail. E-mail itu tertanggal 18 Januari 2005, Judulnya: “2 Hari Bersama ‘Bos Kandar’”.
Seperti jeans yang rasanya kurang pas di badan, e-mail itu pun kemudian saya vermak lagi. Terutama masalah kesalahan-kesalahan huruf yang banyak sekali. Adapun isinya secara substansial saya biarkan saja begitu. Barangkali ada fihak yang tersinggung, sakit hati, atau marah dengan isi e-mail saya tiga tahun yang lalu itu. Tak apa-apa. Karena pemahaman kita terhadap sesuatu hal, selain memang selalu subyektif, juga tak pernah lepas dari ruang-waktunya. Tergantung bagaimana cara kita memahami sesuatu itu. Saya sendiri sebagai penulis tidak akan pernah meminta maaf terhadap kesalahan-kesalahan itu. Kalau yang bersangkutan marah dan ingin menggugat, silakan marah dan gugat saja ruang-waktu tiga tahun yang lalu yang telah memberikan saya pemahaman yang begitu. Selamat membaca.
Bosman Batubara
00/16321/TK/25169
2 Hari Bersama Bersama ‘Bos Kandar’
Setelah kira-kira seminggu lamanya tidak mengudara (baca:ngenet), ternyata lumayan ketinggalan info juga. Banyak sudah cerita-certita yang datang dan diam dalam milis ini. Seolah-olah saya menemukan bahwa milis ini sudah menjadi dunia sendiri yang meloncat dan keluar dari orbit dunia sehari-hari yang kita diami. Senang hati saya, ternyata perbincangan di milis ini lumayan nyaring, bak kicauan burung-burung yang bersahut-sahutan di dalam hutan. Hah…ternyata teknologi bisa juga membuat dunia selain dunia yang ada. Haibat sekali yang namanya teknologi ini.
Setelah membaca e-mail teman-teman di milis satu-persatu, meski mungkin ada juga yang luput dari bacaan saya—dan dengan demikian pasti akan ada yang luput dari komentar saya—maka saya memutuskan untuk menulis sebuah surat yang, bagi saya, lumayan ‘serius’.
Terutama berceritera tentang kenangan ‘2 hari bersama Bos Kandar’ (dan entah kenapa tempo-tempo belakangan ini lidah saya lebih nyaman rasanya menyebut beliau sebagai ‘Bos’, dibandingkan dengan memanggil beliau sebagai ‘Pak’. Mungkin ini gejala dari mulai lapuknya tameng ‘seram-killer’ yang selama ini seolah menyelimuti sosok beliau di kampus.
Sukandarrumidi yang Saya Kenal (sebelum pemetaan)
Pada awalnya saya mengenal beliau dengan banyak sekali ‘busuk-busuk’, kebencian, ketakutan, seram, dan tidak respek dalam hatiku. Mulai dari semester pertama ketika beliau menasihatiku panjang lebar di loby jurusan, karena memakai kemeja dengan kancing bagian atas yang terbuka, meski aku pakai t-shirt di dalam. Menanyakan asliku darimana, dan ketika kujawab dari Tapanuli, dengan entengnya beliau menganggukkan kepala, dan seolah menjadi maklum, dengan satu ucapan yang akan selalu kusimpan: ”Oooo…dari Sumatra”. Mengenalnya dengan diriku yang selalu merasa dipojokkan, karena selalu memakai celana yang koyak ke kampus meski jelas-jelas tertulis di pintu-pintu yang ada di jurusan salah satu bunyi aturan misalnya: “dilarang memakai jeans koyak”.
Telunjuknya yang kaku, sekaku wajahnya, menunjuk dengan kaku pula pada sobekan-sobekan kertas yang berhamparan di bawah-bawah kursi ruang kuliah. Menyuruh mahasiswa memungutinya. Atau ketika telunjuk yang sama menunjuki puntung-puntung rokok yang bersebaran di halaman jurusan kita, dan dengan diamnya, seolah pemilik telunjuk itu menghardik kita untuk memunguti sampah. Atau ketika suatu pagi, sewaktu tidur di ruang himpunan, ketika mata baru saja bersapaan dengan sinar lembut sang mentari, tetapi terpaksa tulang punggung harus berkontraksi karena badan disuruh oleh si ‘Kurangajar Kandar’ untuk mengangkat sampah yang menumpuk di tong sampah HM ke bagian belakang Fakultas Teknik. Atau sebagai tetangga yang jarang melihat rumahnya terbuka di Sawitsari, apalagi bertemu orangnya. Sebagai mahasiswa kos yang terbangun dan dengan bebas menguap panjang-panjang pada suatu hari Minggu yang cerah di bagian pintu depan, dan ternyata sang tetangga sudah sibuk menyapu dan membakar sampah. Perasaan malu selalu membuatku kembali menutup pintu sambil mengintipnya menyapu dari balik jendela kaca.
Atau seperti komentar si Ambon pada salah satu e-mailnya dalam milis ini:” selama ini penilaian kita terhadap pak kandar sangat miring, kalimat2seperti “dumeh profesor trus ora ono sainganne (ora ono prof. lain di jurusan) dadine congkak, arogan, sok-sokan..” atau “itu lho dosen yang ruanganne neng lantai 2 pojokan, menyebalkan sekali..” sering keluar dari mulut2 kita dengan maksud mengumpat, mencaci, mengutuk beliau..” , (italic dari penulis—BB).
Setelah Pemetaan
Saya mengenal beliau sebagai seorang yang kuat dalam hal logika, pertimbangan-pertimbangannya rasional dan didasarkan atas refleksi yang dalam, yang barangkali dipetik lewat pengalaman-pengalamannya dalam mengarungi lautan kehidupan yang tak bertepi. Saya pribadi dalam beberapa wilayah mengalami ‘perbenturan’ gagasan dengan beliau. Dan bagi saya, berbenturan bukan berarti harus bermusuhan. Saya bukan orang yang menghindari konflik, tetapi bagi saya konflik adalah sesuatu yang harus diurai, konflik adalah suatu ‘krisis yang harus ditapaki sampai ujung’, termasuk dalam hal ini konflik pada wilayah pemikiran. Mengapa saya begitu ‘sombong‘-nya berani mengatakan memiliki ‘perbenturan’ pendapat dengan Bos Kandar? Setelah melakukan diskusi-diskusi (tepatnya bukan diskusi, karena saya lebih banyak dikuliahi. Kalau diskusi yang terjadi adalah dialog, dua arah, tetapi yang sering terjadi adalah monolog, dengan posisi saya sebagai pendengar) dengan beberapa dosen di kampus kita, tentang beberapa permasalahan di seputar kampus, maka kemudian saya menarik suatu kesimpulan bahwa Bos Kandar menjadi semacam kutub tersendiri yang melakukan injeksi-injeksi gagasan dan peraturan dalam menjalankan jurusan.
Permasalahan rambut panjang misalnya, bagi seorang Pak Widi tidak ada permasalahan dengan rambut gondrong, “namanya juga anak muda, sudah sewajarnya dinamis,” kata Pak Widi. Dia tidak mempermasalahkan seseorang gondrong atau necis, yang penting kan otaknya brilian. Tetapi karena ‘rule of the game’ di jurusan kita mewajibkan orang untuk tidak berambut gondrong, maka Pak Widi ikut aturan dan mengeluarkan mahasiswa yang berambut gondrong dari kuliah yang diampunya. Saya pernah merasakan keluar dari suatu mata kuliah gara-gara rambut gondrong. Kurang lebih setahun yang silam: pada mata kuliah Endapan Mineral, meski kemudian saya mengulangnya dan mendapat biji ‘D’, dan rencananya akan saya ulang lagi. Dari Pak Bagyo—yang sangat emosional itu,… (ukh..tak seharusnya seorang pendidik mengumbar kata-kata ‘goblok’, ‘tolol’, ‘kamu mau melawanku’, dll., “Pak..pak…!”)—saya juga mendapat penerangan yang sama, “ini rule of the game bung,” kata pak Bagyo, “kalau tidak mau ikut aturan, keluar,” sambungnya.
Dari Pak Ton, menurut beliau yang mengaku seumur hidupnya tidak pernah gondrong, tidak ada masalah dengan rambut gondrong, “tetapi Profesor Sukandarrumidi itu yang ngotot untuk merapikan mahasiswa, padahal di waktu mudanya dia juga gondrong,” katanya.
Dan sampai saat ini saya pribadi belum merasa punya cukup ‘keberanian’ untuk melakukan cross check tentang hal ini kepada Bos Kandar. Mungkin suatu saat saya akan menanyakannya. En tokh, terbukti sampai sekarang saya masih tetap saja gondrong meski konsultasi sama beliau itu. Tetapi tetap saja pada suatu bagian tertentu dalam diri saya ada perasaaan tidak nyaman, takut, gelisah, dan lain-lain, ketika berkeliaran di kampus kita dengan ‘potongan’ seperti ini. Meski saya juga sadar, bahwa suatu saat: seorang Bosman akan rapi!
Mungkin teman-teman balik menggugat saya, apa sih yang saya perjuangkan (akh.., mungkin kata-kata ‘perjuangkan’ terlalu tinggi-mulia cuma untuk kasus rambut gondrong, mungkin lebih cocok memakai kata-kata ‘pertahankan’ saja) dengan rambut gondrong saya?
Panjang ceritanya (semoga teman-teman sekalian tidak bosan, saya akan menjadi orang yang merasa paling tidak tahu diri kalau anda-anda sekalian menjadi boring).
Bagian berikut ini saya petik dari catatan harian saya selama di Banjarnegara, setelah kami (Pongge, Si Om, Gombyenx dan aku) berdiskusi cukup panjang (dengan menyisakan sedikit proses editing disana-sini tentunya):
[…]
…, berikutnya—entah berpangkal dari mana—diskusi masuk ke aturan-aturan di jurusan, seperti larangan berambut gondrong, larangan memakai kaus oblong, harus pakai sepatu, dan lain-lain. Dalam pembicaraan ini—jujur saja—saya yang paling banyak mengeluarkan argumen, teman-teman yang lain cuma menggongi. Bisa jadi yang terekam ini adalah pendapat-pendapatku sendiri, entahlah?
Kalau kita berbicara tentang aturan-aturan tersebut dalam kerangka disiplin, supaya rapi dan sebagainya, mungkin masih bisa diterima. Tetapi kalau kita berbicara dalam koridor profesionalitas, sepertinya aturan itu sangat-sangat debatable. Maksudnya begini. Aturan-aturan itu di buat—oleh penuturan sebagian dosen—untuk membiasakan mahasiswa dalam kondisi dunia kerja. Artinya, semenjak di universitas mahasiswa harus dibiasakan rapi, supaya nanti tidak terkejut dengan kondisi kantor. Menurutku alasan seperti ini tidak begitu saja dapat—dan seharusnya tidak boleh—diterima. Mengapa?
Alasan pertama, universitas bukan kantor perusahaan, melainkan lembaga pendidikan. Dan kedua (masih berhubungan dengan yang pertama) tidak semua manusia yang ada di Jurusan Teknik FT-Geologi UGM bercita-cita menjadi pegawai kantoran, ada yang ingin berwiraswasta, ada yang ingin menjadi geologist lapangan. Coba kau bayangkan saja, seandainya seorang yang berniat menjadi geologist lapangan dirancang untuk menjadi orang kantoran apa yang akan terjadi, betapa kakunya dia nanti di lapangan. Alasan-alasan rambut panjang menggangu dalam kerja-kerja laboratorium pun meurutku tidak logis, karena rambut panjang bisa diikat (kalau ini yang menjadi penekanan, tentunya Nink—pacarnya Taufiq—juga harus tidak gondrong).
Harus kita bedakan dengan bening apakah semua mahasiswa berniat menjadi ‘sekrup’ perusahaan, ataukah jurusan yang punya agenda, dan oleh karenanya membuat suatu model rekayasa, menjadikan semua mahasiswa sebagai—sekali lagi—‘sekrup’ perusahaan. Hal ini berbeda jauh dan tidak sederhana. Ketiga, mengenai alasan etika. Kalau ada dikatakan bahwa orang yang rapi lebih beretika dari orang yang tidak rapi, itu juga pendapat yang agak semobrono, kukira. Sebab yang namanya etika, setahuku, tidak pernah memiliki rumusan yang final tentang batasan-batasannya, dimanapun dan kapanpun.
Jadi sebenarnya kebijakan-kebijakan berupa aturan tersebut sangat lemah pada level pijakan paradikmatik. Kemudian kalau kita berbicara mengenai kebijakan publik (public policy), maka kebijakan tersebut sangat ‘cacat proses’. Bagaimana kebijakan itu tidak cacat proses kalau dalam proses perancangan, penyusunan, penetapan (dan juga kemungkinan amandemen) tidak melibatkan mahasiswa. Sejak kapan mahasiswa pernah terlibat secara aktif dalam perumusan-perumusan hal-hal seperti itu? Padahal boleh dikata mahasiswa adalah korban utama aturan-aturan ini. Aturan yang ia tak pernah ikut membuatnya.
Dengan demikian sebenarnya mahasiswa tak diperhitungkan, cenderung menjadi obyek aturan saja. Tragis sekali. Dan ini terjadi pada institusi yang mengaku sebagai universitas tertua di negeri ini.
Dan bagiku ada hal lain yang lebih serius berkaitan dengan aturan-aturan yang ‘salah kaprah’ ini. Yaitu tentang filososfi pendidikan. Hal ini menyangkut pada kebebasan berfikir dan kemampuan berpendapat dengan cara sendiri, dan karenanya menyangkut orisinalitas ide seorang manusia.
Barangkali fenomena aturan-aturan di jurusan menjadi semacam fenomena gunung es: terlihat sedikit saja di permukaan, tetapi memiliki ‘tubuh lain’ yang sangat besar dan tidak terlihat di bawah permukaan. Maksudku, kebijakan-kebijakan ini cuma refleksi-refleksi saja dari hasil diskusi dan pergulatan pemikiran yang panjang dari orang-orang yang merumuskannya.
Di negara kita sejak pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, sudah terbiasa dengan sistem pendidikan á la bank. Bahwa peserta didik adalah tabungan yang harus diisi. Atau seperti kuali, harus diisi terus. Tetapi kita lupa bahwa peserta didik adalah manusia, bukan bank, apalagi kuali. Dengan kata lain manusia punya pendapat sendiri, punya persepsi sendiri, dan bahkan mampu melakukan konseptualisasi dan abstraksi sendiri terhadap realitas. Dan dengan adanya sistem pendidikan á la bank ini pada semua jenjang pendidikan, maka dengan sendirinya peserta didik selalu menjadi pendengar (pasif). Hal ini terjadi karena adanya asumsi bahwa pendidik selalu lebih tahu, dan dengan sendirinya secara diametral terposisikan bahwa peserta didik tidak tahu, dan kalaupun tahu: salah, jadi otomatis harus diberi tahu dan dibenarkan. Dengan anggapan-anggapan semacam ini lama kelamaan semakin membuat para muda (baca: peserta didik) menjadi orang yang pasif, selalu menunggu diisi, menunggu dibenarkan, tidak PD untuk mengatakan pendapatnya, dan tragis: semua ini mengikis-kandas nalar eksploratif, kreatif, dan inovatif perserta didik sebagai manusia. Kesimpulannya: lembaga pendidikan kita dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi cuma membuat orang ‘impoten’ dalam pemikiran.
Dan bagi saya aturan-aturan di jurusan termasuk ke dalam instrumen-instrumen yang semodel-sebangun dengan asumsi bahwa pendidik lebih unggul dari yang dididik. Dan sekali lagi: “itu terjadi pada institusi yang disebut sebagai perguruan tinggi tertua di negeri ini”. Dan entah sudah berapa banyak manusia yang sudah ‘diberangus’ kebebasan berfikir dan berekspresinya pada lembaga terkutuk yang mengganja ini. Sialan!
Terutama untuk alasan yang terakhir ini: “saya akan terus melawan sebisa saya”!
…,
[…]
Kepada Bos Kandar: ”Maaf Bos, kalau benar anda yang menjadi tulang punggung dari semua kebijakan itu, maka saya akan melawannya, dengan cara saya tentunya. Saya tahu anda benar, tetapi saya juga punya kebenaran yang lain”.
Demikianlah, mengapa saya berani mengatakan menagalami ‘perbenturan’ pemikiran dengan Bos Kandar. Tetapi sekali lagi, berbeda pendapat bukan berarti bermusuhan. Terlepas dari itu semua, saya juga sangat menghormati Bos Kandar sebagai seorang yang ilmiah, obyektif dalam menilai, dan tentu saja disiplin. Hormat saya pada beliau dalam bidang ini.
Termasuk ketika dia menjelaskan pendapat-pendapatnya mengapa beliau tidak mau membimbing TA mahasiswa selain pemetaan. Saya sempat menuliskan juga poin-poin pemikirannya. Meski tentunya sedikit-banyak sudah terkontaminasi oleh pemikiran saya sendiri (lihatlah, pemikiran saya sudah ‘kawin’ dengan pemikiran Bos Kandar, hahaha……).
Kembali, bagian ini saya copy-paste dari catatan harian saya, tentunya masih dengan proses editing di sana-sini:
[…]
…, kurasa telah tiba saatnya bagiku untuk menceritakan mengapa pemetaan menjadi pilihanku dalam mengerjakan tugas akhir. Bagiku ada beberapa alasan. Pertama, aku secara personal, punya cita-cita menjadi dosen atau peneliti, jadi semuanya harus kuawali dari sekarang. Kedua, aku merasa, kalau aku ‘seperti yang lain’—maksudku KP di perusahaan beberapa waktu—aku merasa tidak memiliki nilai lebih. Sama saja dengan mahasiswa lain, tak ada beda. Sedangkan dalam hal nilai jelas-jelas aku tidak begitu bagus. Bandingkan dengan si (teeeettttt…:sensor!) misalnya, jelas-jelas nilaiku tak ada apa-apanya. Sementara aku semakin mengerti, kadang-kadang bukan permasalahan benar dan salah yang menjadi parameter untuk mengukur seseorang, tetapi keberaniannya mengusung bendera yang berbeda dari mainsteram. Ketiga, dan ini mungkin alasan yang paling klasik, aku merasa sayang membuang waktuku berada dalam ketidakjelasan, menunggu-nunggu proposal KP dibalas oleh perusahaan yang bersangkutan. Aku menyebut orang-orang perusahaan yang menggantung-gantung harapan dan kesempatan mahasiswa yang akan KP sebagai “tidak sopan dan sampah!”.
Keempat, dan alasan terakhir ini kudapat—kukira kami berempat mendapatkannya—setelah berdiskusi cukup sering dengan Pak Kandar (waktu itu aku masih menyebutnya ‘Pak Kandar’, belum ‘Bos Kandar’), ternyata yang bisa membuat Peta Geologi itu cuma orang Geologi saja. Orang Perminyakan, Pertambangan, hanya bisa membaca Peta Geologi, tetapi tidak bisa membuat Peta Geologi. Membaca dan membuat adalah dua wilayah yang jauh berbeda. Jadi bagiku, pilihan skiripsiku ini sangat strategis—politis belum—, terlepas bagaimana orang melihat kami. Ada teman-teman lain yang menganggap kami hebat, heroik, cari mati, dan segala macam, itu tak pernah menjadi soal.
[…]
Demikianlah sedikit banyaknya otakku sudah ‘teracuni’ oleh Bos Kandar, tetapi aku menikmatinya!
Ada satu cerita selama dua hari bersama Bos Kandar di lapangan yang membuat pintu hatiku terketuk atas kepekaan beliau.
Kami berangkat dari Yogyakarta pada hari Sabtu sore (tanggalnya lupa, dan kalau tidak salah Gombyenx sudah pernah menuliskan tanggal itu dalam salah satu e-malinya). Pukul 13.00 kami menjemput beliau di rumahnya Sawitsari. Selang beberapa waktu kami berangkat. Sebelumnya beliau mengecek peralatan-peralatan mobil Gombyenx, seperti air aki, air karburator, dll. (menurut Gombyenx, andaikata Ayahnya tahu hal ini, maka Ayahnya mungkin akan murka).
Singkat cerita kami sampai di Banjarnegara pada sore hari dan langsung mencarikan penginapan untuk beliau. Sekira jam 17.00 check-in kamar untuk beliau. Dan beliau masih sempat ngomong: ”Saya disini sendirian?”, dan saya hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Sementara kami berlima (Gombyenx, si Om, Pongge dan sang Supir: Seno,,,,,thanx 4 everythin’ No!) tidur di basecamp Limbangan. Rencananya kalau hari tidak hujan, maka checking cuma berlangsung selama satu hari. Oleh sebab itu besok pagi sewaktu menjemput Bos Kandar dari hotel, harus ada yang mengatakan kepada beliau supaya jangan meninggalkan tasnya di hotel. Sebab, andai besok pulang dari lapangan melewati jam 17.00, maka sewa hotel akan dihitung dua hari oleh pihak hotel. Dan ini berarti anggaran akan membengkak. Dan kau tahu kan kawan, bagaimana arti uang bagi kita mahasiswa? Dan oleh teman-teman, entah bagaimana prosesnya, saya yang didaulat untuk membicarakan ini dengan Bos Kandar. Bisa kamu bayangkan betapa pusingnya saya? Bagaimana caranya mengatakan hal ini kepada Bos Kandar? Mengatakan supaya jangan meninggalkan barangnya di hotel? Sulit sekali. Entah celah apa yang bisa dimainkan untuk mengatakan hal ini besok.
Dan esoknya,,,….
Setelah briefing singkat dari beliau di loby hotel tentang lokasi-lokasi yang akan di-check beserta kriterianya, saya mau menyampaikan apa yang didaulatkan oleh teman-teman kepadaku. Eh…, ternyata Bos Kandar mengerti isi hati saya sebelum saya sempat mengatakannya: “Tas saya saya bawa saja, siapa tahu nanti kita pulang agak lambat dari lapangan,” kira-kira begitu omongan beliau. Ya ampun, ternyata beliau memikirkan juga apa yang kami pikir dan gelisahkan semalaman. Dan aku mengerti bahwa beliau adalah orang yang sangat peka. Dan kamu bisa membayangkan kawan, bagaimana mungkin hatiku tidak luluh mendapat perlakuan istimewa dari orang istimewa seperti itu? Aku menjadi faham sefaham-fahamnya ketika dalam e-mailnya seorang Gombyenx yang kukenal sebagai anak Jogja yang cuex, keras kepala, bandel, dsb. mengatakan: ”Yang terakhir adalah “I Love U Pak Kandar” semoga tali kasih kita tak terputus hanya sampai pemetaan dan skripsi…”. Saya menjadi faham kawan.
Dan jangan heran kalau misalnya dalam beberapa waktu ke depan, mungkin kita bertemu di kampus, saya sudah tidak gondrong lagi, saya pakai sepatu, saya sedikit menjadi rapi. Bukan karena takut kawan, bukan! Tetapi, dengan caranya, dengan gayanya, Bos Kandar membuatku menjadi lebih faham kepada semua ini!
(Maaf kawan, kalau e-mail ini terlalu panjang dan membuatmu boring, rasa ingin mengabadikan, berbagi, dan penghormatan kepada Bos Kandar lah yang menyatunafaskan hati dan pikiranku untuk menulisnya.
18.47 WIB, Kaliurang km. 8,5.
17 Januari 2005
BB
Begitulah tentang Profesor, Guruku yang sekarang kusadari ternyata sangat kucintai, tentu saja dengan caraku. Terima kasih kepada Mas Min yang sudah mengingatkanku kembali dengan keberadaan catatan ini. Membacanya lagi rasanya malu sekali.
Jogjakarta, pada penghujung April 2008. Ketika proses menyari ‘legenda pribadi’ tak juga sampai di batas.
Salam
Bosman Batubara
00/16321/TK/25169
April 25, 2008 at 11:14
Kamu tau, setelah aku baca tulisan ini? Mataku berkaca-kaca. 3 tahun yang lalu bung, tapi seperti baru kemarin.
Kamu inget topi pet ala pak tino sidinnya dan jaket kesayangan warna biru? Kurasa aku masih punya fotonya tapi tak banyak. Waktu itu kita masih berpikir kalo menggunakan film kamera karena keterbatasan finansial, satu jepretan sangat berarti bung. Hidup begitu sederhana tetapi jauh dari keluhan.
Tak kenal maka tak sayang. Yang terlihat dari luar adalah kekakuannya ternyata tersimpan sesuatu yang lembut di dalam. Sudah lama dia menyimpan rasa kasih itu dan ternyata kita lah orang yang beruntung untuk mendapatkan sisa kasih itu. Salamku pada beliau bila kau bertemu dengan beliau di Jogja.
April 26, 2008 at 11:14
Bos,
Kau bikin aku kagum dari berbagai sisi. Punya idealisme, kritis dalam berpikir, cakap menulis, berani tampil beda dan tidak hanya hanyut dalam arus, tapi juga tidak hanya asal berbeda dan yang terakhir, bersedia mengganti perspektifmu dalam melihat sesuatu.
Salut! Dan selamat sekali lagi, tidak banyak mahasiswa yang berani secara sadar ingin mengambil TA pemetaan, karena perhitungan biaya dan kemudahan mengambil data.
Jadi, bagaimana dengan cita-citamu menjadi dosen atau peneliti? Masih ada atau sudah hilang?
April 26, 2008 at 11:14
ah Mas Min ini mengada-ada dan sukanya mendramatisir. Biasa aja kok mas. Tapi terima kasih. Terima kasih. Dosen atau peneliti? Waduh, kayaknya yang terakhir aja deh mas. Tapi masih susah ketemu cantolan nih. hehehee…
April 28, 2008 at 11:14
wah, pak sukandarrumidi-mu itu? selama ini aku cuma tau cerita akhir2nya aja … baru tau nih ada “latar belakang”-nya.
wow, dari tulisanmu ini, lengkaplah dia masuk tipe cowok favoritku! beliau seorang melankolis tulen. tulen! kalo aku kenal pasti aku pun jatuh cinta dengannya. pasti itu bos. kamu cari mati dengannya malah cinta yang didapat.
May 6, 2008 at 11:14
salam kawan lama,,,hari ini aku akan sedikit berdosa pada kantorku,,jam nya akan banyak kuhabiskan buat baca tulisan diblogmu yang aku baru tahu ini
,,terimakasih sudah mengingatkan lagi dengan kehidupan di kampus itu,,punya rambut gondrong, disuruh keluar oleh Pak bagyo, mungutin puntung rokok, beruntunglah kalian yang mendapat sisi lain dari seorang pak kandar,,salam
August 10, 2008 at 11:14
Ah…
kau bos, itu berita 4 tahun yang lalu..
2 hari itu merubah semua pandangan, keinginan hati, kejahatan sangka tentang sang profesor satu satunya
tulisan kau bener bener buat gue lumer se lumer lumernya bos..
rgds,
seno sopir kalian