
Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang lahir dari rahim pemekaran Kabupaten Tapanuli Selatan pada tanggal 23 November 1998 termasuk Kabupaten muda. Dengan total luas area 6.620, 70 km persegi, berpenduduk sejumlah 348.536 jiwa, dengan komposisi 178.761 perempuan dan 169.775 laki-laki (Soegeng Sarjadi Syndicated, 2001), dengan pelbagai sesumber alam yang relatif belum ‘terjamah’, maka Kabupaten ini memiliki arsenal untuk masuk ke jajaran Kabupaten penghulu di negeri ini. Sewajarnya Madina ‘bersolek’ demi kemajuan.
Salah satu potensi alam yang terdapat di Madina adalah Gunungapi. Di Madina terdapat Gunung Sorik Marapi yang, secara astronomis terletak pada 00 41’11,72” LS, dan 990 32’ 13,09” BT,
dengan ketinggian 1600 m di atas lembah Sungai Batanggadis, atau 2145m di atas muka laut.
Gunung ini termasuk jenis strato (gunungapi bertubuh lapisan-lapisan fragmental) dengan danau kawah. Kawahnya berupa Sorikmarapi A, B, dan Danau Merah (C). Secara administratif terletak di sekitar Desa Maga, Desa Sibanggor Julu, dan beberapa Desa sekitarnya. Tulisan ini akan mencoba mengurai potensi yang terkandung pada Gunungapi ini.
Dalam diskursus ilmu kebumian sudah lazim permakluman bahwa terjadi tarik menarik dari dua kutub potensi yang terkandung pada gunungapi. Kutub pertama, berupa potensi destruktif gunung api, dan kutub kedua, berupa potensi konstruktif. Dengan demikian manusia yang berdiam di kawasan gunungapi harus selalu bias beradaptasi dengan pelbagai masalah dan potensi dari gunungapi.
Yang dimaksud dengan potensi destruktif dalam tulisan ini berupa bencana yang mungkin timbul bagi manusia dan makhluk hidup lain yang berdiam pada sekitar—dan/atau yang mungkin terkena pengaruh oleh aktivitas—gunungapi. Dengan koridor seperti ini ada beberapa bahaya yang mungkin timbul jikalau gunungapi bersangkutan berkegiatan.
Tercatat beberapa bahaya primer letusan gunung api. Pertama, aliran lava. Aliran lava terjadi pada saat letusan, berupa aliran batu cair-pijar dan bersuhu tinggi (bisa mencapai suhu 12000 C). Aliran
lava biasanya menelusuri lekuk-lekuk lereng yang terdapat pada kerucut gunungapi, jangkauannya dapat mencapai beberapa kilometer. Karena panasnya, semua benda yang dilaluinya akan hangus. Kalau longsor akan menimbulkan awan panas.
Kedua, bahaya bom gunungapi. Bom gunungapi berwujud batuan panas-pijar berukuran 10cm- 2m. Batuan ini dapat terlempar dari pusat erupsi sejauh hingga 10km. Bom gunungapi dapat menimbulkan kebakaran hutan, pemukiman, dan lahan pertanian. Ketika memijak bumi bom akan mengeluarkan letusan dan kemudian hancur.
Ketiga, pasir dan lapili. Pasir adalah campuran material letusan berukuran lebih kecil dari bom gunungapi, (1/16-2mm). Sedangkan lapili merupakan material vulkanik dengan ukuran yang lebih besar dari pasir hingga mencapai beberapa cm. Manakala terjadi letusan, pasir dan lapili dapat terlempar mencapai jarak hingga puluhan kilometer. Pasir dan lapili ini dapat menghancurkan atap rumah. Pembebanan oleh pasir dan lapili dapat merusak lahan pertanian dan membinasakan tanaman.
Berikutnya, awan pijar. Awan pijar adalah suspensi material halus yang dihasilkan erupsi gunungapi. Biasanya ditiup angin hingga mencapai beberapa kilometer dari pusat erupsi. Awan pijar merupakan campuran pekat yang terdiri dari gas, uap, dan material halus yang bersuhu tinggi (mencapai 12000
C). Suspensi ini bersifat berat sehingga akan menyusuri tekuk-tekuk lereng gunungapi, dan seolah meluncur. Luncurannya bisa mencapai jarak radial 10-20 km, tergantung pada kondisi topografi. Kasus awan pijar terjadi di Gunung Merapi di Yogyakarta/Jawa Tengah, tanggal 22 November 2004 (Sriyono, dkk), menelan korban jiwa sebanyak 60 orang meninggal, belum termasuk korban binatang dan tumbuhan.
Kelima, Abu gunungapi. Merupakan campuran material paling halus dari suatu letusan gunungapi. Suhunya bisa tidak panas lagi. Berukuran kecil kurang dari 1 mikron – 0,2mm. Bahaya yang diantaranya dapat mengganggu penerbangan seperti yang terjadi pada letusan Gunung Galunggung. Menimbulkan sesak nafas apabila korban menghirup terlalu banyak, untuk selanjutnya menyebabkan penyakit silikosis, yaitu penyakit yang diakibatkan oleh penggumpalan silika bebas pada paru-paru karena menghisap abu gunungapi yang mengandung silika bebas.
Keenam, gas beracun. Kadar gas yang tinggi dapat menyebabkan kematian. Gunungapi biasanya mengeluarkan gas CO, CO2, H2S, HCN, H3S, NO2, Cl2, dan beberapa gas lain dalam jumlah yang sedikit. Nilai ambang batas untuk gas CO sebesar 50 ppm, CO2 5, 00 ppm, sedangkan H3S yang sangat mematikan memiliki nilai ambang batas sebesar 0,05 ppm. Gas yang keluar pada saat terjadinya erupsi gunungapi tidak begitu berbahaya, karena gas-gas tersebut langsung hangus. Berbahaya apabila gas tersebut dikeluarkan pada sisa-sisa gunungapi. Kasus ini pernah terjadi di Pegunungan Dieng. Para pendaki sering mengalami kematian akibat menghirup gas beracun. Gas-gas beracun biasanya memiliki berat jenis yang lebih besar dari udara bebas, karenanya, sering terdapat pada daerah dengan letak yang rendah, seperti di lembah-lembah.
Selain bahaya primer diatas, ada pula bahaya skunder, yaitu bahaya yang terjadi pasca letusan (post-eruptive) gununapi. Bahaya skunder ini dapat berupa bahaya aliran lahar. Lahar terbentuk dari batuan yang dimuntahkan setelah letusan gunungapi, baik blok, bom, lapili, dan abu, maupun longsoran kubah-kubah lava. Apabila terjadi hujan deras, maka material gunungapi ini akan mengalami rombakan dan terangkut membentuk lahar. Aliran lahar dengan intensitas besar memiliki kekuatan menghancurkan apa pun yang terdapat di depannya, tanpa kecuali. Untuk menghindari bahaya gunungapi, biasanya telah dibuat zoonasi daerah bencana oleh Jawatan Vulkanologi.
Sejarah telah menuturkan kepada kita bahwa Gunung Sorik Marapi bukanlah suatu gunungapi yang ‘sopan’ tertidur dari zaman-ke zaman, tetapi termasuk Gunungapi yang aktif. Dalam perspektif teori tektonik lempeng (plate tectonic theory), Gunung Sorik Marapi terletak pada busur magmatik (magmatic arc) pulau Sumatera. Terbentuk sebagai ekspresi dari hasil tumbukan antara lempeng Benua Eurasia dengan Lempeng Samudra Indo-Australia di sebelah baratdaya pulau Sumatera. Gunung ini merupakan bagian deretan memanjang yang terletak di zona patahan Semangko yang bergerak menganan (dekstral). Akhir-akhir ini dinamika tektonik di region ini sangat aktif. Gempabumi tektonik di Padang Panjang pada hari Senin 16/2, 2004 dengan kekuatan 5,6 skala Richter, beberapa gempabumi lain, rentetan tiga kali gempa tektonik pemicu tsunami di Aceh dan sekitarnya, merupakan bukti dinamisnya aktivitas tektonik pada region ini.
Neuman van Vadang menuliskan (dalam Kusumadinata, 1979), sepanjang sejarah yang tercatat, Gunung Sorik Marapi pernah meletus beberap kali. Letusan pembuka terjadi pada tahun 1830. Letusan ini merupakan letusan preatik (karena akumulasi uap akibat resapan air yang dipanaskan oleh magma) dari kawah pusat dengan material muntahan berupa abu vulkanik, lumpur dan bom gunung api. Endapan abu vulkanik kala itu mencapai jarak sekira 52 km. Letusan ini memiliki rentang waktu sekira 49 tahun dengan letusan berikutnya.
Letusan kedua terjadi pada tahun 1879, (masih) merupakan letusan preatik kawah pusat. Terjadi karena air Danau Merah mendidih, seterusnya terjadi tiupan lumpur yang membubung ke atas.
Letusan ketiga terjadi pada tahun 1892, persisnya tanggal 21 Mei, pukul 18.30 berupa letusan besar dengan model letusan preatik pada lereng. Letusan ini mengakibatkan terbentuknya dua liang pada tubuh Gunung Sorik Marapi. Karena guyuran hujan material hasil letusan kemudian bercampur dengan air hujan dan membentuk lahar hujan. Tercatat korban tewas pada letusan ini sebanyak 180 orang (Muller, 1979).
Gempabumi hebat pada 17 Mei 1892, menimbulkan longsoran pada kerucut Gunungapi, guyuran air hujan kemudian menyebabkan material hasil longsoran berubah menjadi material rombakan yang terangkut ke daerah-daerah di kaki kerucut Gunungapi. Letusan ketiga ini memiliki rentang waktu selama 1 tahun (saja) dengan letusan keempat.
Letusan keempat terjadi pada tahun 1893 pada bulan Januari pukul 04.00, di daerah fumarole (aktivitas gas pada gunung api yang sedang padam) sekitar Sibanggor Julu. Letusan ini merupakan letusan preatik pada lereng, material hasil muntahan berupa batu dan lumpur yang dilemparkan dari daerah tersebut.
Letusan kelima terjadi pada 1917, tanggal 20 Mei, pukul 04.00, berlangsung kurang lebih tiga jam, berupa letusan preatik pada kawah pusat. Material yang dimuntahkan berupa abu vulkanik dan tiang asap tebal yang membubung dari Danau Merah. Bunyi letusan bahkan terdengar sampai ke Kotanopan.
Letusan keenam, 1970, atau 35 tahun yang lalu. Menurut data yang dicatat oleh Dinas Vulkanologi, letusan ini menghasilkan abu vulkanik.
Data gempa vulkanik yang terjadi di Gunung Sorik Marapi juga menunjukkan geliat yang menerus pada gunungapi tersebut. Pengamatan yang dilakukan oleh petugas berwenang periode 5-17 Oktober 1994 menunjukkan terjadi 25 kali gempa vulkanik tipe A, dan 6 kali tektonik lokal. Berarti, Gunungapi ini tidak diam.
Morfologi Sorik Marapi dibagi menjadi beberapa zona bahaya (Kusumadinata, 1979). Pertimbangan zona bahaya mengingat adanya danau kawah, maka bukan mustahil seketika dapat terjadi bahaya letusan hebat yang disusul dengan banjir lahar. Jika terjadi letusan pusat, maka daerah yang paling mungkin terkena bahaya lahar panas antara lain Kampung Sibanggor Julu, Kampung Singojambu, Sibanggor Tonga, Tanobato, Pagaran Gala-Gala, Jambu Dolok, dan Pagaran Korsik Julu. Sementara daerah di sepanjang torehan sungai dengan radius 4 kilometer dari pusat erupsi Gunung Sorik Marapi, seperti lembah Aek Singodoras, Aek Antunu, Aek Roburan, Aek Rinango, Aek Maga, Aek Silailai, dan Aek Singolot potensial terkena aliran lava, awan panas (Nuees ardentes), ataupun lahar. Luas daerah waspada mencapai 126,3 km2.
Planet ini memang bukan aljabar, dengan rumus dan teknik hitungan pasti, tetapi kita perlu mengaca dan mengacu pada sejarah, karena bukankah untuk menerka sejauh mungkin ke depan, kita perlu pula melawat sejauh mungkin ke belakang?
Bagaimana dengan potensi konstruktif Gunungapi? Sampai saat ini setidaknya ada bebera item yang bisa disebut sebagai dampak positif gunungapi.
Pertama, sumber energi panas bumi. Pri Utami (2003), mendefinisikan panas bumi sebagai energi panas dari dalam bumi yang dapat diambil dalam bentuk uap, air panas, atau campuran keduanya. Berbagai prasyarat ikutan, seperti reservoar (batuan yang menyimpan fluida) dan kondisi struktur geologi daerah yang bersangkutan menjadi penentu apakah suatu gunungapi layak untuk dikembangkan sebagai pusat pembangkit energi panas bumi atau tidak. Berdasarkan publikasi Pertamina medio 1994, di Gunung Sorik Marapi terdapat 250 MWe cadangan terduga (possible resources) dan 150 MWe sumberdaya hipotesis (hypotetical resources) energi panas bumi.
Kedua, sebagai daerah wisata-pendidikan berbasis lingkungan. Dalam hal ini gunungapi bisa dikembangkan menjadi pusat-pusat rekreasi, seperti pendakian, sebagai laboratorium alam untuk pelajar, mahasiswa, dan ahli kebumian lain. Model ini sudah dikembangkan di daerah Kaliurang, lereng Gunung Merapi Yogyakarta, atau daerah Kopeng, lereng Gunung Merbabu di Jawa Tengah.
Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) memiliki daya magis kuat bagi kawasan ini. Terutama karena tingkat keanekaragaman hayati (biodibversity) yang tinggi. Tercatat di TNBG yang memiliki luas 108.000 hektar, hadir berbagai jenis flora dan fauna langka. Misalnya jenis bunga padma (Rafflesia sp.) yang diduga sebagi jenis baru. Jumlah burung-burung yang mencapai 242 jenis, dengan 45 jenis diantaranya merupakan jenis burung yang dilindungi di Indonesia. Dimana 8 jenis terancam punah, 11 jenis mendekati terancam punah, seperti jenis-jenis Sunda groundcuckoo, Salvadori pheasant, Sumatran cochoa, Crested fireback dan March finfoot. Di wilayah Sibanggor, kita dapat menemukan sumber-sumber air panas alami. Air panas yang kaya dengan kandungan belerang sangat bagus untuk menjaga kesehatan kulit. Penyakit kulit seperti panu, kadas dan kurap, konon, bisa sembuh di sini.
Di lapangan kebudayaan kita bisa menemukan ‘ilmu khas’ (indigenous knowledge) orang Mandailing yang berdiam di sekitar Gunung Sorik Marapi berupa atap-arap rumah yang terbuat dari ijuk untuk mengatasi bahaya pengkaratan pada atap jenis seng yang timbul akibat kandungan uap belerang pada udara bebas.
Kesemuanya ini bak menyaru jiwa-jiwa buat memaknainya. Sedikit ‘sentuhan’ biro wisata, pengembangan sarana dan prasarana, akan menyulap daerah ini menjadi sentrum baru kompleks wisata-pendidikan kegunungapian. Di kota Medan berdiri megah institusi pendidikan yang memiliki Jurusan Teknik Geologi (Institut Teknologi Medan/ITM). Kerja sama antara pihak Perguruan Tinggi, masyarakat sekitar Gunung Sorik Marapi dan Pemkab Madina, dapat melahirkan suatu ekologi kerja yang multisektor-sinergis dalam pengembangan daerah Gunung Sorik Marapi.
Material hasil muntahan gunungapi memiliki kandungan kaya akan unsur-unsur kebutuhan tumbuhan. Sehingga daerah disekitar gunungapi potensial dikembangkan sebagai pusat pertanian. Model pengembangan daerah seperti ini terdapat di kota Wonosobo, Jawa Tengah, pada lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Sebagai daerah tangkapan air. Oleh karena kandungan tanah yang subur, maka kaki dan lereng gunungapi biasanya memiliki hutan yang lebat—dalam kasus Sorik Marapi adalah TNBG. Hutan yang lebat ini menjadi daerah tangkapan air (water recharge area) yang baik bagi daerah di sekitarnya. Karenanya, penjagaan terhadap kelestarian hutan di sekitar gunungapi menjadi tak tertawar.
Berikutnya, kandungan beberapa mineral ekonomis dalam suatu kawasan gunungapi. Potensi belerang yang terdapat pada kawah utama Gunung Sorik Marapi, sebelum Perang Dunia II, diperkirakan mencapai 220.000 ton.***
versi lain tulisan ini pernah di muat di Harian Sinar Indonesia Baru
July 4, 2009 at 11:14
Terima kasih uraiannya.
Salam dari penulis buku dari Sumatera Utara:
40 Hari Di Tanah Suci Yang sudah beredar di Nusantara.
Terima kasih sebanyak banyaknya
July 4, 2009 at 11:14
sama-sama. mantap
July 4, 2009 at 11:14
sama-sama. makasih juga udah ngasi info bukunya.