Setelah sekian lama tak pernah menulis, tiba-tiba siang ini aku menulis lagi. Selama ini ketakadaan komputer menjadi alasan bagiku kalau ada teman-teman yang bertanya apakah aku masih menulis atau tidak. “Aku tak punya komputer jadi tulis-menulisnya berhenti,” begitu biasanya aku menjawab kalau ada salah seorang teman yang bertanya. Tetapi, begitu aku memiliki laptop, ternyata tak serta merta aku kembali menulis. Aku menyebutnya sebagai “kehilangan pukulan”. Dunia tulis-menulis memang tampaknya bukan sesuatu yang mudah. Tidak gampang untuk menghasilkan tulisan yang mengalir dan enak dibaca. Aku ambil contoh saja. Salah seorang temanku di kampung, dia seorang sarjana teknik lulusan Teknik Pertambangan salah satu Institut ternama di negeri ini, sekarang ia bekerja di Dinas Pertambangan Propinsi Sumatera Utara. Ketika aku pulang kampung pada saat lebaran kemarin, kami bertemu dan sempat sedikit berdiskusi. Dalam perbincangan itu dia mengaku tidak punya pekerjaan di kantornya, dia hanya datang, kemudian duduk-duduk, dan baca-baca koran. Dia mengaku bingung mau melakukan apa, karena memang di kantornya tak ada pekerjaan. Lalu aku sarankan agar ia rajin menulis di media massa. Mungkin dapat diawalinya di media massa lokal, baru kemudian berfikir yang lebih jauh lagi. Apa jawabnya? Ternyata ia masih bingung dengan tatacara menyitir pendapat orang lain, permasalahan etis atau tak etis dalam mengutip pendapat dan hasil-hasil riset orang lain. Dari perbincangan itu kemudian aku sadar bahwa tak semua orang memang tak bermasalah dengan dunia tulis-menulis. 

Atau pengakuan abangku sendiri. Suatu ketika ia pernah meminta tolong kepadaku agar dibuatakan tulisan tentang community development. Ia mengatakan tema-tema yang ada dalam pikirannya, kemudian memintaku untuk “meramunya” menjadi sebuah tulisan. Ketika kutanya mengapa ia tak melakukannya sendiri? Ternyata jawabannya kurang lebih sama dengan teman yang sarjana teknik pertambangan tadi, “menulis itu sangat susah,” katanya, “menyusun kata-kata untuk menjadi sebuah tulisan dan dapat dimengerti oleh orang lain susahnya bukan main,” sambungnya.  

Aku sendiri rasanya tak begitu kesulitan untuk menuangkan apa yang ada dalam pikiranku ke dalam tulisan. Mungkin aku terbantu dengan tradisi menulis selama lima tahun kuliah di Yogya. Harus kuakui bahwa pengalaman di Yogya selama lima tahun sangat berarti. Terutama dalam hal mengasah skill tulis-menulis ini. Seingatku aku tak pernah mengikuti kursus tulis-menulis, tak pernah mengikuti pelatihan, workshop atau yang sejenisnya. Tetapi memang aku menulis terus sewaktu kuliah, ya artikel, ya esei, ya cerpen, ya catatan harian, ya tugas-tugas kuliah, dan seterusnya. Mungkin intensitas latihan itu yang membuatku merasa tak ada masalah dalam tulis-menulis. Dulu, ketika masih awal-awal di Yogya aku memang pernah membaca pendapat salah seorang penulis, siapa namanya, aku tak ingat lagi dan mungkin tak begitu penting, “menulis itu seperti berenang,” katanya, “sebanyak apapun kita belajar teorinya, kalau kita tak pernah terjun ke kolam maka tetap saja kita tak bisa mengapung di air.” Jadi yang kutangkap dari apa yang dikatakan oleh penulis yang aku kutip pendapatnya di atas itu, sebanyak apapun kita mengikuti pelatihan menulis, kalau kita sendiri tak pernah menulis, maka jangan berharap kita akan “menemukan pukulan” itu.  

Masih seputaran tulis-menulis, aku sendiri berpendapat, sebeanrnya bukan hanya tulis-menulis yang perlu latihan yang intens di dunia ini, tetapi juga semua hal dalam hidup. Sebagai contoh dapat aku ceritakan, beberapa bulan belakangan ini aku berlatih main biola, bersama dua orang kawan yang juga tertarik mendalami biola, kami mengundang seorang guru privat untuk mengajari kami. Berdasarkan bimbingan dan pengarahan dari guru yang kami undang itu, maka kami bertiga pun membeli biola, menyusun jadwal latihan dan mencoba memenuhinya. Sebulan berjalan, intensitasku membuka biola hanya ketika ada pertemuan dengan sang guru itu. Di luar itu hampir boleh disebut aku tak pernah menyentuh biolaku. Apa yang kudapat? Hampir bisa dikatakan nihil. Skill bermain biola benar-benar tak nyantol sama sekali. Nah, ini dia yang aku anggap berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Pada titik tertentu, menulis, bermain biola, dan berenang, ketiganya sama saja. Tanpa latihan yang cukup jangan berharap bahwa kita akan dapat menguasai skillnya. Dan aku pikir hampir semua kegiatan di atas dunia ini pada dasarnya sama saja. Tak jauh berbeda dengan ketiga hal tersebut.  

Dan siang ini aku kembali mencoba untuk menemukan lagi “pukulan yang hilang” itu. Rasanya biasa saja. Tak ada permasalahan. Mungkin tak sesulit ketika mengalai proses belajarnya dulu. Tetapi aku memang belum mencoba untuk tulisan-tulisan yang bersifat formal seperti esei yang akan dipublikasikan. Barangkali memang ada perbedaan. Kalau dalam menulis catatan harian seperti ini, rasanya tak ada masalah. Huruf-huruf seperti berkejaran, dan mencetakkan dirinya sendiri di monitor. Aku tak tahu kalau untuk esei formal itu tadi, mungkin akan sedikit lebih sulit, karena dalam esei-esei formal kita harus berurusan dengan referensi, daftar pustaka, dan aturan-aturan pengutipan. Mungkin itu lebih membutuhkan kesabaran. Atau dalam menulis cerita fiksi. Meski banyak kritikus yang mengatakan bahwa susah membedakan mana bagian yang benar-benar fiksi dan mana bagian yang berakar pada realitas dalam sebuah cerita fiksi, tetapi tampaknya seorang penulis cerita fiksi selalu saja punya cara untuk menghindari aturan-aturan penulisan yang dibutuhkan dalam tulisan esei-esei formal. Seorang penulis fiksi rasa-rasanya dituntut untuk memiliki imajinasi yang tak berbatas. Karena dengan imajinasinya yang tak terbatas itulah dia dapat mengembangkan sebuah cerita, mengemas, kemudian meracik, dan menghidangkan sebuah peristiwa yang dialaminya menjadi sebuah karya fiksi yang enak untuk dibaca.  

Anyway, kalau ku pikir-pikir sebenarnya menjadi penulis fiksi adalah salah satu profesi yang sangat enak, bisa berkantor dimana saja, ya di bandara, di kedai kopi, di rumah, di dapur, bahkan kalau mau, barangkali di dalam wc ketika pagi-pagi baru bangun. Tinggal sedikit agak disiplin dalam mengelola waktu. Membiasakan diri menulis pada jam-jam tertentu, hingga menjadi semacam jam metabolisme, maka semuanya tampaknya akan berjalan lacar. Entahlah.  

Mengenai inspirasi, aku sendiri bukan seorang penganut pendapat bahwa kita harus repot-repot mencari inspirasi. Menurutku apa yang kita alami dalam keseharin, proses kita dalam menjalin interaksi dengan orang lain, keluarga, istri, bahkan anak sekalipun, dapat menjadi bahan cerita yang sangat menarik. Aku sepakat dengan pendapat seorang sastrawan dan kritikus terkemuka di negeri ini yang mengatakan bahwa apa yang kita alami dalam keseharian sebenarnya sudah lebih dari cukup utnuk menjadi bahan cerita, tinggal bagaimana kita meramunya hingga enak untuk dibaca. Jadi persoalan inspirasi ini aku rasa tak ada masalah. Seperti diriku sendiri misalnya, aku dapat bercerita banyak hal tentang apa yang kulakukan dalam keseharian, mulai dari pekerjaanku, detil-detil apa yang kukerjakan, masalah asmaraku sendiri, adat-istiadat yang ada di kampungku, obsesi-obsesiku, orang-orang di sekitarku yang aku kenal, rasa-rasanya itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi bahan bagi cerita-cerita. Permasalahannya hanya terletak pada sekuat apa seorang penulis mengolah apa yang ada di sekelilingnya untuk menjadi sebuah tulisan yang berkarakter. 

Tulisan yang berkarakter? Istilah apa pula itu? Begini maksudku. Kalau misalnya suatu ketika, entah di atas meja, sebagai pembungkus kacang goreng, atau di tong sampah, kita menemukan sobekan koran, katakanlah sebuah esei kebudayaan. Kebetulan sobekan koran tersebut sudah sobek sedemikian rupa sehingga kita tak bisa lagi menemukan nama penulisnya. Karena rasa ketertarikan, atau mungkin karena tak memiliki pekerjaan lain, maka kita begitu saja membaca sobekan kertas tersebut. Dan dari tulisan pada sobekan koran tanpa nama penulis tersebut, kita langsung teringat pada satu nama, pelbagai hal detil dalam tulisan tersebut membuat kita dengan berani dan sangat yakin mengatakan bahwa ini adalah tulisan si Anu. Kita dapat mengenalinya dari bagian-bagian tertentu yang ada dalam tulisan itu. Itulah yang aku maksud dengan tulisan berkarakter.  Pendek kata, sebuah tulisan berkarakter kira-kira sebuah tulisan yang membuat pembacanya tahu itu tulisan siapa, tanpa ada informasi nama penulisnya. 

Tak mudah membuat tulisan seperti itu. Banyak penulis-penulis pemula terobsesi untuk menghasilkan tulisan berkarakter. Hingga tak jarang mereka melakukan pelbagai eksperimen dalam tulis-menulis. Tetapi, ironisnya, tak banyak yang berhasil. Tak jarang para penulis muda terjebak dalam sebuah tradisi menulis yang berlebihan, berbusa-busa, tak efisien, dan malah tak enak dibaca. Begitulah. Ternyata menulis itu tak gampang, dan sebaliknya bisa jadi ia tak sesusah yang kita duga.  

Sengata, 9 November 2007.