Beberapa waktu yang lalu, laman ini ‘geger’ dengan hadirnya tulisan saudara Muhammad Syihabuddin yang berjudul: ‘Tukulisme dan Pendangkalan Ruang Publik’. Dalam ingatan saya yang pelupa, ini merupakan tulisan yang paling banyak ditanggapi oleh pengunjung blog lafadl. Dan tulisan ini sendiri, lepas dari pro maupun kontra terhadap tulisan itu, hendak melanjutkan diskusi tentang fenomena acara Empat Mata-nya Tukul. (Lebih jauh tentang Tukul, klik di sini). Dengan sendirinya, tulisan ini akan (berusaha) pumpun pada, dan dipersembahkan untuk acara tersebut.
Apologia saya: seperti mungkin yang sudah diketahui oleh beberapa budiwati/man pembaca, lapangan yang saya geluti adalah ilmu kebumian. Karenanya andaikata nanti ada perihal yang tak sesuai, terlalu dangkal, dan tak jelas menurut kategori budiwati/man dalam tulisan saya ini, dengan tangan terbuka dan hati yang tulus ikhlas, saya menyilakan anda, kalau bisa, jangan hanya berperan serta, tetapi berperan kunci dalam perayaan kelucuan ini.
Satu hal yang mengganjal dalam benak saya adalah bagian terakhir tulisan saudara Muhammad Syihabuddin yang intinya menyatakan bahwa tayangan Empat Mata-nya Tukul ‘mendegradasi selera humor kita.’ Tampaknya perlu diperjelas kita dalam hal ini siapa, karena humor memiliki keterikatan spasial dan temporal.
Spasial. Sebuah humor yang bagi seseorang yang berlatar belakang budaya Jawa, belum tentu lucu bagi seseorang yang berlatar belakang Manado, Batak, Asmat, dan seterusnya. Hal ini membuat saya teringat pengalaman beberapa tahun yang lalu. Begini ceritanya:
Dulu, sebelum saya bergaul dengan kawan-kawan orang Jawa, saya jarang menonton acara humor di televisi, selain mungkin karena tidak terlalu betah menonton televisi, juga karena pada waktu itu saya sama sekali tak dapat menemukan kelucuan dalam acara-acara humor tersebut. Acara-acara humor di televisi tersebut seolah-olah asing, tak jelas apa yang menarik dan lucu di situ, dan maaf: sebagian besar acara-acara itu memang mungkin hanya ditujukan bagi penonton orang Jawa. Begitu pada waktu itu.
Belakangan ini, setelah beberapa tahun tinggal di Yogyakarta, secara peralahan saya mulai menonton acara-acara humor di televisi. Pada mulanya mungkin ikut-ikutan teman nonton Ngelaba. Kemudian lama-lama dapat menikmatinya sampai terpingkal-pingkal. Dan yang terakhir tentunya acara Empat Mata-nya Tukul itu yang juga sering saya tonton. Menjadi jelas bahwa humor—dan dengan demikian selera humor seseorang—bukanlah sesuatu yang tercurah begitu saja dari langit, tetapi ia berhubungan erat dengan konteksnya. Konteks yang saya maksud di sini adalah lingkungan seseorang.
Berikutnya humor memiliki keterikatan temporal. Jelas. Humor seratus tahun yang lalu, belum tentu lucu di masa sekarang. Dan tak ada juga yang dapat menjamin bahwa masyarakat di sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang masih menyenangi acara humor seperti Empat Mata-nya Tukul.

Satu hal yang agak krusial dari adanya pandangan terjadinya degradasi estetika akibat tayangan Empat Mata-nya Tukul adalah bahwa ini berarti membuka jalan ke perdebatan panjang mengenai seni ‘adiluhung’ dan ‘tak adiluhung’. Dan dengan dibukanya guagarba ini, secara otomatis humor diterima menjadi bagian dari keluarga besar seni. Saya sendiri adalah orang yang berpegang teguh pada anggapan bahwa pekerjaan mengliping koran, merawat taman, mengepel lantai, para petani yang mengolah sawah, membuat sketsa lapangan dalam pemetaan geologi, adalah kegiatan-kegiatan yang memiliki cita-rasa seni yang tinggi. Tak ada masalah terhadap penerimaan humor sebagai bagian dari keluarga besar seni.
Barangkali dalam hal ini bolehlah kita belajar dari pengalaman para pesastra yang pernah terjebak dalam perdebatan antara ‘sastra’ dan yang ‘bukan sastra’. Atau agar lebih spesifik, perdebatan ‘sastra kontekstual’ yang dibuka oleh Arief Budiman pada dasawarsa 80-an. Satyagraha Hoerip adalah seseorang yang menghabiskan banyak waktu untuk menelusuri perdebatan itu. Dan ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa merumuskan jawaban atas perdebatan itu bukan buatan susahnya, meski tentunya bukan mustahil, dan ini terlebih-lebih karena adanya kesalahan pada diri pertanyaan/perdebatan tentang ‘sastra’ dan ‘bukan sastra’ itu sendiri (tentang sumber saya atas informasi ini silakan dilacak sendiri saja kalau memang tertarik). Dengan demikian, dalam lanskap yang lebih terbentang, perdebatan mengenai ‘budaya massa’ dan ‘budaya tinggi’ sampailah pada sebuah penghujung: buntu. Karena memang mungkin perdebatan seperti itu sama sekali tak kita butuhkan untuk mengapresiasi karya seni. Karena dalam mengapresiasi karya seni, kita hanya butuh diri kita sendiri dan lingkungan. Karena dalam diri manusia sudah tersedia ruang untuk mengapresiasi karya seni.
Kembali ke leptop.
Tukul yang sudah menyium entah berapa orang perempuan cantik, halus kulitnya, wangi, gemulai, dan terawat khas perempuan kaya yang menjadi bintang tamu-bintang tamu di acara Empat Mata-nya—dan untuk ini terus terang saya iri sekaligus salut kepada Tukul dengan ke-PD-annya—, dari ‘gocekan-gocekan’ yang dibawakannya terasa sekali kadang-kadang memang diluar kebiasaan, lain, menabrak, liar, agak saru, sentil sana, sentil sini, dan lucu pol. Pada saat para pejuang gender kelabakan dengan pelbagai ‘bias gender’ dalam masyarakat kita, Tukul (dan Empat Mata-nya) dengan raut muka yang sedikitpun tak menunjukkan rasa berdosa, seringkali mengeksploitasi permasalahan ini menjadi arang yang menafasi acaranya.
Dalam sebuah percakapan dengan salah seorang kolega saya, sebut saja namanya Jot Bus, ia agak keberatan ketika saya mengatakan bahwa pacar teman kami, sebut saja namanya Toni Blayer, tidak cantik. “Jangan menilai orang dari fisiknya,” kata Jot Bus kepada saya ketika saya mengomentari pacar si Toni Blayer itu. Sebaliknya dengan Tukul dan Empat Mata-nya, justru malah banyak mengambil bahan dari wilayah ini. Wajah yang ndeso, katrok, ngisin-ngisin, sangunya buanyak banget—dalam ingatan saya yang pelupa ini—adalah kata-kata yang kita dengar dalam acara humor yang ditayangkan di Trans 7 tersebut.
Berdasarkan fenomena itu, maka rasa-rasanya perlulah kita melihat Tukul dan Empat Mata-nya dengan cara yang berbeda. Mungkin tidak pas kalau menilai Tukul dan Empat Mata-nya dengan segudang teori-teori komunikasi, ruang publik, dan seterusnya. Karena—meski saya belum melakukan riset yang serius dengan metodolgi yang ketat dan terjaga—Tukul dan Empat Mata-nya bukan terlahir dari sebuah perdebatan konsepsional tentang itu semua. Tukul dan Empat Mata-nya terlahir karena ia mengilhami pekerjaannya sebagai pelawak. Sebagai pelawak ia berhasil menangkap semangat zaman dan selera humor yang ada dalam masyarakat sehingga acaranya memiliki rating yang tinggi. Humor Tukul adalah humor yang khas, beda, tak biasa, dan yang terpenting: disenangi orang banyak. Humor Tukul adalah humor yang terlahir dari kenyataan, berpijak di realitas, menubuh dalam dirinya, sehingga kita semakin sulit membedakan mana yang Tukul mana yang humor. Karena jangan-jangan Tukul adalah humor itu sendiri. Tukul atawa humor? Humor atawa Tukul? Mana yang lebih dahulu? Kira-kira begitu.
Dengan analogi yang agak serampangan dapat dikatakan bahwa keunggulan Tukul inilah yang, untuk sementara waktu, tak dimiliki oleh banyak kalangan di antara kita. Sastra, boleh dikata terpisah dari publiknya. Sehingga proses bersastra bagi para pesastra bukan lagi proses kreatif yang bersatu dengan lingkungannya, tetapi kegiatan bersastra menjadi kegiatan pengalineasian para pesastra itu sendiri dari lingkungannya. Para politikus tercerabut dari konstituen yang memilihnya, karena ia sibuk dengan dirinya sendiri dan kelompoknya. Para pegiat LSM tercerabut dari akar massa yang diperjuangkannya, karena lagi-lagi, ia sibuk sendiri dengan sekian item konsepsi yang entah datang dari mana dan berharap dapat mengintrodusir konsepsi yang entah datang darimana itu ke tengah-tengah masyarakat. Para intelektual (termasuk dosen?) sibuk dengan diktat-diktat dan buku-buku teks yang sebagian besar ia dapatkan dari lembaga pendidikan yang sepenuhnya dikulak entah darimana. Orang-orang ini menjadi terasing di tengah-tengah lingkungannya.
Kembali ke leptop.
Sebagai penutup, saya pernah mendengar ucapan (lagi-lagi) dari seorang kolega, sebut saja namanya Bukan Jot Bus, “apresiasi yang baik itu adalah apresiasi yang mendorong dan kritis”. Maka dalam mengapresiasi Tukul dan Empat Mata-nya, agar tulisan ini menjadi apresiasi yang baik, atau minimal penulisnya punya niat begitu, sesuai dengan kategori yang dikatakan oleh si Bukan Jot Bus tadi, maka perlu ditutup dengan sebuah kritik. Sebenarnya tidak murni kritik saya. Saya sering tak kuat membayangkan andaikan Pak Tua tetangga saya di kampung yang baru pulang haji menonton acara Empat Mata-nya Tukul, mungkin ia akan berkomentar, “Acara ini tak sopan. Berciuman di televisi dengan orang yang bukan istrinya. Dan bla.bla..bla..” Tetapi…, zaman sudah begini tua Pak Tua, siapa yang peduli dengan tak sopan?

tulisan ini pernah dimuat di sini:

http://lafadl.wordpress.com/2007/03/11/tukul-atawa-humor-humor-atawa-tukul/