Perempuan dan laki-laki sering dimaknai sebagai sebuah dualitas. Sebagai dualitas, kedua agen; perempuan dan laki-laki; sering berada dalam posisi yang berhadap-hadapan, dengan laki-laki sebagai pihak yang dominan. Ataupun kalau tidak berhadapan, dalam pelbagai kejadian di tengah-tengah masyarakat, perempuan sering berada dalam posisi yang tak diuntungkan dibandingkan dengan laki-laki. Perdebatan tentang pemimpin perempuan di kalangan Islam misalnya, atau tidak bolehnya perempuan mengimami laki-laki dalam melakukan sembahyang, hanyalah salah dua contoh saja bagaimana lemahnya posisi perempuan dalam masyarakat Islam.

Secara kualitatif barangkali belum tentu seorang laki-laki lebih unggul dari perempuan dalam sebuah bidang, atau bahkan bisa jadi sebaliknya, perempuanlah yang lebih hebat dari laki-laki. Tetapi cara pandang dalam masyarakat yang sudah mengakar bahwa perempuan adalah makhluk yang lebih rendah derajatnya dari laki-laki menyebabkan tertutupnya pelbagai kesempatan bagi kaum perempuan.

(more…)

Mungkin anda bertanya-tanya ketika membaca judul tulisan ini. Provinsi mud volcano? Apa pula itu? Sejak kapan ada provinsi berdasarkan bentang/struktur alam seperti itu? Bukankah biasanya pembagian provinsi itu selalu terikat dengan nama pulau, misalnya di Pulau Sumatra ada Provinsi Sumatra Selatan, Sumatra Utara, dsb, atau di Pulau Jawa ada Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dsb? Lalu? Provinsi mud volcano, apakah ada juga gubernurnya? Terdiri dari kabupaten-kabupaten jugakah? Saya jamin, semua pertanyaan di atas akan terjawab kalau anda membaca tulisan ini, tentu saja, hingga habis.

Mud diapir dan mud volcano adalah struktur yang menembus (piercement structure) dalam rangka melepaskan tekanan yang berlebihan (overpressured) pada material sedimen. Stuktur ini bermula dari lapisan sedimen di bagian bawah dan menembus lapisan sedimen di atasnya hingga sampai ke permukaan karena adanya perbedaan tekanan yang besar dan efek mengapung akibat perbedaan berat jenis (buoyancy).

Secara substansial mud diapir dan mud volcano pada prinsipnya sama saja. Mud Diapir diartikan sebagai intrusi oleh massa yang relatif lebih mobile terhadap strata yang sudah ada sebelumnya akibat adanya buoyancy dan perbedaan tekanan, dan ketika massa yang mengintrusi mencapai permukaan, maka ia berubah nama menjadi mud volcano. Mengikuti; diapir muncul dalam bentuk intrusif dan secara perlahan, sedangkan mud volcano muncul dalam bentuk ekstrusif dan cenderung cepat. Diapirisme, dengan material berupa undercompacted mud atau shale, biasanya berlangsung dalam bentuk intrusi vertikal terhadap batuan yang memiliki berat jenis lebih besar di atasnya pada sepanjang rekahan atau zona yang lemah secara struktur geologi.

Mud volcano telah lama menarik perhatian para geologist dan menjadi objek studi. Di Indonesia, perhatian masyarakat terhadap mud volcano mendapatkan porsi yang sangat besar sejak meletusnya Lusi mud volcano di Sidoarjo, Jawa Timur. Perhatian masyarakat tersedot terutama karena luasnya dampak yang ditimbulkan oleh letusan mud volcano terhadap kehidupan manusia dan lingkungan. Selain itu, kalangan pakar kebumian yang terbelah pendapatnya ke dua pihak tentang pemicu meletusnya Lusi mud volcano, semakin membuat perhatian besar tersedot kepada hal ini. Di satu pihak, ada pakar kebumian baik di tingkatan nasional dan internasional yang sepakat bahwa Lusi mud vocalno dipicu oleh aktivitas pemboran pada sumur Banjar Panji-1 (BJP-1), dan di pihak lain ada kalangan dalam pakar kebumian yang berpendapat bahwa Lusi mud volcano meletus karena dipicu oleh Gempabumi Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006, atau dua hari sebelum Lusi mud volcano meletus.

(more…)

Pada 19 April 2009 yang lalu harian KOMPAS pada halaman 1 memuat foto Presiden Venezuela, Hugo Chavez, mau berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, di Forum Negara-Negara Amerika yang berlangsung di Trinidad dan Tobago. Chavez adalah simbol kebangkitan faham neososialisme di Amerika Latin pada dekade belakangan ini. Obama adalah pemimpin baru AS yang menjanjikan akan menampilkan wajah yang lebih ramah bagi dunia. Foto tersebut semakin terasa simbolis karena terlihat bahasa tubuh Chavez yang hangat bersahabat, tangan terjulur siap bersalaman, tetapi dengan tatapan menggugat yang langsung menghujam ke arah mata Obama. Sementara itu, Obama terlihat gamang menatap ke arah buku yang berjudul Las venas abiertas de America Latina, yang dalam kesempatan itu diberikan Chavez kepada Obama (foto 1).

Foto yang dipajang dimana2 ketika obama dan chavez salaman. dicopy dari KOMPAS

Foto yang dipajang dimana2 ketika obama dan chavez salaman. dicopy dari KOMPAS

Ada dua kemungkinan mengapa Obama menunduk melihat ke arah buku itu. Pertama, mungkin saja Obama belum mengetahui dan sangat tertarik dengan buku yang akan diberikan oleh Chavez tersebut kepadanya, atau kedua, bisa jadi Obama sudah mengetahui buku tersebut sebelumnya, dan karenanya ia tak kuasa menatap mata Chavez secara langsung. Tampaknya yang paling memungkinkan adalah pilihan kedua, sebab tidak masuk akal rasanya orang sekelas Obama tidak tahu keberadaan salah satu buku yang paling berpengaruh di kawasan Amerika Latin tersebut. Apa sebenarnya isi buku itu?

Las venas abiertas de America Latina yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Open Veins of Latin America: Five Centuries of the Pillage of a Continent (Menguak Tabir-tabir Amerika Latin: Lima Abad Perampasan Sebuah Benua), adalah buku pertama jurnalis Uruguay, Eduardo Galeano. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1971 dalam bahasa aslinya, dan kemudian pada tahun 1998 diterbitkan dalam Bahasa Inggris dengan kata pengantar singkat dari sastrawati Chile, Isabel Allende.

(more…)

Baru-baru ini (Maret 2009), di Marine and Petroleum Geology muncul sebuah makalah tentang Lusi mud volcano berjudul Modelling study of growth and potential geohazard for LUSI mud volcano: East Java, Indonesia (Article in Press) yang ditulis oleh Bambang P. Istadi, Gatot H. Pramono, Prihadi Sumintadireja dan Syamsu Alam. Tahun yang lalu di konferensi tahunan IAGI yang ke-37 juga muncul makalah yang berjudul Sangiran Dome, Central Java: Mud Volcanoes Eruption, Demise of Homo erectus erectus and Migration of Later Hominid yang ditulis oleh Awang H.S. Terima kasih buat penulisnya atas kiriman makalah yang kedua.

Kedua makalah ini sebenarnya ditulis tidak dengan maksud untuk menjelaskan mekanisme terjadinya Lusi mud volcano, kalaupun dalam makalah pertama disinggung tentang hal tersebut, bukan itu yang menjadi gol utamanya.

Kedua makalah ini menjadi menarik karena kelahirannya dipicu oleh dua peristiwa yang sama, yaitu Lusi Mud volcano. Semakin menarik karena kedua makalah ini memakai objek studi yang sama, yaitu mud volcano, untuk mempelajari sesuatu yang terjadi bukan pada masa sekarang. Kalau pada makalah pertama yang dijelaskan adalah kondisi ke depan, modelling beberapa tahun yang akan datang dan pengaruhnya bagi kehidupan manusia dan lingkungan, maka makalah kedua menampilkan sebuah rekonstruksi masa lalu berupa dugaan bahwa kemungkinan Homo erectus ngandongensis/soloensis tidak berkembang di daerah Sangiran tetapi bermigrasi ke arah hilir sungai Solo, persisnya di daearah Sambungmacan, Trinil, Ngawi, dan Ngandong, di mana mereka tinggal sampai akhir Pleitosen (0.05 juta yhl) karena erupsi gununglumpur Sangiran. Mari kita lihat.

Makalah pertama dibuka dengan kondisi aktual Lusi pada saat makalah itu ditulis (Agustus 2008), meliputi lokasi Lusi dan posisinya terhadap sumur BJP-1, laju material erupsi yang dihasilkan dan perdebatan yang masih berjalan seputar mekanisme pemicu (gambar 1). Tentang hal terakhir makalah ini memberikan penekanan mengenai asumsi yang berkembang di kalangan masyarakat luas bahwa Lusi mud volcano dipicu oleh underground blowout yang terjadi di sumur BJP-1. Akan tetapi belakangan, setelah data lapangan dan analisis tekanan pada sumur BJP-1 diintegrasikan dan dianalisis, maka erupsi Lusi mud volcano tidak berhubungan dengan sumur BJP-1. Alasan kunci yang ditampilkan yang menunjang pendapat di atas adalah, pertama, tekanan fluida dalam sumur terlalu kecil untuk merekahkan dinding. Kedua, tidak ada tekanan yang menerus dalam sumur yang mempropagasikan rekahan hingga mencapai permukaan, karena blowout preventor dalam keadaan terbuka. Ketiga, sumur dalam keadaan total terbuka pada saat terjadinya letusan Lusi dengan debit 50.000 m3 hari-1, pada jarak sekira 200 m dari sumur. Karena itu, maka hal yang paling memungkinkan sebagai pemicu letusan Lusi mud volcano adalah reaktivasi sistem sesar Watukosek, kalau ini yang terjadi, maka letusan Lusi tidak dapat dihentikan dan bisa jadi akan kontinu sampai beberapa dekade.

peta Lusi dan patahan watukosek (dari Istadi dkk, 2009)

gambar 1: peta Lusi dan patahan watukosek (dari Istadi dkk, 2009)

 

 

 

(more…)

Next Page »