Baru-baru ini (Maret 2009), di Marine and Petroleum Geology muncul sebuah makalah tentang Lusi mud volcano berjudul Modelling study of growth and potential geohazard for LUSI mud volcano: East Java, Indonesia (Article in Press) yang ditulis oleh Bambang P. Istadi, Gatot H. Pramono, Prihadi Sumintadireja dan Syamsu Alam. Tahun yang lalu di konferensi tahunan IAGI yang ke-37 juga muncul makalah yang berjudul Sangiran Dome, Central Java: Mud Volcanoes Eruption, Demise of Homo erectus erectus and Migration of Later Hominid yang ditulis oleh Awang H.S. Terima kasih buat penulisnya atas kiriman makalah yang kedua.
Kedua makalah ini sebenarnya ditulis tidak dengan maksud untuk menjelaskan mekanisme terjadinya Lusi mud volcano, kalaupun dalam makalah pertama disinggung tentang hal tersebut, bukan itu yang menjadi gol utamanya.
Kedua makalah ini menjadi menarik karena kelahirannya dipicu oleh dua peristiwa yang sama, yaitu Lusi Mud volcano. Semakin menarik karena kedua makalah ini memakai objek studi yang sama, yaitu mud volcano, untuk mempelajari sesuatu yang terjadi bukan pada masa sekarang. Kalau pada makalah pertama yang dijelaskan adalah kondisi ke depan, modelling beberapa tahun yang akan datang dan pengaruhnya bagi kehidupan manusia dan lingkungan, maka makalah kedua menampilkan sebuah rekonstruksi masa lalu berupa dugaan bahwa kemungkinan Homo erectus ngandongensis/soloensis tidak berkembang di daerah Sangiran tetapi bermigrasi ke arah hilir sungai Solo, persisnya di daearah Sambungmacan, Trinil, Ngawi, dan Ngandong, di mana mereka tinggal sampai akhir Pleitosen (0.05 juta yhl) karena erupsi gununglumpur Sangiran. Mari kita lihat.
Makalah pertama dibuka dengan kondisi aktual Lusi pada saat makalah itu ditulis (Agustus 2008), meliputi lokasi Lusi dan posisinya terhadap sumur BJP-1, laju material erupsi yang dihasilkan dan perdebatan yang masih berjalan seputar mekanisme pemicu (gambar 1). Tentang hal terakhir makalah ini memberikan penekanan mengenai asumsi yang berkembang di kalangan masyarakat luas bahwa Lusi mud volcano dipicu oleh underground blowout yang terjadi di sumur BJP-1. Akan tetapi belakangan, setelah data lapangan dan analisis tekanan pada sumur BJP-1 diintegrasikan dan dianalisis, maka erupsi Lusi mud volcano tidak berhubungan dengan sumur BJP-1. Alasan kunci yang ditampilkan yang menunjang pendapat di atas adalah, pertama, tekanan fluida dalam sumur terlalu kecil untuk merekahkan dinding. Kedua, tidak ada tekanan yang menerus dalam sumur yang mempropagasikan rekahan hingga mencapai permukaan, karena blowout preventor dalam keadaan terbuka. Ketiga, sumur dalam keadaan total terbuka pada saat terjadinya letusan Lusi dengan debit 50.000 m3 hari-1, pada jarak sekira 200 m dari sumur. Karena itu, maka hal yang paling memungkinkan sebagai pemicu letusan Lusi mud volcano adalah reaktivasi sistem sesar Watukosek, kalau ini yang terjadi, maka letusan Lusi tidak dapat dihentikan dan bisa jadi akan kontinu sampai beberapa dekade.

gambar 1: peta Lusi dan patahan watukosek (dari Istadi dkk, 2009)
(more…)