Ditulis untuk menjadi prolog pada buku kumpulan cerpen Mandailing: Manjalai Bisuk Na Peto. Bagi yang tertarik ingin membaca dan memiliki buku ini silahkan kontak Bang Edi Nasution: edi.nasution(at)gmail.com.

***

Akhirnya, setelah lama tertunda, saya memulai juga menulis pengantar untuk kumpulan cerita pendek (cerpen) berbahasa Mandailing ini. Ada sebanyak 58 cerpen karya 6 orang pengarang Mandailing yang mereka beri nama Folklore Mandailing Kontemporer. Saya sendiri, memutuskan menulis pengantar ini dalam Bahasa Indonesia karena dua alasan. Pertama, secara personal, saya merasa lebih nyaman menulis dalam Bahasa Indonesia, lingkungan yang telah membesarkan tradisi literer saya. Kedua, tampaknya ke depan buku ini bukan hanya akan menjadi buku cerita, dibaca, tertawa dan selesai, tetapi juga akan menjadi salah satu teks rujukan bagi orang di luar Mandailing yang ingin memahami Mandailing, seperti yang akan kita lihat nanti. Dan pengantar ini akan menemukan fungsinya: menjadi penghubung bagi orang luar yang ingin belajar tentang Mandailing melalui buku ini.

Lantas, apa guna menulis cerita dalam Bahasa Mandailing ketika dunia menuju ke satu arah diringkus oleh teknologi informasi dan komunikasi di satu sisi, dan dijembatani oleh Bahasa Inggris di sisi yang lain? Justru di situlah relevansi utama buku ini. Ia memiliki dua fungsi, ke dalam dan keluar sekaligus. Ke dalam ia akan berguna bagi orang seperti saya, yang mencoba mengenal Mandailing lebih jauh melalui karya sastra. Tentu saja bukan sebagai wahana konservasi budaya yang secara gagap sering terjebak pada nostalgia dan cara pandang eksotisme khas orientalis, tetapi lebih kepada sebuah palka pencapaian. Konsekuensi lebih jauh adalah kita, para pembaca, terhindar dari arus penyeragaman budaya yang secara masif dan menyedihkan menempatkan etnisitas dalam wilayah yang tak proporsional—untuk tidak menyebutkan marjinal. Ke luar, ia akan berguna sebagai salah satu titian bagi orang yang mencoba memahami Mandailing.

Cover buku Manjalai Bisuk Na Peto

Membaca ke-58 cerpen ini adalah sebuah perjalanan untuk mengenal Mandailing lebih dekat. Meskipun saya dilahirkan dan dibesarkan di Tanah Mandailing, akan tetapi, saya percaya—dan memang begitu—bahwa masih banyak detil-detil budaya Mandailing yang belum saya ketahui. Tidak saya ketahui bukan berarti saya tidak mengenalinya, karena ketika salah satu cerpen dalam buku ini menyebutkan sesuatu yang baru bagi saya, saya langsung merasa akrab dengan hal tersebut. Saya percaya ini bisa terjadi karena apa yang tertera dalam buku ini adalah orisinil Mandailing, dengan demikian, tanpa proses perkenalan pun, saya langsung bisa mengerti dan berseru, “aha…ini dia nih“. Saya tak perlu repot-repot memahaminya, karena apa yang diperbincangkan dalam buku ini sudah ada tersedia dalam referensi budaya personal saya.

Sementara itu, sastra, meskipun merupakan hasil imajinasi, pada dasarnya adalah abstraksi dari realitas yang ada. Seorang pengarang memungut kecil demi kecil pengalamannya, diolah, dan kemudian disulam dalam bentuk karya di hadapan pembaca. Dalam proses memunguti dan menyulam itu, tentu saja ada proses penyortiran dan inovasi. Ada kalanya sebuah fakta yang pernah terjadi dalam kehidupan nyata yang, dengan berbagai alasan tertentu misalnya kelogisan alur cerita (atau justru ketidaksabaran pengarang membangun alur?), tidak dimasukkan ke dalam sebuah karya. Proses yang ini kita sebut penyortiran. Sebaliknya, sekali waktu seorang pengarang, laiknya engineer, melakukan inovasi. Bisa jadi inovasi secara total dari akar kejadian pengalaman pengarang yang ada dalam realitas menghasilkan sesuatu yang sama sekali baru, atau juga inovasi sebagian dengan masih menyisakan realitas yang terlacak akarnya di dunia nyata dalam hasil akhir mereka berupa karya.

(more…)

Pernahkah anda mendengar dimana atau membaca di warung makan mana gitu menu telur bakar? Hmmm…, telur bakar? Kalau terlur mata sapi, telor ceplok, atau telor dadar dapat dipastikan bahwa anda sudah sangat akrab dengan itu. Atau juga telur rebus dan telur asin, sudah pasti anda kenal. Tapi telur bakar?

Tidak mudah membakar telur. Pertimbangannya tentu saja berada pada dua ekstrim: di satu sisi memastikan bahwa telur matang, dan di sisi yang lain menjaga agar telur jangan sampai mbledosh (meledak). Karena kalau api yang anda gunakan untuk membakar telur terlalu besar, maka dipastikan telur akan meledak, dan gagallah menu telur bekar yang anda rencanakan. Tulisan ini akan berjuang untuk menjelaskan bagaimana cara membakar telur. Dan perlu diketahui, teknik membakar telur ini saya lihat di salah satu Desa di sebelah timur tanggul Lumpur Lapindo, Porong. Ternyata para peternak bebek di sana sudah sejak lama mempraktikkan teknik membakar telur ini.

DSCF5824

membakar jerami

Langkah pertama adalah mengumpulkan setumpuk jerami kering dan membakarnya. Pada tahap ini anda tidak perlu memasukkan telur dulu, karena yang anda butuhkan adalah jerami yang sudah terbakar, tetapi masih menyisakan bara api pada tangkai dan daun-daun padi. Kalau anda memasukkan telur sewaktu jerami kering masih mengeluarkan lidah api, maka dapat dipastikan telur bebek akan mbledosh.

Setelah jerami terbakar dan menyisakan bara api, dengan menggunakan alat bantu, misalnya sepotong kayu, silahkan anda tata sedemikian rupa bara-bara itu. Cara yang paling bagus sepertinya adalah dengan menata jerami sehingga membentuk cekungan: di tengah rendah dan di pinggir-pinggirnya tinggi. Jangan lupa sisihkan sebagian jerami yang masih membara ke pinggir. Jerami yang disisihkan ini nantinya akan berguna untuk menutupi telur. Bentuk cekungan ini akan menjaga telur yang akan anda bakar tidak bergulir keluar dari bara jerami. Setelah bentuk cekungan ini anda dapatkan, maka silahkan tata telur-telur yang akan anda bakar di dalam jerami tersebut. Sebaiknya disusun satu lapis saja, jangan dibuat bertingkat. Hal terakhir ini untuk memastikan bahwa telur yang anda bakar benar-benar matang, mengingat sumber panas yang digunakan hanyalah bara jerami, bukan nyala api. Kalau telur disusun secara bertingkat, dikhawatirkan akan ada telur yang tidak matang. (more…)

Jakarta – Pada hari Rabu, tanggal 7 Oktober 2009 melalui SMS beredar kabar di kalangan penduduk beberapa desa di Kecamatan Porong bahwa akan terjadi sebuah gempa bumi yang getarannya akan sampai di Porong. Beberapa orang warga langsung panik karena memikirkan kampung mereka akan tenggelam oleh lumpur. Murid di beberapa sekolah dipulangkan lebih cepat dari biasanya.

Besar kemungkinan peredaran SMS tersebut dipicu oleh pesan Gubernur Jawa Timur (Jatim), Soekarwo, beberapa hari sebelumnya untuk meningkatkan kewaspadaan warga terhadap bencana gempa bumi. Tulisan ini akan membahas isu tersebut dari sudut pandang ilmu kebumian. Meliputi kemungkinan terjadinya gempa bumi dan kondisi Jatim, terutama Porong, untuk mengetahui dampaknya.

(more…)

Judul buku     : Di Bawah Bendera Asing: Liberalisasi Industri Migas di Indonesiadi bawah bendera asing

Penulis            : M Kholid Syeirazi

Tebal               : xxi + 328 halaman

Harga              : Rp 83.000

Penerbit          : Pustaka LP3ES Indonesia

Tahun Terbit  : 2009

Jika kampanye pemilihan presiden yang baru saja usai telah sukses memopulerkan kata neoliberalisme dan ranah perdebatannya yang bersifat konseptual, maka buku ini sukses menghadirkan neoliberalisme dalam wilayah yang lebih konkret dengan memotret secara gamblang bagaimana ia beroperasi melalui UU Migas No 22 Tahun 2001, bagaimana konfigurasi kesejarahannya, siapa-siapa saja aktor yang terlibat di dalamnya, dan pada akhirnya kerugian seperti apa yang ditimbulkan bagi sebuah bangsa dan rakyat secara keseluruhan.

Sektor migas adalah sektor yang aneh. Pengalaman bangsa-bangsa Amerika Latin seperti dicatat oleh Eduardo Galeano dalam Open Veins of Latin America: Five Centuries of the Pillage of a Continent (1997) menunjukkan hal tersebut. Harga minyak dimanipulasi sedemikian rupa dalam skala internasional agar tetap dapat mempertahankan pajak yang murah, sementara industri hilir semakin mahal hitungannya. Dalam bisnis ini, negara-negara kaya sebagai importir minyak mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan negara-negara miskin di Amerika Latin sebagai produsen. Perbandingannya hampir tidak masuk akal, 10 berbanding 1. Artinya, untuk setiap 11 dollar AS, negara produsen hanya mendapatkan total 1 dollar AS saja untuk pajak dan biaya ekstraksi, sementara negara maju yang menjadi pusat perusahaan-perusahaan raksasa menikmati 10 dollar AS yang lainnya melalui bisnis transportasi, pengilangan, pemurnian, penyimpanan, dan distribusi.

(more…)

Tulisan ini disampaikan pada acara Studium General Rapat Kerja Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Gadjah Mada dengan tema Revitalisasi Kebudayaan Indonesia dalam Menjawab Tantangan Globalisasi di Wisma Merapi Indah, Kali Urang, Yogyakarta, Minggu, 5 Juli 2009.

Selamat membaca….

***

Hatta, ketika masih ada Tembok Berlin, dunia ini begitu mudah diidentifikasi. Ada penanda dan batasan yang jelas antara Blok Barat dan Blok Timur. Kalau anda adalah seorang kepala negara waktu itu, maka pertimbangan tidak banyak. Tinggal pilih: Barat atau Timur atau non. Kalangan Sosialis di Blok Timur tampaknya ingin menjadikan semua orang sebagai produsen, dan sebaliknya, kalangan Kapitalis di Blok Barat ingin menjadikan semua orang sebagai konsumen.

Akan tetapi permasalahan mengemuka manakala Tembok Berlin runtuh dan perang dingin telah usai. Para ilmuwan kerepotan untuk mendefinisikan apa yang sedang terjadi di dunia. Atau paling tidak, mereka kehilangan pegangan paradigmatik dalam menganalisis semua fenomena yang terjadi. Dan orang kemudian menemukan terma globalisasi.[i]

Kalau pada bagian sebelumnya modernisasi telah sukses membonsai institusi-institusi pendidikan menjadi fabrik tenaga kerja belaka dan juga membuat orang-orang kota terasing dalam dunia yang ramai, merasa kesepian, hanya menjadi skrup dari industri, maka pada era globalisasi tampaknya modus seperti ini terus berlanjut. Lebih jauh, penetrasinya telah sampai ke komunitas-komunitas lokal di banyak tempat. Masyarakat lokal dibuat menjadi terasing dari semua sumberdaya yang ada di wilayahnya. Melalui industri, kekuasaan direnggut dari tangan komunitas lokal, berpindah tersentral ke tangan pemerintah, dan selanjutnya berpindah ke tangan korporasi melalui skema privatisasi.[ii]

(more…)

Next Page »